Astagfirullah… sungguh sangat memalukan diri ini. Hanya karena rasa lelah, aku berhenti dari berharap padaMu Ya Illahi Robbi…  aku lelah untuk memulai kembali, aku pasrahkan saja apa yang terjadi padaku kepadaMu Ya Illahi Robbi. Tapi disaat bersamaan aku harus kembali menemui pilihan-pilihan yang membuatku mau tidak mau menguras kembali perasaanku. Aku lelah tapi aku juga tak boleh menyerah dan melupakan aku hanya aktor dari skenario Allah yang Maha Cinta. Lalu apa hanya dengan pilihan-pilihan ini aku jadi lupa siapa aku dan siapa yang mengatur semuaNya untukku.

Ya Illahi Robbi  sungguh jujur aku katakan aku sedih, aku harus bagaimana Ya Illahi Robbi?. Aku berharap  selalu padaMu kebaikan dari sisiMu Ya Illahi Robbi. Aku berharap ketetapan hati ini di atas agamamu. Aku berharap kasih sayangMu  dan curahan cintaMu padaku.  Aku hanya hambamu yang lemah dan gampang menangis. Aku takut harus menangis dan menangis lagi. Aku tahu mengeluh terus tak baik. Bukankah semua ini adalah bukti cintaMu Ya Illahi. Dimana semua ini membuatku makin dekat denganMu Ya Illahi Robbi. Dan itu tandanya  kasih sayangMu itu sedang tercurah padaku. Aku  yakin perhatiaMu tak pernah lepas dariku.

Iklan

Mikirin Cinta

Mikirin Cinta

Menjadi dewasa itu tak mudah. Seiring waktu banyak hal yang kamu ketahui dan setelah kamu paham ternyata banyak hal yang akhirnya harus kamu hindari, jauhi, dan semua hal yang harus kamu bisa jaga diri untuk tidak lakukan. Inilah hakikat belajar. Ilmu yang kamu dapatkan tidak serta merta tentang hal-hal yang harus kamu lakukan tapi hal-hal yang salah pun kamu harus pelajari . untuk apa? Ya untuk kamu bisa memahami hidup yang kamu jalani ini sesuai track atau udah keluar track. Pada beberapa kasus ada keluhan dengan kalimat “ kalau gitu lebih baik aku tak tahu saja!.” Lucu ya. Tapi adakah setelah itu semua itu membantu. Tidak karena menuntut ilmu itu wajib bagi muslim maupun muslimah. Mau tidak mau kamu harus menerimanya. Ya karena bodoh atau masa bodoh bukan pilihan ketika ilmu sudah menyapa.

Kesalahan itu manusiawi. Tapi kata manusiawi selalu jadi pembenaran dari hal salah yang sudah dilakukan. Dan dengan pongahnya berkata Allah Maha Pengampun. Ya Allah Maha Pengampun tapi tanpa dikatakan saja Allah memang Maha Pengampun. Pertanyaannya ungkapan itu maksudnya untuk apa? Untuk menenangkan diri bahwa kesalahanmu itu bukan hal yang tak perlu dikhawatirkan karena udah ada pengampunan di sisi Allah. Saat kita bertemu presiden atau atasan semua di ditail minta ampun dengan SOP yang riweh.  Cara jalan, cara berpakaian, cara bersalaman sampai cara pegang tas yang jelas-jelas itu tas kita sendiri itupun di atur. Lalu kenapa kerap kali etika kita kepada yang menciptakan kita, memberikan semuanya di dalam hidup kita, menjaga dan melindungi kita sepanjang waktu tanpa perlu apapun dari kita seringkali tak diindahkan. Kita dekat saat kita perlu dan ini dekat dengan jutaan keluhan. Ya makhluk pengeluh. Mengeluh dengan banyak hal yang kita anggap kita belum dapatkan dalam hidup kita atau mengeluh dengan banyak hal yang kita sudah dapatkan tapi kita tak menyukainya.

Allah meridhoi hamba yang Dia kehendaki.  Ridho yang artinya menerima apapun pemberian. Tapi pernahkah kita berfikir kita juga harus ridho dengan yang Allah beri kepada kita, apapun itu. Jika kita mengatakan bahwa kita cinta kepada pencipta kita tentunya kita juga harus membuktikan cinta kita padaNya. Agar apa yang kita ucapkan cinta pada Allah bukan hanya kata-kata belaka.  Entahlah semua itu kembali pada diri kita masing-masing. Terlalu malu jika aku tulis dengan istilah manusiawi. Yang berarti kita memang sudah diset seperti ini yang punya kelemahan.  Tapi bukan hal itu yang aku ingin katakan. Ini perkara bukti cinta kita sebagai hambaNya.  Saat suami membuktikan cintanya pada istrinya dengan sebuket bunga potong, kalung berlian, makan malam romantis. Kita katakan so sweet…  Nah, jadi hal sweet apa yang bisa kita buktikan kepada Allah yang Maha Cinta. Semua hal sweet yang ada di muka bumi ini adalah karena CintaNya. Mungkin kita harus belajar dari Rabiatul Adawiyah. Yang kisah cintanya pada penciptanya tak lekang dimakan waktu. Apa yang ada di hatinya, fikirannya, sehingga semua prilakunya menunjukkan bukti cintanya pada Sang penciptanya. Aku pun tak tahu…

Cinta Allah yang agung itu cinta yang tanpa pamrih. Bayangkan semua ibadah kita itu tak sedikitpun ada faedahnya untuk Allah. Semua ibadah yang kita lakukan semata-mata kembali ke diri kita sendiri. Allah memang gitu, Allah sangat suka direpotin hambanya, dimintai tolong, direngekin hambanya. “ Jika hambanya berjalan menujuNya Dia akan berlari menuju hambanya.” Cinta Allah bahkan tak hanya diberikan pada beberapa orang saja tapi bahkan semua makhluk yang ada di alam semesta ini.  Aku cukup sadar cintaNya tak ada tandingannya. Dengan rasa syukur yang selalu ditambah dan niat lurus untuk hidup karena Allah, dengan Allah dan untuk Allah. Aku yakin dapat menempa diri untuk menunjukkan bukti cinta kita yang kecil kepada Sang Pencipta kita. Mungkin banyak hal lain yang harus aku pahami lagi yang saat ini belum ada di fikiranku.

Tulisanku ini tertulis setelah aku melakukan kesalahan, aku merasa tidak nyaman dan merenungi semua yang sudah aku lakukan. Ya aku terbukti salah menurutku. Dan aku takut kesalahanku berdampak pada hidupku nanti. Aku takut Allah meninggalkanku dan membiarkanku dengan keslahan-kesalahan lain yang tanpa sadar maupun sadar membuat Allah kecewa dan murka kemudian azab yang sangat pedih itu… naudzubillah… aku takut.

Semoga kita bisa selalu on the track, semoga kita bisa memahami rambu-rambu yang ada agar kita bisa menjadi hamba-hamba Allah yang disayangiNya. Amin

TERTULIS

Aku rindu Allah

Sebagai surat yang tertuju untuk Sang Maha Cinta

Surat yang sarat akan rasa ingin bertemu

Surat yang  berisi kerinduan dan rasa sesal yang dalam

Semua larik pendek berisi  “ aku titip hati ini padaMu”

Larik yang tersamarkan dengan remangnya cahaya

Sesal tumbuh dalam gelap gulita malam

Dan terserak dalam rinai hujan

Aku rindu ingin bertemu

Telah terlalu resah jiwa dengan  banyaknya noda

Ingin rasanya  pulang dan membersihkan semua noda

Tapi sungguh rasa takut  akan murkaMu

Membuatku malu untuk meminta lebih takut jadi tak tau diri

Tapi kemana lagi ?

Aku eja surat ini pelan

Penuh hati-hati

Aku takut aku tak punya etika sebagai hamba

Bersyukur bukan ahliku

Bersabar bukan ahliku

Lelahnya itu aku jagonya

Ngeluhnya itu jagonya

Aku lalu dengan tanpa malu berkirim surat

Mengemis ridhoNya dan Cinta muliaNya

Aku yang payah tak memulai memahami cintaNya

Tak mampu menaksir dan menerima apapun pemberianNya

Yang masih gagal untuk ridho dengan apa yang diterima

Lalu kini minta bertemu

Ya aku tak akan kecewa berharap padaMu Ya Illahi robbi

Apapun rasa telah kurasa itu tester yang harus coba cicipi

Untuk suatu saat nanti aku mampu meramu rasa yang pas

Sebagai pengalaman yang mengajariku berlatih sabar dan syukur

Sebuah ujian cinta yang aku harus bayar dengan keridhoan yang kucoba selalu kupupuk

Aku menata hati yang rapuh ini

Dengan malu kuserahkan padaMu

CintaMu nyata

Aku tak punya apapun, termasuk hatiku

Takut tak mampu menjaganya dan takut membuatnya semakin rusak

Aku titipkan saja padaMu

Engkau yang Maha Baik, bijaksana, perkasa, segala-galanya

Tak ada kekhawatiran karena Engkau Maha Penjamin. Trimakasih Ya Illahi Robbi

 

 

Bias

aku sudah lelah untuk berkata lelah

aku biarkan diriku menertawakan diriku sendiri

lelah untuk kecewa dan menangis

aku coba bangkit dan menyuarakan kebahagiaanku

aku bahagia aku berseru

aku bahagia

hatiku bahagia ku berteriak

meski mungkin hanya puing-puing

yang sudah kebas untuk merasa

sudah puas sakit dan sudah tak terasa lagi

tapi pada akhirnya hanya hujan yang mampu menjadi teman

semua tak pernah bisa aku hentikan

aku roboh dalam ketidakmampuanku…

entah mengapa banyak sekali orang yang membuat hatiku perih

dosaku banyak dan itu yang menjadi penyebabnya

entah berapa banyak tangisan sia-siaku

tangisanku yang membuatku makin menangis lagi

tapi aku bisa apa…

aku ingin hijrah, berpindah dari rasa sakit ini

hidup menjadi seseorang yang lain

aku berdeham pelan, sambil berharap tentang hal-hal yang indah

aku meyakini sesuatu yang indah akan indah jika kita harapkan

Bukankah Sang pemberi memberi berdasarkan bagaimana hambanya berprasangka

Mungkin aku terlalu GE ER sehingga kadang kerap salah tafsir

Nyaris 1 tahun lebih ini aku limbung dan nyaris jatuh berulang-ulang

Mulai aku harus kehilangan nenekku, hingga banyak hal yang aku katakan aku tak menyukainya

Aku tak baik dalam hal bersyukur. aku terlalu mudah berkata lelah dan aku rasakan

aku benar-benar berada di titik aku menyedihkan

aku sempat berpikir aku orang yang jahat

sepertinya aku memang orang jahat

dan pantas karena dosaku ini aku menderita rasa sakit ini

aku belajar sabar sampai memang dosaku terhapus dengan semua rasa sakit ini

Aku meyakini itu, Allah Maha Baik, Dia tak akan menyia-nyiakan hambanya

Dia tidak akan membuat hambanya menderita dan kesusahan.

Allah Maha melihat, tak akan terlewatkan satu tetes tangisanku ini dari perhatianNya

tak akan terlewatkan rasa sakit yang menggores dalam luka hati ini.

aku cukup diam dan tersenyum

meski banyak hal yang sedang berkecamuk di dalam hati dan pikiranku

aku diam tapi Allah tahu apapun tentangku

aku diam tapi aku yakin Allah memperhatikanku.

aku diam dan cukup bersyukur karena itu.

Allah baik dan akan selalu baik.

Kata terakhir cukup Allah saja.

 

 

Berkata “RASA”

Aku menjadikan menulis menjadi candu. Candu yang bermanfaat insyaallah. Menulis itu seperti membuang semua rasa sesak di dada. Ya semuanya memang terasa tak bermakna dan manfaat untuk orang lain. Hanya tulisan kosong yang malah dikhawatirkan membuat yang membacanya menjadi salah kaprah atau malah malas mikir. Semuanya masih tentang rasa milikku. Ya rasa yang aku sendiri tak menyangka mengapa aku bisa memiliki rasa ini. Ya semuanya adalah urusan dan rahasia allah. Sempat waktu aku merasa ingin menyerah, sempat pula ingin berhenti dari semua rutinitasku, sempat pula merasa benci, sempat pula merasa iri lalu menjadi rendah diri, bahkan kerap kali hidupku banyak rasa mengeluh. Kalau diandaikan masakan pastinya hidupku ini masakan yang rasanya tidak enak. Mungkin terlalu asin atau bahkan terlalu asam. Ya aku masih terlalu sibuk mengolah rasa untuk diriku sendiri. Dikala diluar sana banyak yang membuka topeng-topeng mereka dan menampakkan wajah asli mereka. Dan aku katakan saat orang telah berani jujur dengan jalan hidup dan pikirannya yang keliru ” tak mengenal Allah ” itu sangat mengerikan. Ya aku katakan demikian karena saat ada yang bisa jujur maka yang lain akan berani jujur. Dan fakta mengerikan terungkap ternyata semua telah memakai topeng. Tulisanku tak kumaksudkan untuk menghakimi karena aku bukan hakim bukan pula bentuk setuju dengan apa yang telah diungkapkan. Sepertinya tulisanku merupakan dampak dari rasa prihatin dan aku tak berani untuk berkata aku aware. Malu rasanya jika aku dikatakan aku peduli tanpa mampu melakukan apapun untuk memberi solusi dari masalah ini. Tapi jujur ada rasa takut dimana sejarah kaum sodom itu berulang dimasa aku hidup saat ini. Saat allah mengazab mereka dengan azab yang mengenaskan. Terkadang ada rasa bingung mengapa mereka bisa berpikir dan berkata demikian. Tidakkah mereka mengenal kata tanggung jawab. Ya tanggung jawab. Apapun yang kita katakan, kita perbuat pasti akan dimintai pertanggung jawabannya. Lupakah mereka bahwa ada malaikat roqib dan atid yang senantiasa mencatat semua perlakuan kita. Tidakkah ada rasa bersalah mereka ketika telah mengatakan demikian, melakukan demikian. Tidakkah mereka merasa takut saat mereka sudah Allah biarkan dalam kemaksiatan dan itu berarti tak ada satupun makhluk yang mampu membantunya. Mungkin saat di dunia ini ada yang membantu ya setahuku setan dan sekutunya selalu menjadi teman bagi orang-orang yang jauh dari Allah. Dan semua itu pastinya tak gratis setan dan para sekutunya akan meminta balasannya dengan menjadikan siapapun yang jauh dari Allah untuk menjadi temannya di neraka. Aku khawatir dengan semua kejujuran ini. Kejujuran ini hanya akan membuat hal yang tak patut menjadi patut karena banyaknya jumlah yang berjujur-jujur dalam kebinasaan dan menganggap hal ini bukan hal yang mengganggu privasi orang lain dan mengklaim ini adalah pilihan. Jujur aku rasa fenomena ini terjadi karena mereka sudah tidak tahu dimana posisi mereka di masyarakat. Seperti kapal yang terombang ambing tanpa kepastian di tengah badai. Dan jujur mereka adalah upaya dalam bentuk meminta pengakuan bahwa mereka tidak salah dan mereka tetap tidak bisa keluar dari badai tersebut. Tapi sekali lagi jujur mereka dan semua harapan mereka itu hanya akan membuat mereka itu hidup tanpa rasa sebagai hamba Allah. Aku bukan menyalahkan tindakan jujur mereka dengan membuka topeng-topeng mereka melalui pendapat-pendapat yang memperlihatkan posisi mereka. Tapi jujur semua fenomena ini membuat ada rasa takut dan khawatir akan azab Allah yang semakin dekat. Azab yang turun selayaknya azab yang turun pada kaum nabi luth. Azab yang tak menyisakan satupun nyawa. Ya Allah jujur aku merasa takut, karena aku hidup di zaman ini. Ya Allah selamatkanlah iman islam kami, lindungilah para penuntun, pengingat, pengajar dijalanMu, lindungi kami dari kezholiman diri kami sendiri, orang lain, dan pemerintah kami. Lindungi dan jauhkan kemaksiatan dari orang-orang tersayang kami. Menangkanlah mereka yang ada di garis depan perjuangan kebaikan dimanapun berada. Ridhoi hidup kami. Amin

Tunisia

 

Aku mencintai duniaku, ini kusebut sebgai bukti syukurku pada Allah. Tak perlu banyak memikirkan banyak kata orang. Ya aku sendiri adalah orang yang mendapatkan pengaruh dari luar tapi aku memilih dan memilah apa yang sesuai dengan hati nuraniku. Ya aku masih berharap ada ridho Allah disetiap langkah kehidupanku setidaknya aku tidak menjadi rugi nantinya saat Allah minta pertanggungan jawabku. Aku masih belajar untuk menjadi untuk apa dan bagaimana aku. Ya terserah orang mau berkata apa aku adalah aku. Aku masih seperti yang lain tidak lantas berubah menjadi anti mainstream di segala bidang. Aku masih memikirkan banyak hal remeh temeh seperti wanita lainnya. Sekedar mikirin komedo, rambut dll. Hal lumrah yang telah tersemat dalam diri perempuanku. Tapi aku ya aku yang memilih menjadi diriku sendiri. Aku berlarian mencari siapa diriku sendiri, mengoreksi setiap maksud dari setiap apa yang aku lakukan. Aku masih bertanya apakah aku telah menjadi diriku sendiri ataukah aku masih mengoleksi banyak topeng dari semua yang ingin aku dianggap. Jujur tak bisa dipungkiri setiap orang membutuhkan pengakuan dari orang lain. Makna sebuah pengakuan sendiri adalah sebagian dari kebahagian hidup seseorang di muka bumi ini. Banyak yang hidupnya dia maksudkan untuk beribadah Allah tapi di hidupnya yang singkat dia tak punya makna apapun di orang-orang disekitarnya. Aku rasa bukan itu yang Allah mau, tapi bukan berarti aku menggaris sebuah tanda salah. Hanya saja aku yakin Allah telah menciptakan kita manusia sedemikian rupa, bahkan kelebihan dan kekurangan kita Allah tunjukkan. Salah satu yang mungkin saat ini bisa aku ambil dan aku pahami sebelum aku tidur adalah apapun itu minta sama Allah, libatkan Allah sekalipun itu adalah doa agar kita berbuat baik, laa haula wala kuata illa billah tiada daya dan upaya kecuali karena Allah.

Hujan, aku pencinta hujan. Dalam hujan aku bisa mengaktifkan semua kemampuan rasaku, aku lebih mudah untuk mengekspresikan kerinduanku. Ya hujan membawa suasana menjadi sendu dan damai jauh dari hiruk pikuk kebisingan duniawi. Didalamnya aku damai aku bisa bebas mengekspresikan kesedihanku, hujan itu tameng dari bulir air mata yang jatuh di pipi, tameng dari suara isakan tangis. Hujan adalah berkah Allah dimana semua doa mustajab. Aku selalu banyak berdoa dikala hujan, mengucapkan banyak permintaan yang aku tujukan ke Allah. Berbeda dengan kebiasaan orang barat yang memiliki keyakinan mengucapkan permohonan dikala bintang jatuh atau meteor jatuh. Yang pada hakikatnya meteor itu adalah benda yang dilemparkan Allah kepada jin-jin yang ingin mencuri kabar dari langit. Sudah pasti tak ada berkahnya. Berbeda dengan hujan, aku akan mulai melankolis saat hujan. Melankolis aku sebut sebagai proses intropeksi diri. Aku memikirkan banyak hal yang telah terlewati, kesalahan yang sulit untuk aku lupakan, terkadang meratapi mengapa semua terjadi. Ya inilah aku yang akan jujur saat hujan menyapa, yang sangat takut Allah memberi amanah yang tak mampu aku pikul, yang takut Allah meninggalkanku karena dosa-dosaku, yang takut akan semuanya, menyesali sesuatu yang dulu ada dan kini tak ada. Lalu dalam hujan aku menambah semua keyakinanku pada Allah. Semua proses yang termaksud dalam doa yang panjang yang terkadang kata-katanya tak jelas saking terlalu banyaknya permintaan. Tapi aku yakin Allah mendengar dan Allah akan kabulkan karena aku berdoa disaat waktu diijabahnya doa. Inilah mengapa aku katakan hujan adalah disaat proses yakin ke Allah itu bertambah. Ya Allah mungkin tak pantas bagiku merindukan seseorang disaat ini. Saat diri ini masih minim iman. Aku sendiri masih tertatih untuk menjadi hamba yang engkau ridhai, aku tak setangguh ummu umaroh tak pula sehebat khaulah. Tapi sungguh hamba sangat lemah ya Allah. Hamba punya cacat yang hamba serahkan cacat ini untuk Engkau sembuhkan. Hamba banyak kurang. Kurang sabar, kurang pintar, kurang iman, kurang ikhlas, kurang syukur. Hamba adalah hamba yang yakin doa hamba Engkau dengar dan Engkau kabulkan serta semua harapan hamba Engkau tahu. Meski terkadang hamba sendiri tak tau apa mau hamba . Hujan ini membawaku menerawang ke masa lalu dan masa depan. Hujan yang membawa kesedihan sekaligus semangat. Menempatkanku di titik nadir dan ke singgasana semua harapan. Aku yakin saat ini Allah sedang memberi kuliah kepadaku, membahas materi tentangku, hidupku, dan hatiku. Semua indera rasanya hanya terfokus pada hal itu. Dan semua itu berkah hujan. Aku merasakan cinta dalam rinai hujan. Kerapkali aku menangis dikala menembus hujan dan aku bersyukur hujan menutupinya aku tak perlu malu. Aku mengeluh pada Allah karena aku merasakan sakit dihatiku. Ya aku katakan aku lemah. Dan siapapun pasti punya sisi kelemahannya sendiri.

ASSALAMUALAIKUM

Menunggu waktu

Barisan ingatan melintas

Ya, ternyata sangat Banyak

Malu ternyata semuanya bergenre “ngeluh”.

Semuanya tentang hati yang rapuh

Malu ternyata itu

Bisa jadi pertanyaan akan iman

Letak syukur yang tak terdeteksi.

Ya, Allah semuanya tentangku Engkaulah yang lebih paham, benar salahnya Engkau pula yang tentukan. Sedih ya memang sedih,

Ya Allah, sungguh hamba tak tahu apa2. Tunjukilah bimbinglah hamba dijalanMu.

Puisiku

Aku berpuisi

Tak banyak diksi

Hanya puisi diam

Dalam malam kelam

Puisiku bukan kata

Puisiku hanya gemiricik hujan

Dalam kotak gempita

Spesial dan penuh riuh cerita

Aku berpuisi

 

 

 

 

Si tukang ketuk pintu

Malam menjelang sayang

Desau gemuruh air yang bergemericik menimpa lantai sumur terdengar

Iya air wudhu sedang di ambil

Pangkal semua ibadah menghadapMu.

Ya! Mak kini sudah pandai bertanya

Sebab perkara si tukang pengetuk pintu akhir akhir ini.

Mak! tampak mulai nampak gelisah. Dulu waktu lampau aku ingat Mak bilang, perkara itu bikin semua fokusmu hilang. Dan kini perkara itu pula yang membuat fokus Mak. Aku tak tahu bagaimana jadinya ini Mak, aku tak mungkin bisa berkata hal pasti tentang si tukang pengetuk pintu.

Aku sendiri masih tak tahu, apalagi pengetuk pintu itu tak pula menyalami tangan hebatmu Mak,

Ya,Mak ada yang hanya mengetuk namun masih bingung hendak masuk atau tidak, ada pula yang belum apa2 pintunya didobrak hancur, ada yang ketukannya terdengar samar samar namun ya Mak samar pula pengetuknya.

Mak,pintunya ada yang bilang tak mampu mengeluarkan bunyi ketukan saat diketuk padahal mungkin karena hujan  kemaren lusalah yang membuat basah kayunya. Jadi hanya menunggu kering untuk mendengar ketukannya.

Ya,Mak pintu ini cuma pintu dari kayu yang sudah pernah pula rusak. Jadi sabarlah Mak akan ada masanya perkara ini berlalu. Tak usah risau akan pengetuk pintu. Dia nanti akan takzim padamu Mak, penuh rasa hormat saat memasuki pintu kayu itu.

Mak, dalam doa panjangmu, ada sebait sendiri untukku. Semoga Allah mengabulkan doamu Mak.

Si pengetuk pintu yang budiman, jangan ketuk jika tak ingin masuk, kasihan pembuka pintu. Jangan mengintai nanti dikira hendak singgah, jangan pula tanpa rasa pintu terkunci dipaksa pula.

Ya, aku hanya berharap Allah menyayangi Mak selalu. Maaf sudah membuat Mak jadi sibuk dengan pintu dan si pengetuk pintu. Love you Mak… :-).

Arah cara

Apa yang seharusnya muslimah lakukan,? Ia yang harus mematuhi ajaran yang rasul telah sampaikan. Muslimah yang baik itu seperti apa? Yang taat beribadah. Patokan seorang tersebut telah taat apa khususnya pada muslimah? Yang tak pernah tinggal shalat, puasa, dan berakhlak baik. Lalu apakah sudah pernah ada seorang yang seperti itu yang pernah ditemui? Sudah insyaallah ada di depan saya. Semua tak ada yang sempurna. Lalu apa yang dilakukan jika kekurangan itu tersingkap di kemudian hari? Saya sebagai pemimpin sebuah keluarga juga punya peran sebagai guru dan sahabat, saya akan memaksimalkan peran saya itu. Lalu hanya kepada Allah lah saya bertawakal. Jika lingkungan memaksa suatu kondisi dimana pemahamanmu tak mampu diterapkan dan kondisi di mana pasangan hidupmu tak bisa membantu banyak? Saya tahu tak semua orang satu ide dan pemikiran dengan saya tapi saya yakin Allah tak akan membuat saya sendiri.Teguhnya iman menjadi kunci dimana hidup akan bermakna. Sedikit anti mainstream, tak familiar, tapi tindak tanduknya menyapa hati, menebar manfaat, mencintai penciptanya, dan memberikan tauladan sebagai generasi yang meneruskan perjuangan rasul.

Dalam sirah nabawi rasul selalu diberi benteng untuk tidak melakukan maksiat. Allah mencintai rasulullah, dan rasulullah sangat mencintai umatnya. Sungguh cinta yang luar biasa bagi umatnya. Alhamdulillah…

Memahami arti kehilangan

Sabtu 5 november 2016 selepas subuh di rumah sakit umum bulian mbah (nenek) ku menghembuskan nafas terakhir nya. Duka meliputi keluarga besarku tak terkecuali aku. Aku saat itu mencoba untuk bisa tegar dan pasrah. Aku menghalau hujan menuju rumahku . Aku yang sehari sebelumnya memang tak pulang ke rumah karena selepas geladi acara di kantor bupati aku menemani mbah di rumah sakit. Sesampai di rumah aku hanya memandang banyak orang di rumahku dan aku tak tau harus bagaimana. Aku yang basah kuyup karena hujan mencari baju ganti dan handuk kemudian mandi. Dan menanti mbah pulang. Ambulan berhenti di depan rumahku. Mbahku dimasukkan ke dalam rumah. Dan disiapkan untuk dimandikan. Seorang ibu paruh baya berbicara dengan sedikit tegas ” iku mbah tinggal siji2ne mandine dipangku wae ra mang ngenggo gedebok pisang”. Aku iyakan permintaannya. Itu yang hanya aku bisa lakukan untuk mbahku yang kusayang dan menyayangiku. Selamat jalan mbah, ini hanya sebuah perpisahan semata aku yakin Allah akan menyatukan kita di surgaNYA. amin.