Arsip Bulanan: Januari 2011

Regenerasi pada cacing tanah

DAFTAR ISI

I. PENDAUHULAN………………………………………………………………………………. 1

1.1 Latar belakang…………………………………………………………………………….. 1

1.2 Rumusan masalah………………………………………………………………………… 2

1.3 Hipotesis……………………………………………………………………………………. 3

1.4 Tujuan hasil penelitian………………………………………………………………….. 3

1.5 Manfaat hasil penelitian……………………………………………………………….. 3

II. KAJIAN PUSTAKA………………………………………………………………………….. 4

2.1 Cacing Tanah…………………………………………………………………………………….. 4

2.2 Regenerasi………………………………………………………………………………………… 8

III. METODE PENELITIAN…………………………………………………………………. 10

3.1 Alat dan Bahan…………………………………………………………………………. 10

3.2 Prosedur Kerja…………………………………………………………………………… 10

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………………………………… 11

4.1 Hasil Penelitian………………………………………………………………………….. 11

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian……………………………………………………….. 12

V. PENUTUP……………………………………………………………………………………….. 13

5.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………….. 13

5.2 Saran………………………………………………………………………………………… 13

DAFTAR RUJUKAN

LAMPIRAN

I. PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Setiap makhluk hidup di dunia ini memiliki kemampuan untuk mempertahankan hidupnya. Memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan hidupnya, melestarikan kehidupannya dengan berkembang biak, dan memiliki kemampuan utuk memperbaiki organ atau jaringan tubuh yang rusakyang disebut dengan daya regenerasi. Setiap makhluk hidup baik itu hewan atau tumbuhan memiliki daya regenerasi yang berbeda-beda.

Pada kecebong yang telah memiliki kaki dengan kecebong yang belum memiliki kaki akan berbeda kemampuannya dalam memperbaiki jaringan atau organ yang rusak atau luka. Daya regenerasi pada kecebong yang telah memiliki kaki akan lambat, sedangkan kecebong yang belum memiliki kaki akan cepat. Hal ini dikateranakan salah satu factor yang mempengaruhi daya regenerasi suatu organisme adalah umur organism tersebut. Semakin bertambahnya umur maka daya regenerasi akan berkurang dan bahkan dapat menghilang.

Meskipun suatu organisme memiliki kemampuan untuk  memperbaiki jaringan atau organ yang rusak atau luka pada tubuhnya, namun ada bagian-bagian tubuh tertentu yang tak dapat diregenerasi atau dengan kata lain kemampuan regenerasinya telah hilang. Terkecuali pada planaria, planaria adalah hewan yang memiiki daya regenerasi yang sangat baik. Apabila tubuh panaria dipotong-potong  maka setiap potongan tersebut akan menjadi organisme baru. Daya regenerasi ini mengikuti proses fragmentasi yang merupakan cara perkembang biakan aseksual pada planaria yang bertujuan menghasilkan keturunan.

Berdasarkan hal ini praktikan tertarik untuk mengetahui daya regenerasi pada hewan lain. Dalam hal ini praktikan memilih cacing tanah sebagai probandus di penelitian ini. Cacing tanah terdapat banyak di alam dan mudah didapatkan. Cacing tanah adalah hewan bersegmen dan lunak yang panjangnya dapat mencapai >2 m. Cacing tanah memiliki bagian-bagian tubuh antara lain : coelomic (rongga besar), coelomocytes (pembuluh-pembuluh mikro), tabung anterior dan posterior (saluran makanan), anus dan nephridia (alat ekskresi), kulit (untuk respirasi).pada cacing dewasa memiliki klitelum (tabung peranakan atau rahim). Praktikan ingin mengetahui daya regenerasi cacing tanah yang bagian tubuhnya yaitu sebelum dan setelah bagian klitelumnya dipotong.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1.      Bagaimana daya regenerasi pada cacing tanah ?

2.      Apa yang terjadi pada cacing tanah yang bagian tubuh sebelum klitelumnya dipotong?

3.      Apa yang terjadi pada cacing tanah yang bagian tubuh setelah klitelumnya dipotong?

1.3 HIPOTESIS

“Cacing tanah yang bagian tubuh setelah klitelumnya dipotong akan menampakan daya regenerasi yang baik dibandingkan cacing tanah yang bagian tubuh sebelum klitelumnya dipotong”

1.4 TUJUAN HASIL PENELITIAN

1.      Mengetahui daya regenerasi cacing tanah pada pemotongan bagian tubuh cacing tanah setelah klitelum.

2.      Mengetahui daya regenerasi cacing tanah pada pemotongan bagian tubuh cacing tanah sebelum  klitelum.

1.5 MANFAAT HASIL PENELITIAN

Dari hasil penelitian ini akan mendapatkan data yang kemudian akan dilaporkan secara tertulis sebagai karya ilmiah yang merupakan syarat untuk memenuhitugas akhir praktikum Perkembangan Hewan

II.KAJIAN PUSTAKA

2.1. Cacing Tanah

Secara sistematik, acing tanah bertubuh tanpa kerangka yang tersusun oleh segmen-segmen (bagian-bagian ) fraksi luar dan fraksi dalamyang saling brhubungan secara integral, diselaputi oleh epidermis (kulit) berupa kutikula (kulit kaku) berpigmen tipis dan setae (lapisan daging semu bawah kulit), kecuali pada dua segmen pertama (bagian mulut) ; bersifat hermaprodit (kelamin ganda) dengan gonads (peranti kelamin) seadanya pada segmen-segmen tertentu. Apabila dewasa bagian epidermis pada posisi tertentu akan membengkak membentuk klitelum (tabung peranakan atau rahim), tempat mengeluarkan kokon (seludang bulat) berisi telur dan ova (bakal telur). Setelah kawin (kopulasi), telur akan berkembang didalamnyadan apabila menetas langsung serupa cacing dewasa.

Secara struktural, cacing tanah mempunyai rongga besar coelomic yang mengandunag coelomocytes (pembuluh-pembuluh mikro), yang merupakan system vaskuler (bejana) tertutup. Saluran makanan berupa tabung anterior dan posterior,ekskresi (kotoran) dikeluarkan lewat anus atau peranti khusus yang disebut nephridia. Respirasi (pernapasan) terjadi melalui kulit (kutikuler).

a. Segmentasi Luar

Bagian luar cacing tanah tersusun oleh barisan segmen-segmen yang diperantai oleh alur atau lekukan antar segmen yang bertepatan dengan posisi septa pembagi badan secara internal. Segmen-segmen ini mempunyai lebar yang bervariasi dan paling lebar pada zona anterior dan zona kliteler. Dalam pendiskripsiannya, segmen-segmen dan alur antarsegmen ini di beri kombinasi nomor urut dari depan ke belakang,3/4 berarti nomor segmen ke-3 (S ke -3) dan nomor alur antar segmen ke-4 (AAS ke-4). Segmen-segmen eksternal juga mempunyai alur-alur sekunder.

Segmen anterior yang paling depan (segmen pertama) yang mengelilingi mulut dan tempat menempelnya prostomium (cuping mulut)dan peristomium (bibir). Sebagai unit mulut peristomium dan prostomium menyatu dalam kombinasi posisi yang bervariasi menurut spesiesnya sehingga karakter ini merupakan salah satu kunci deskripsispesies cacing tanah.

b. Chaeotaxy (pola susunan setae)

Setae adalah struktur fungsional sebagi pemegang substrat dan peranti bergerak termasuk dalam berkopulsi berbentuk serupa bulu yang timbul di dalam kantung rambut pada bagian luar kulita yang dapat dimelarkerutkan melalui otot protractor –retractor. Kedua otot ini tumbuh dari lapisan otot sirkuler, melewati otot longitudinaldi dasar lubang rambut. Setae mempunyai bentuk yang bervariasi tergantung spesiesnya, ada yang berbentuk batang, jamur atau serupa rambut.  Bentuk ini juga tergantung posisinya yang paling sering adalah seperti pada Lumbricus, yaitu berbentuk kurva sigmoid dengan panjang sekitar 1mm. Pada L. terrestris, setae ini membesar baik pada ujung anterior maupun posteriornya.

c. Pigmentasi pada kulit

Warna cacing tanah tergantung pada ada tidaknya dan jenis pigmen yang dimilikinya. Sel atau butiran pigmen ini berada di dalam lapisan otot di bawah kulitnya. Paling tidak sebagian warna juga disebabkan oleh adanya cairan kulomik kuning atau sel klorogagen hijau dekat permukaan. Warna bagian dada dan perut umumnya lebih muda ketimbang bagian lainnya, kecuali misalnya Megascolesidae yang berpigmen gelap, berwarma sama. Pigmen cacing tanah umumnya adalah profirins, yang boleh jadi berasal dari hasil hancuran sel klorogagen. Cacing yang tanpa atau berpigmen sedikit jika berkulit transparan biasanya terlihat berwarna merah atau pinkakibat adanya haemoglobin dari zona di permukaan pembuluh kapiler tetapi jika kulitnya tidak transparan akan terlihat putih

d. Kulom (rongga badan)

Kulom merupakan rongga sepanjang badan yang berisi cairan kulomik. Cairan kulomik ini berwarna putih susu dan kadangkala kun ing oleh adanya eleosit, yaitu sel-sel berlemak –butiran, seperti pada Dendrobaena snbrubicunda.

e. Saluran pencernaan

Saluran makanan cacing tanah pada dasarnya berupa tabung yang memanjang dari mulut hingga anus, dengan diferensiasi berupa liang: a. buccal yaitu tabung mulut sepanjang 1-2 segmen pertama, b. pharynx yaitu tabung lanjutan yang melebar ke bawah sepanjang hingga segmen ke-6, atasnya tebal, berlendir, glanduler, dan mempunyai kelenjar pharyngealyang tammapk seperti massa putih ; berfungsi sebagi pompa pengisap, c. oesophagus yaitu terusan pharynx berupa tabung sempit, d. crop adalah modifikasi tabung belakang berbentuk tembolokberfungsi sebagai gudang penyimpanan, e. gizzard empedu dan , f. instestin berupa saluran pencernaan berbentuk lurus yang berakhir pada anus. Namun sebagian besar cacing aquatic tidak mempunyai gizzard dan kadangkala juga crop.

Cacing tanah merupakan makhluk yang telah hidup dengan bantuan sistem pertahanan mereka sejak fase awal evolusi, oleh sebab itu mereka selalu dapat menghadapi invasi mikroorganisme patogen di lingkungan mereka. Penelitian yang telah berlangsung selama sekitar 50 tahun menunjukkan bahwa cacing tanah memiliki kekebalan humoral dan selular mekanisme. Selain itu telah ditemukan bahwa cairan selom cacing tanah mengandung lebih dari 40 protein dan pameran beberapa aktivitas biologis sebagai berikut: cytolytic, proteolitik, antimikroba, hemolitik, hemagglutinating, tumorolytic, dan kegiatan mitogenic.

Cairan dari selom foetida Eisenia Andrei telah diteliti memiliki sebuah aktivitas antimikroba terhadap Aeromonas hydrophila dan Bacillus megaterium yang dikenal sebagai patogen cacing tanah. Setelah itu diperoleh dua protein, bernama Fetidins, dari cairan selom cacing tanah dan menegaskan bahwa aktivitas antibakteri ini disebabkan karena fetidins. Lumbricus rubellus juga memiliki dua agen antibakteri bernama Lumbricin 1 dan Lumbricin 2. Baru-baru ini, dua jenis faktor antibakteri yang mempunyai aktivitas seperti lisozim dengan aktivitas hemolitik serta pengenalan pola protein bernama selom cytolytic faktor (CCF) telah diidentifikasi dalam foetida Eisenia cacing tanah. Lysenin protein yang berbeda dan Eisenia foetida lysenin-seperti protein memiliki beberapa kegiatan yang diberikan cytolytic hemolitik, antibakteri dan membran-permeabilizing property.

2.2. Regenerasi

Regenerasi dalam biologi adalah menumbuhkan kembali bagian tubuh yang rusak atau lepas. Daya regenerasi paling besar pada echinodermata dan platyhelminthes yang dimana tiap potongan tubuh dapat tumbuh menjadi individu baru yang sempurna. Pada Anelida kemampuan itu menurun. Daya itu tinggal sedikit dan terbatas pada bagian ujung anggota pada amfibi dan reptil. Pada mamalia daya itu paling kecil, terbatas pada penyembuhan luka.

Regenerasi berlangsung melalui dua cara yaitu : (1) Epimorfis, apabila perbaikan disebabkan oleh proliferasi jaringan baru yang disebut blastema diatas jaringan lama.(2) Morfalaksis, apabila perbaikan disebabkan oleh reorganisasi jaringan lama.

Pada Annelida daya regenerasinya terbatas. Jika tubuh dipotong-potong, setiap potongan dapat tumbuh menjadi individu baru yang utuh, tapi segmennya tidak selengkap semula. Alat genitalia tak ikut beregenerasi. Jika potongan tak mengandung genitalia asli individu baru yang berasal dari situ tak bergenitalia. Hirudinea (pacet dan lintah) tidak beregenerasi. Nematoda juga tidak beregenerasi. (http://semilirsenja.blogspot.com/2010/03/regenerasi.html)

Pada kebanyakan Annelida terbukti regenerasi dapat dilkukan sangat terbatas, misalnya hanya beberapa segmen saja dari bagian anterior yang dapat dibentuk, dan jumlah segmen ini tergantung pada spesies.Pada cacing tanah Alloobophora foetida jumlah itu empat atau lima saja. Apabila lima segmen itu kurang dipotong dari dari bagian anterior dari cacing ini, maka regenerasi akan terjadi secara lengkap. Tetapi apabila lebih dari lima segmen dipotong, maka hanya empat atau lima segmen baru yang dibentuk, dan dengan demikian cacing ini akan lebih pendek dari aslinya. Apabila potongan dilakukan  di belakang segmen genital (segmen 10-14), maka hanya empat atau lima segmen kearah anterior yang dibentuk dan alat genital yang ikut terpotong tidak pernah diperbaharui. Dengan demikian tipe regenerasi yang terjadi adalah epimorfis. Epimorfis umum dijumpai pada hewan tingkat tinggi.

III. METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan

– cacing tanah

– silet

– penggaris

– tanah

3.2 Prosedur Kerja

1. Diukur cacing tanah menggunakan penggaris

2. Diamati letak klitelum cacing tanah

3. dipotong bagian tubuh cacing tanah sebelum klitelum , lalu ukur bagian tersebut menggunakan penggaris

4. Masukan potongan tubuh tersebut  ke tanah lalu di amati

5. lakukan langkah yang sama pada pemotongan bagian tubuh cacing setelah klitelum.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PENELITIAN

Pemotongan bagian tubuh cacing sebelum klitelum

Panjang Percobaan 1 Percobaan 2 Percobaan 3
Awal 9 cm 3 cm 8 cm
Setelah dipotong 1 cm 0,3 cm 0,7
1 hari setelah dipotong Mati mati

Pemotngan bagian tubuh cacing setelah klitelum

Panjang Percobaan 1 Percobaan 2 Percobaan 3
Awal 3 cm 3 cm 13 cm
Setelah dipotong 0,7 cm 0,3 cm 1,3 cm
1 hari setelah dipotong Hidup, luka telah tertutup.

4.3. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Cacing tanah adalah nama yang umum digunakan untuk kelompok Oligochaeta , yang kelas dan subkelasnya tergantung dari penemunya dalam filum Annelida  . Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih. Jumlah segmen yang dimiliki sekitar 90-195 dan klitelum yang terletak pada segmen 27-32.

Cacing tanah jenis Pheretima segmennya mencapai 95-150 segmen. Klitelumnya terletak pada segmen 14-16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang dan silindris berwarna merah keunguan. Cacing tanah yang termasuk jenis Pheretima antara lain cacing merah, cacing koot dan cacing kalung.

Sepanjang hidup suatu orgsanisme, beberapa tubuhnya dapat rusak atau lenyap. Sebagaian besar organisme sampa derajat tertentu mempunyai kemampuan mengganti bagian-bagian yang rusak atau lenyap tersebut. Proses penggantian ini diseut regenerasi. (Kimball.1983:415)

Kemampuan hewan untuk meregenerasi bagian-bagian yang hilang sangat bervariasi dari spesies ke spesies. Spon dapat meregenerasi seluruh organisme dari hanya konglomerasi sel-selnya. Hal ini juga terjadi pada hydra. Seekor planaria dapat meregenerasi seluruh organisme dari satu bagian tengah. Bahkan bintang laut dapat meregenerasi seluruh organisme dari hanya satu tangan dan cakra tengah. Cacing tanah tak mempunyai daya regenerasi demikian , yaitu dapat meregenerasi seluruh organisme.akan tetapi mereka dapat meregenerasi dengan cukup kokoh.

Dari hasil pengamatan praktikan menemukan bahwa cacing tanah yang mendapatkan perlakuan berupa pemotongan bagian tubuh sebelum klitelum tidak dapat bertahan hidup , berbeda dengan cacing tanah yang mendapatkan perlakuan berupa pemotongan setelah klitelum. Dan bagian posterior tubuh cacing tanah dari pemotongan tubuh tersebut tidak hidup, hal ini serupa dengan apa yang diungkapkan oleh Vanhoeck “Sebagian besar organ cacing tanah berada di “bagian atas”. Jika anda melihat sebuah cacing, ada sebuah band yang terjadi di sekitarnya sekitar 1 / 3 dari jalan turun dari satu akhir.. Itu adalah akhir “top” dari cacing. Ketika cacing dibelah dua dapat meregenerasi ekor baru, tetapi selebihnya tidak bisa meregenerasi kepala baru. Jadi, tidak mendapatkan dua cacing baru.” http://www.newton.dep.anl.gov/askasci/zoo00/zoo00690.htm

Menurut situs http://www.ehow.com/facts_6373967_do-earthworms-regenerate_.html Untuk regenerasi, tubuh cacing harus terputus di bawah clitellum tersebut. Ini adalah band khas seluruh tubuh cacing dan berisi organ reproduksi. Semua organ-organ lain di atas clitellum tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan regenerasi yang terdapat pada cacing tanah terbatas hanya pada bagian setelah klitelum.

V. PENUTUP

5.1       KESIMPULAN

Dari percobaan pada regenerasi pada cacing tanah ini dapat disimpulkan bahwa :

1.      Cacing tanah yang mengalami pemotongan tubuh cacing bagian sebelum klitelum tidak dapat meregenerasikan tubuhnya kembali.

2.      Cacing tanah yang mengalami pemotongan tubuh cacing bagian setelah klitelum dapat meregenerasikan tubuhnya kembali

3.      Daya regenerasi hanya terbatas setelah bagian klitelum cacing, sebab bagian klitelum ke arah anterior adalah tempat organ reproduksi dan semua organ-organ lain.

5.2. SARAN

Berdasarkan dari hasil percobaan, apabila ingin mengamati daya regenerasi pada cacing tanah. Maka lakukanlah pemotongan bagian tubuh cacing tanah setelah klitelum. Letak klitelum pada cacing tanah tergantung pada spesies dari cacing tanah tersebut.

DAFTAR RUJUKAN

Anonim. 2010 . Cacing tanah. Diakses pada 30 Desember 2010. http://Wikipedia.co.id

Hanafiah,Kemas Ali,dkk.2005.BIOLOGI TANAH Ekologi & Makrobiologi Tanah. Jakarta : Raja Grafindo Persada

Kimball,John W.1983.BIOLOGI Jilid 2.Jakarta : Erlangga

Surjono, Tien Wiati.2001.Perkembangan Hewan.Jakarta : Universitas Jambi

Siburian, Jodion.2005.Penuntun Praktikum Perkembangan Hewan.Jambi: Universitas Jambi

http://www.newton.dep.anl.gov/askasci/zoo00/zoo00690.html

http://www.ehow.com/facts_6373967_do-earthworms-regenerate_.html

http://semilirsenja.blogspot.com/2010/03/regenerasi.html

Iklan