Belum Makan Jika Belum Makan Nasi

Ada sebuah asumsi bahwa “jika belum makan nasi maka itu belum dinamakan makan” Sebuah asumsi dari kebanyakan masyarakat Indonesia yang setiap harinya telah terbiasa mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Asumsi ini menunjukkan betapa masyarakat Indonesia sangat tergantung pada nasi dibandingkan dengan bahan makanan lain yang sama-sama mengandung karbohidrat seperti singkong, jagung, sagu dan umbi-umbian. Nasi dianggap sebagai makanan satu-satunya yang dapat mengeyangkan perut.

Nasi dalam bahasa jawa disebut dengan istilah “sego” dan dalam bahasa Sunda disebut dengan istilah “sangu” setelah dianalisis istilah “sego” dan “sangu” ini memiliki kemiripan dengan istilah sagu. Hal ini dapat merujuk bahwasannya sagu merupakan makanan asli masyarakat Indonesia. Sagu merupakan bahan makanan yang diambil dari sari pati tanaman. Sedangkan padi sendiri merupakan tanaman yang diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM.
Seiring berjalannya waktu dan perubahan pola hidup masyarakat ternyata juga mempengaruhi pilihan bahan makanan pokok yang dikonsumsi masyarakat Indonesia. Dan menurut Ir. Dr. Bambang Hariyadi, P.hD seorang dosen sekaligus peneliti di Universitas Jambi kecenderungan masyarakat untuk memilih nasi sebagai makanan pokok dikarena adanya persepsi yang tertanam di masyarakat Indonesia bahwa mengkonsumsi nasi menunjukkan kemakmuran dan kesejahteraan. Hal ini terjadi karena saat masa penjajahan hanya orang-orang yang memiliki jabatan, dan pemilik kekuasaan yang mampu mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Sedangkan masyarakat biasa hanya dapat makan jagung, umbi-umbian atau singkong . Makanan olahan dari bahan jagung seperti nasi jagung dan singkong seperti tiwul,
Pemerintahan telah mengeluarkan beberapa kebijakan pangan dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan nasional. Menurut Tarwiyah dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa ketika beliau masih kecil pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pangan berupa penyelenggaraan beras TeKaD. Beras TeKaD adalah istilah untuk bahan makanan berupa keTela, Kacang dan Djagung yang diproses dan dibentuk seperti beras. Beras TeKaD berukuran kecil seperti ukuran beras, berbentuk persegi, dan berwarna putih. Beras TeKaD dimasak selayaknya menanak nasi seperti biasanya. Hanya saja kebijakan itu tidak berlangsung lama, karena masyarakat tidak menyambut dengan positif kebijakan beras TeKaD ini dikarenakan rasa beras TeKaD yang kurang digemari masyarakat.
Menurut Siti Rubingah selain Beras TeKaD ada pula bahan makanan lain yaitu BULGUR. Bulgur diimpor dari luar negeri. Bulgur berupa bahan makanan berbentuk seperti beras dari menir gandum yang berbeda dan paling sering dari gandum durum. Sebelum dimasak bulgur harus direndam hingga mengembang, lalu dikeringkan kemudian dikukus. Bulgur dikonsumsi dengan cara menambahkan kelapa dan garam rasanya gurih atau dapat pula dikonsumsi bersama lauk pauk dan sayur mayur.
Saat masa orde baru pemerintah menitikberatkan pada pencapaiaan untuk swasembada beras yang akhirnya tercapai pada tahun 1984, 1985, dan 1986 (berdasarkan laporan statistik pertanian dari BPS). Dengan adanya keinginan swasembada beras saat itu ternyata meningkatkan ketergantungan masyarakat untuk mengkonsumsi nasi. Dan hal ini menekan difersifikasi pangan yang telah ada. Sehingga timbullah asumsi bahwa “ belum makan jika belum makan nasi”.
Ironis di negeri yang dijuluki tanah surga ini masih bisa berkata kekurangan pangan. Kita hanya belum memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita dan masih sangat tergantung dengan impor bahan makanan. Banyak industri makanan yang masih tergantung dengan gandum dalam proses produksinya. Dan kenyataannya Indonesia belum bisa menghasilkan gandum karena pertanian gandum tidak cocok untuk tanah pertanian Indonesia. Sehingga masih tergantung pada negara penghasil gandum seperti negara Australia.
Indonesia dengan tanah yang subur sebenarnya memiliki banyak jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat tepung. Tepung dapat dihasilkan dari singkong, pohon sagu, jagung, dan irut. Hanya saja pemanfaatan tepung-tepung tersebut dalam bentuk kuliner makanan khususnya sagu irut masih belum dikenal secara luas di masyarakat sebagai bahan makanan.
Sagu irut dihasilkan dari tanaman irut yang memiliki ciri-ciri batangnya tidak berkayu, tegak, dengan tinggi antara 40-100 cm. Batang tipis, biasanya bercabang banyak ke arah ujung. Daun keras dan bercabang, berseling. tangkai daun berpelepah pada pangkalnya dengan helaian daun berbentuk bulat telur hingga melonjong, berwarna hijau atau kadang-kadang bergaris putih atau ungu kemerahan dan biasa tumbuh di pekarangan rumah. Di beberapa tempat, tanaman umbi ini mempunyai nama daerah yang nyaris mirip. Sebutan itu antara lain Garut, Ararut, Patat Sagu (Sunda), Lerut, Garut, Klarut, Jlarut, Irut, Waerut (Jawa Tengah), Larut, Pirut, Kirut (Jawa Timur), Angkrik (Betawi), Arut, Larut, Salarut (Madura), Tarigu (Banten), atau Klarus, Marus (Bali) (Alamendah, 2011).
Selain irut ada pula tanaman pekarangan lainnya yang biasanya dikonsumsi seperti ganyong, gembili, tambak raksa, suweg, uwi. Tumbuhan ini ditanam secara bergilir di dalam pekarangan. Menurut Rubingah Tumbuhan-tumbuhan ini dicanangkan sebagai “ganjel lumbung” atau “ganjal lumbung” yang dimaksudkan untuk makanan selingan bagi masyarakat agar tidak tergantung hanya pada beras.
Upaya mengsosialisasikan keberagaman pangan dan mengeksplor bahan makanan yang ada di Indonesia pada masyarakat akan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk dapat menganekaragamkan makanan yang dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Dan tentunya akan menambah wawasan masyarakat tentang bahan makanan yang ada di Indonesia. Dan harapannya masyarakat turut andil dalam program difersifikasi pangan. Sehingga masyarakat tidak terlalu bergantung dengan beras dan kebutuhan pangan tetap tercukupi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s