HUTAN INDONESIA HARAPAN DUNIA

DSC04437

Tema : Peluang Indonesia di Tengah Krisis Global 

Indonesia merupakan bangsa yang kaya keanekaragaman budaya, suku, bahasa, hingga sumber daya alam. Wilayah  negara Indonesia dilewati oleh garis khatulistiwa atau equator yang menyebabkan Indonesia  menjadi daerah tropis. Kesesuaian kondisi musim dan lingkungan yang ada memungkinkan banyak flora dan fauna dapat melangsungkan kehidupannya. Topografi antara wilayah satu dengan yang lain juga mempengaruhi jenis flora maupun fauna yang ada di Indonesia. Keanekaragaman flora dan fauna Indonesia adalah kekayaan tersendiri bagi bangsa Indonesia.

Dari segi fauna kita dikenal memiliki harimau sumatera, gajah sumatera, jalak bali, dan banyak lagi fauna lainnya. Selain itu banyak lagi fauna aquatik seperti ikan arwana, ikan bilih, ikan botia dan lain-lain. Meskipun karena perkembangan zaman habitat mereka semakin sempit, tapi Pemerintah dan Lembaga terkait dengan perlindungan satwa maupun konservasi hutan telah mengupayakannya baik itu dari undang-undang yang mengatur penggunaan sumber daya alam maupun kegiatan-kegiatan konservasi dan restorasi hutan.

Pada awalnya kita memiliki tiga jenis harimau yang kemudian dua dari  jenis harimau  tersebut yaitu harimau jawa dan harimau bali telah punah. Dan hal ini merupakan keprihatinan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Namun demikian di salah satu daerah di Provinsi Jambi telah mengupayakan adanya restorasi hutan di bekas hutan produksi yang di dalamnya merupakan habitat dari beberapa fauna yang salah satunya adalah harimau sumatera. Selain itu harimau sumatera juga dilindungi di TNBD (Taman Nasional Bukit Dua Belas) di Provinsi Jambi tepatnya di Kabupaten Kerinci.

Pada tahun 2011 lalu, terdapat beberapa kasus penyerangan harimau terhadap manusia di beberapa daerah Jambi. Hal ini karena luas wilayah hutan yang semakin sempit dari adanya  kegiatan pembukaan lahan baru untuk lahan perkebunan dan pertanian yang menyebabkan jumlah satwa yang ada yang merupakan mangsa harimau berkurang. Sehingga harimau masuk ke daerah perkampungan penduduk. Pada dasarnya setiap harimau hidup soliter dan memiiki Home Ring atau wilayah territorial kekuasaan tersendiri dimana harimau satu dengan yang lainnya tidak boleh memasukinya. Dalam home ring inilah harimau berburu mangsa. Kejadian penyerangan harimau terhadap manusia tidak akan pernah terjadi jika saja wilayah teritorial (home ring) harimau tidak di rusak.

Di kalangan masyarakat terdapat sebuah mitos bahwa taring, kuku, dan kulit harimau memiliki nilai magis bagi yang memilikinya. Hal ini merupakan ancaman lain dari kehidupan harimau sumatera karena beberapa oknum memanfaatkan mitos tersebut untuk mengkomersilkan harimau sumatera dan hal ini dilakukan dengan perburuan liar. Pada umumnya perburuan liar tidak hanya terjadi pada harimau sumatera saja namun beberapa fauna yang memiliki nilai komersil lainnya seperti gajah sumatera dan rusa. Perburuan liar ini sangat merugikan dan mengancam suatu ekosistem karena menyebabkan relung ekologi di dalamnya menjadi sedikit yang mengakibatkan resiliency atau daya lenting suatu ekosistem untuk kembali ke keadaan awal menjadi rendah.

Hutan menjadi sebuah kebutuhan bagi makhluk hidup yang ada di dalamnya maupun yang ada jauh dari hutan, tidak terkecuali manusia. Hutan merupakan penghasil oksigen yang peranannya sangat penting untuk bernapas. Selain itu hutan memberikan banyak manfaat dari hasil hutan yang ada di dalamnya baik itu hasil hutan kayu dan non kayu. Hasil hutan non kayu juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi tidak kalah dengan hasil hutan kayu yang saat ini semakin kurang karena pembalakan liar. Hasil hutan non kayu seperti, rotan, jelutung, jernang, madu, dan di beberapa kelompok masyarakat memanfaatkan tumbuhan hutan sebagai obat-obatan tradisional. Kelompok masyarakat yang menggunakan obat-obatan tradisional tumbuhan hutan adalah Suku Anak Dalam (SAD).

Suku Anak Dalam (SAD) adalah salah satu suku yang ada di Provinsi Jambi. Suku Anak Dalam (SAD) tinggal dikawasan hutan dan menggantungkan hidup pada hasil hutan yang ada. Tumbuhan obat yang sering digunakan oleh Suku Anak Dalam (SAD) salah satunya adalah pasak bumi, kayu berumbung, daun ketepeng, kulit pohon duku dll. Pasak bumi memiliki peluang yang menjanjikan untuk ke depannya karena telah diteliti dan dikembangkan menjadi produk-produk kesehatan. Dan masih banyak lagi tumbuhan hutan yang memiliki manfaat yang sama bergunanya seperti pasak bumi. Khususnya bagi Suku Anak Dalam (SAD) yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengenai obat-obatan tumbuhan hutan.  Pemanfaatan tumbuhan obat yang ada dapat dilakukan tanpa harus merusak hutan yang ada. Dari adanya kesadaran masyarakat  untuk dapat bijak memanfaatkan hutan dengan dibantu lembaga-lembaga dan instansi pemerintahan yang ada, maka hutan Indonesia akan kembali pulih dan memakmurkan masyarakat di sekitarnya.

Sejak dini melalui lembaga pendidikan peduli lingkungan telah ditanamkan pada generasi muda dan pada akhirnya generasi mendatang dapat mencintai hutan dan bijak dalam mengolah hasil hutan. Dari kearifan lokal yang ada dapat memiliki nilai ekonomi yang tinggi jika pengolahannya diperhatikan dan dikembangkan. Dan mungkin dapat menjadi salah satu komoditi ekspor andalan bagi Indonesia selain karet, sawit, dan batu bara. Suku Anak Dalam dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya dalam mengolah tumbuhan hutan menjadi obat-obatan dengan harapan bahwa dengan kemampuan mereka, mereka tetap melestarikan kebudayaan mereka dan menjadi lapangan pekerjaan tersendiri bagi mereka.

Perekonomian Indonesia yang rentan karena krisis global akibat dari ekonomi global mengakibatkan meningkatnya jumlah pengangguran. Hal ini sangat mengkhawatirkan jika saja krisis global ini berkepanjangan. Indonesia masih tegantung dengan barang impor dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya. Indonesia dikenal dengan negara agraris, tapi hal ini tidak dapat menopang seluruh kehidupan masyarakatnya. Salah satu yang Indonesia belum capai adalah swasembada beras, Indonesia masih mengimpor dari negara lain misalnya Thailand. Pada dasarnya selain beras masih banyak bahan pangan lain yang dapat menjadi pengganti beras, hanya saja pengelolaan yang belum banyak dipahami masyarakat Indonesia dan persepsi masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa nasi adalah satu-satunya makanan pokok. Suku Anak  Dalam (SAD) menggunakan ubi kayu, gadung, dan umbi-umbian lainnya sebagai sumber karbohidrat. Pemahaman masyarakat untuk dapat mencari sumber karbohidrat pengganti beras akan membantu mengurangi jumlah impor beras tiap tahunnya.

Di Jambi terdapat agroforest atau perkebunan yang didalamnya terdapat berbagai macam tanaman sehingga perkebunan tersebut heterogen. Beberapa masyarakat Jambi memiliki perkebunan karet yang dipadupadankan dengan tanaman durian, duku, nangka, cempedak, pisang, atau tumbuhan pohon yang nantinya dijadikan sebagai bahan papan untuk membangun rumah. Dengan demikian masyarakat Jambi dapat mendapatkan manfaat yang lebih dibanding hanya menanam karet. Jika sistem agroforest diterapkan lebih luas di Indonesia maka pembukaan lahan baru hutan tidak perlu dilakukan. Dari agroforest tersebut masyarakat telah mendapatkan hasil yang banyak, tergantung pada pengelolaan hasil kebun tersebut. Dengan kreatifitas dan inovasi hasil kebun tersebut akan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Dan untuk ini pemerintah daerah, dan masyarakat perlu berkerjasama mewujudkannya.

Indonesia dibanding dengan negara-negara lain disekitarnya adalah negara yang luas dan memiliki kawasan hutan yang lebih luas. Dengan  adanya program restorasi hutan dan konservasi hutan, dimasa mendatang Indonesia adalah negara yang berjasa dalam penyediaan oksigen bagi dunia dan menjadi bangsa yang kaya keanekaragaman hayati dan negara yang maju dengan industri-industri hasil hutan non kayu. Indonesia kaya dengan hutannya dan Indonesia kaya karena hutannya. Indonesia menjadi negara yang berhasil mengurangi efek rumah kaca (global warming) dan tentunya hutan Indonesia merupakan salah satu harapan penduduk dunia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s