Merana

Kini saat sayap ranum itu merekah

Angan akan terbang begitu membucah

Melampaui cakrawala menyapa bulan dan bintang disetiap galaksi

Kini saat sayap ranum merekah

membuat urat ini kaku tak mampu lagi menahan hasrat untuk terbang

kaki ini rasanya kram menahan posisi kuda-kuda

Tapi aku tamak rupanya

aku tak sadar sayap kiriku tak merekah sempurna

aku malu

saat semua koak telah ku perdengarkan pada khalayak

saat semua lenggok telah ku tampilkan

saat mataku telah aku gunakan untuk memicingkan yang jauh disana

Merana

Kini aku merana

Air bening menetes di sudut mata

tak tahu seberapa banyak sudah

tak tahu hendak berhenti saat kapan

seperti waduk yang jebol diterjang banjir bandang

susah untuk diperbaiki dikala musim masih penghujan

tetes itu yang selalu menemani

selayaknya resep obat yang berkala setiap waktunya

Merana

Saat tak tahu apa yang bisa memikat

saat hati tak menentu

merana

Dalam sendu

dalam kesendirian

dalam kepura-puraan senyuman bahagia

menanti  keajaiban

keajaiban yang datang membawa kebahagiaan

berharap malaikat merengkuhku

menasihatiku, menguatkanku, dan menemaniku

mengajariku terbang dan meraih semua khayal

menatap dari puncak

dan membumi memberi pelindung

Sungguh penantian ini

oh Malakatku bawa jauh aku dari Merana

merana menjauhlah

malaikatku mendekatlah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s