Arsip Bulanan: Januari 2014

Di Beri Gak Tanggung-Tanggung

Kemarin malam aku telah berjanji pada kucingku Mui akan membeli ikan untuk  menu hari ini. Aku kasihan Mui sepertinya sudah bosan dengan sozzis yang aku berikan padanya  2 hari berturut-turut . Hingga saat melihat sozzis pun Mui tak heran.  Tapi apa mau dikata sebagai anak kost yang tingkat kepraktisannya tinggi, aku masih berteguh hati memberinya sozzis. Hingga akhirnya aku berjanji untuk memasak hari ini.

 

Aku bangun dengan tak tahu planning apa yang aku harus kerjakan hari ini. Kejadian kemarin lusa telah merontokkan banyak semangatku untuk bertaruh nasib. Kabar baiknya aku telah di ACC oleh dosenku dan proposalku siap untuk aku seminarkan. Saat akan mendaftar untuk seminar, kabar pahit kembali menyapa, ya… aku harus bersabar hingga bulan Maret mendatang.  Aku sendiri masih harus memahami proposalku sehingga mungkin  Allah memberiku waktu untuk belajar lagi, hingga aku siap dengan semua kemungkinan pertanyaan yang akan ditanyakan oleh pengujiku. Sebelumnya aku bertaruh untuk skripsiku dengan mengabarkan kepada ibuku bahwa aku akan wisuda bulan April mendatang.  Hal yang sangat tak berperasaan memang, menggadaikan keinginan besar ibuku  untuk melihat putri satu-satunya wisuda. Tapi itulah caraku membangunkan semangat juangku, karena terkadang aku bingung saat ditanya mengapa ingin lekas-lekas wisuda, toh nantinya hanya akan menambah jumlah pengangguran di Indonesia tercinta….  Dan bisa ditebak aku akan lebih mengurusi proyek-proyek yang bersifat komersil dibanding harus berjibaku dengan urusan skripsi.  Cerita skripsiannya ntar ada momentnya…. Kalau nanti terfikirkan. Skripsi is just not about  writting but  an adventure  in different  live.  A k a Complicated….

 

Kembali ke ceritaku, tadi pagi aku baru beranjak keluar kamar ketika temanku datang untuk mengeprint surat-surat penelitian (lagi-lagi tentang skripsi). Aku tinggalkan dia bersama printer dan laptopku di dalam kamar, sedangkan aku pergi mandi, merendam pakaian, dan kemudian belanja ikan, cabe, dan minyak. Saat sedang menyiangi ikan, aksi rebut-rebutan ikan antara aku dan mui tak terelakkan lagi. Aku cepat-cepat menyiangi ikan, lalu sembari itu aku  memberikan jeroan ikan (isi perut ikan) kepada mui. Dan hal ini aku sangat sesali, karena mui tiba-tiba sakit malam ini dan kemungkinan besar karena makan ikan yang belum dimasak.

 

Aku memotong ikan menjadi  masing-masing tiga bagian dari dua ikan yang aku beli, jadi seluruhnya ada 6 potong, 2 potong bagian ekor, 2 potong bagian perut, 2 potong bagian kepala.  Aku sisihkan bagian kepala untuk mui. Selebihnya aku sambal. Cabe rawit banci yang aku beli setengah ons aku tumbuk hanya aku sisihkan beberapa  buah saja dengan anggapan akan bisa aku gunakan nanti jika aku ingin makan mie rebus. Aku masak tanpa aku cicip, aku tau temanku tak suka pedas maka aku putuskan menambahkan lebih banyak gula untuk sambalku kali ini.

 

 Adzan dzuhur berkumandang, aku  mengambil air wudhu dan kemudian shalat. Aku dapati temanku sedang terbaring di lantai berkasur tipis dan berbantal boneka biru milikku, dia sedang menahan rasa sakit diperutnya. Setelah selesai shalat aku bangunkan temanku untuk makan terlebih dahulu sebelum dia pergi ke kampus untuk mengawas ujian.  Aku perhatikan cara dia menikmati masakanku, tidak seperti saat aku memasak sarden beberapa hari yang lalu. Aku tanyakan kepadanya bagaimana rasanya sebelumnya aku member itahunya bahwa aku menambahkan ekstra gula kali ini karena pertimbangan yang aku gunakan cabe rawit. Dan jawabannya “manis”. Cabe rawitnya tidak pedas rupanya, dan  setelah aku cicipi masakanku malam ini. Aku juga bisa simpulkan bahwa kurang garam, tapi aku tidak sepakat kalau sambal ikan yang aku buat rasanya manis.

 

Beralih dari celotehanku tentang masakan ala chef dadakan tadi pagi. Ada hal yang paling urgent yang aku ingin ceritakan.  Aku teringat dengan faedah sedekah, dan aku rasa aku barusan mengalaminya..  Hal ini bukan bertujuan untuk membesar-besarkan, atau ingin memperlihatkan betapa mulianya aku. Tidak !.  Aku memang bukan orang baik, tapi untuk membuat cerita ini alasan untuk menjurus  aku seorang yang mulia juga tidak beralasan.  Aku hanya ingin membagikan apa yang barusan aku alami dan yang aku yakini sebagai pemberian yang gak tanggung-tanggung.  Malam ini saat aku sibuk dengan mengeprint  file-file dan mengumpulkannya. Tiba-tiba ibu kos memanggilku  dan memberiku nasi serta lauk yang sangat banyak untuk ukuran satu orang. Ibu kos ku bilang untuk besok-besok lagi, sambil mengingatkanku agar memanaskannya terlebih dahulu. Aku turuti pesan dari ibu kosku, aku memanaskan gulai ayam, dan sambal tempe diatas kompor, untuk pecal aku makan malam ini meskipun  tidak habis.  Sebab pecal sifatnya mudah basi dan tak bisa disimpan untuk esok hari.

 

Nah benang merah dari semua kejadian yang aku alami hari ini adalah bahwasannya jangan pernah enggan untuk berbagi selagi kita bisa bagi, contohnya tadi sambal yang rasanya gak sehebat masakan bintang 5 dan selagi janji harus benar –benar di tepati meskipun kepada binatang sekalipun. Allah maha melihat dan maha pemurah.  Maka berbagilah selagi kita bisa berbagi. wassalam