Penyadap Karet Oleh: Muhayatun

Pagi-pagi sesudah subuh ibu Tari sibuk menyiapkan keperluan anak-anaknya yang berjumlah 5 orang beserta suaminya Pak Sarno. Anaknya tiga orang bersekolah di SD dan satu orang telah SMP sedang anak Bungsunya belum sekolah. Ibu Tari menyiapkan sarapan sedangkan Pak Sarno menyiapkan air mandi untuk anak-anaknya dan memandikan mereka. Ibu Tari sambil memakaikan pakaian seragam sudah siap dengan sepiring nasi goreng yang beliau suapkan pada anak-anaknya yang sibuk memakai kaos kaki, dan memasukkan buku-buku kedalam tas. Setelah semua anggota keluarga siap dan telah sarapan masing-masing anaknya pamit pergi kesekolah dengan berjalan kaki. Sedangkan Ibu Tari dan Pak Sarno bersama si Bungsu bersiap pergi ke kebun untuk menyadap karet.
“Mak! Baju basahan motong1 bapak ada dimana?” Tanya bapak Sarno.
“ Kemaren dijemur disamping rumah Pak” jawab Bu Tari
“ Nur, sini ibu kasih minyak kayu putih badannya biar gak masuk angin nanti” panggil ibu Tari pada anak bungsunya. Nur mendekat dan segera diolesi minyak kayu putih perutnya, lalu dipakaikan pakaian hangat yang biasa Nur pakai pergi ke kebun. Bapak menyiapkan piso potong2 dan memanaskan motor Sege tahun 70an untuk berangkat ke kebun. Setelah menyiapkan bekal makanan dan mengunci pintu rumah Pak Sarno bersama anak dan istrinya meluncur ke kebun karet yang jaraknya 4 -5 Km dari rumah mereka.
***
Sesampai di kebun dua orang pasangan suami istri itu langsung menghampiri satu persatu pohon karet untuk menyadap dan mengumpulkan getahnya tetes demi tetes dalam sebuah batok kelapa. Getah yang keluar dari pohon yang disadap mengalir melalui sudu3 yang kemudian menetes masuk ke dalam batok kelapa. Mereka bekerja seperti dikejar waktu lincah menghampiri satu demi satu pohon selincah nyamuk-nyamuk yang mengerumuni lengan, wajah dan kaki mereka. Mereka harus cepat karena pekerjaan mereka bisa saja sia-sia jika tiba-tiba hujan datang dan mereka tidak sempat mengumpulkan getah yang tertampung di dalam batok-batok kelapa yang ada di setiap pohon yang telah mereka sadap.
Nur terkadang berjalan mengikuti ibunya atau ayahnya. Jika sedang rewel Nur minta gendong Bu Tari atau Pak Sarno, jika Nur sudah rewel maka Bu Tari atau Pak Sarno akan lebih susah karena harus menyadap karet dengan menggendong Nur di punggung. Hal yang sering Nur keluhkan jika nyamuk-nyamuk sudah menggigit tangan dan kakinya yang mungil, meski Nur sudah berbaju tebal. Nur terkadang memilih bermain di gubuk yang terbuat dari kayu dengan atap yang terbuat terpal lusuh.
Menjelang tengah hari Bu Tari dan Pak Sarno kembali ke gubuk untuk istirahat dan minum atau jika ada makan bekal makanan yang telah disiapkan dari rumah seperti nasi goreng atau pisang goreng sembari menunggu pohon karet meneteskan getahnya sampai tuntas sebelum akhirnya getah tidak menetes lagi mengeras dan menempel pada plan4. Sembari menunggu Pak Sarno mengeluarkan sebatang rokok dan menghisapnya. Sedangkan Ibu Tari sering disibukkan dengan tingkah polah Nur yang sering jatuh, merengek atau bahkan membersihkan rambut Nur dari tumpahan getah karet yang dia jadikan mainan saat berada di gubuk sendirian.
Saat dirasa pohon karet telah meneteskan getahnya secara maksimal, Pak Sarno dan Bu Tari akan pergi ke emplean5 untuk mengambil ember untuk menampung getah yang ada di batok kelapa di masing-masing pohon karet. Pak Sarno dan Bu Tari kembali menghampiri satu-persatu pohon karet dan mengambil getah yang telah terkumpul dalam batok-batok kelapa. Setelah ember-ember itu sudah penuh dengan getah Pak Sarno dan Bu Tari kembali ke emplean dan menyusun bekuan6 di dalamnya dan memisahkan getah yang cair di dalam ember yang lain dan kemudian mengambil getah dari pohon-pohon karet lainya yang belum di popol7. Pak Sarno dan Ibu Tari bisa bolak balik ke emplean 4 sampai 5 kali. Setelah semua pohon getah yang disadap telah dipopol, Pak Sarno mulai merapikan susunan bekuan di dalam emplean kemudian getah yang cair yang telah dipisahkan di dalam ember sendiri dicampurkan dengan cuka getah dan lalu di diaduk menggunakan kayu dari ranting pohon. Dan setelah itu cairan getah tersebut disiramkan ke dalam emplean yang telah berisi bekuan yang telah disusun. Cairan getah dan cuka getah itu menutupi bekuan dan menyatukan bekuan-bekuan tersebut menjadi satu karena sifat cuka itu melengketkan dan memadatkan getah. Bentuk akhir getah tersebut kenyal dan putih seperti tahu bahkan lebih putih dari tahu dan akan memadat selama beberapa jam kemudian. Semakin lama getah tersebut akan mengeluarkan bau yang tidak enak karena adanya reaksi kimia antara cuka getah dan getah. Dan setelah padat getah yang dicetak dalam emplean tersebut diangkat, dan empleannya digunakan kembali untuk mencetak getah karet lagi. Setiap trip8 Pak Sarno dan Bu Tari menjual getah-getah tersebut kepada tauke9. Harga jual getah sangat ditentukan oleh besarnya nilai dollar terhadap rupiah mungkin karena karet termasuk komoditi ekspor.
***
Pak Sarno dan Bu Tari pulang ke rumah saat matahari mulai ke barat. Sesampai dirumah Pak Sarno dan Bu Tari membersihkan diri dan shalat dzuhur. Bagi Ibu Tari pekerjaan baru sebagai ibu rumah tangga telah mengantri untuk dikerjakan. Mulai dari mengurus anak-anak. memasak, mencuci piring, menyapu rumah dan halaman, serta mencuci pakaian. Acapkali Bu Tari tak pernah sempat untuk tidur siang, karena pekerjaannya menuntutnya untuk dikerjakan. Sedangkan Pak Sarno mengisi waktu sorenya untuk mencari kayu bakar atau menanam ubi dan sayuran untuk membantu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Anak-anak Pak Sarno dan Bu Tari seakan tahu kondisi kedua orang tua mereka. Mereka tidak banyak menuntut, terkadang mereka sering membantu mencari kayu bakar atau memetik daun ubi untuk dibuat kluban10. Terkadang kakak-kakak Nur pulang dari mencari kayu bakar membawakan Nur buah-buahan hutan.
“Nur sini! Mau ndak, kakak ndue Buah temponek ki11” Panggil Kak Arif pada Nur
“Mau!” teriak Nur.
“Akeh buah temponek e dipanganin karo beruk, kakak cuma ngambil sisa nang ndak dimakan beruk12” cerita kak Arif pada Nur.
“Kak buah nang lain lagi buah gak? buah berang-berang, ridan, centik manis13” cerocos Nur bertanya pada kakaknya.
“ndak ngerti, tapi kalo Buah ridan sedeluk meneh wes kembang wingi kakak tilii14” Jawab Kak Arif
“ Kak Budi, kak Darman, Kak Soleh pada kemana kak? Tanya Nur pada Kak Arif
“Pergi mandi kali” jawab Kak Arif
“Ya… Nur gak diajak” keluh Nur dengan muka bersedih.
“ Mandilah nang umah wae lah, lagi banjir kali ne, Nur biso tenggelem, Nur kan gak bisa berenang, ndak enek jugo cah wedok mandi kali15” Hibur kakak Arif pada Nur
“Tapi Nur udah belajar berenang kok kak” bantah Nur pada kakaknya.
“ Ya… belajar renang di bak kamar mandi kan?” jawab kakaknya
“hehe… iya kak” jawab Nur karena malu.
“Gak bisa berenanglah kalo belajarnya aja di bak mandi” jawab kak Arif sambil tertawa yang diikuti dengan tawa Nur.
“Nur, Mandi!” panggil ibu Tari pada Nur
“ Nah, Mamak manggil kon mandi, cepet-cepet…. Berenang16” canda kakak Arif pada Nur.
Nur berlari menuju sumur untuk mandi. Selepas Nur mandi telah mengantri kakaknya yang juga akan mandi. Meskipun mereka telah mandi di sungai, mereka akan mandi lagi dirumah karena saat berenang disungai mereka tidak pernah sabunan. Dan bukannya bersih rambut mereka penuh pasir, dan kulit mereka menghitam terpapar sinar matahari. Dan Bu Tari bakalan mengomeli mereka jika mereka tidak mandi.
Menjelang magrib kakak-kakak Nur pergi ke masjid untuk shalat magrib dan mengaji. Nur belum ikut ke masjid karena jarak masjid dari rumah Nur cukup jauh. Dan seringkali jika Nur ikut pergi mengaji bukannya mengaji malah tertidur kecapean. Bahkan sekali waktu Nur pernah ngompol gara-gara suasana dingin sebab sehabis hujan deras turun. Kakak-kakak Nur beserta seluruh anak-anak yang mengaji, ustad dan bapak Sarno sibuk mengepel masjid. Karena itu pula Nur tidak pernah diajak ke masjid lagi dan diajarkan mengaji di rumah oleh Pak Sarno.
***
Pagi hari sesampai di kebun Pak Sarno dan Bu Tari menuju gubuk untuk mengambil baju basahan.
“Pak baju basahan digetakke nang ngendi?17” Tanya Bu Tari.
“nang samping gubuk wingi18” Jawab Bapak.
“Baju basahane kayak e digowo simpe Pak, gak ono neng sampiran19” Keluh Bu Tari
“ iya ya Mak? Wah payah simpe ki, nggak iso weruh baju nganggur titik20” Keluh bapak Sarno.
“ Kae lho Pak bajune temangsang neng wit kui21” Teriak Ibu Tari sambil menujuk kearah baju yang tersangkut di atas pohon. Keadaan menjadi gaduh setelah mengetahui baju yang akan dipakai tersangkut di atas pohon. Pak Sarno berusaha menggapai baju tersebut dengan kayu panjang namun tidak dapat-dapat. Nur hanya tertawa riang melihat hasil ulah iseng simpe-simpe nakal. Entah apa yang dicari simpe-simpe tersebut mengambil pakaian basahan yang selalu dipakai penyadap karet yang tentunya penuh cipratan getah dan keringat. Dengan sedikit kesabaran akhirnya baju basahan dapat diambil. Dan Pak Sarno dan Bu Tari mulai menyadap karet. Nur memilih bermain digubuk sendirian. Beberapa menit kemudian Nur berteriak-teriak memanggil Bapak dan Ibunya.
“ Mak, Pak ono beruk22” Teriak Nur dari gubuk
“ ono opo Nduk23? Tanya ibu Tari dari jauh sambil berteriak.
“ ono beruk Mak, ono beruk Mak24” Teriak Nur dengan penuh riang
Karena dengan suara Nur yang cadel kata “beruk” terdengar seperti kata “jeruk”. Ibu Tari segera berlari kearah gubuk karena khawatir ada orang asing yang akan menculik Nur dengan mengiming-imingi jeruk kepada Nur. Sesampai di gubuk Ibu Tari langsung bertanya pada anaknya.
“Ndi jeruk e Nduk?25” Tanya Ibu Tari pada Nur dengan nafas yang tersengal-sengal.
“Kui Mak26” jawab Nur sambil melongo menunjuk beruk yang tadinya mendekatinya menjauh memanjat pohon yang disamping gubuk.
“Masyaallah Nur, Mamak kira ada orang bawa jeruk ngasih kamu, rupanya beruk” ucap ibu Tari puas saat tahu anaknya aman dan meneruskan pekerjaannya.
Sementara Bu Tari makin menjauhi gubuk, beruk kecil yang terpisah dari rombongannya kembali mendekati Nur. Nur pun tanpa ada rasa takut memperlakukan beruk kecil itu seperti memperlakukan kucingnya di rumah. Nur mengelus rambut si beruk. Setiap hari jika Nur sudah sendirian beruk kecil itu akan menghampiri Nur dan bermain bersama. Sampai suatu ketika Bu Tari terkejut melihat anaknya makan satu tempat dengan si beruk.
“Nduk, kok maemnya bareng beruk27?”keluh Bu Tari .
“ Beruk nang ambil pisang gorengnya mak, tadi beruk manjat terus ngambil dewe28” Jawab Nur dengan melihat beruk yang pergi menjauh.
“Lain kali gak boleh kayak itu, jijik” Perintah Ibu Tari pada anaknya. Nur hanya manggut-manggut tanpa tahu apa maksud ibunya melarang. Karena beruk kecil itu selalu tahu bekal makanan Nur disimpan dimana, maka Nur dan beruk kecil itu masih saja makan di tempat yang sama. Sampai pada akhirnya Pak Sarno memutuskan memerangkap beruk kecil kedalam perangkap tikus yang dibawa dari rumah yang dipasang nasi di besi pengaitnya. Dan akhirnya beruk kecil tertangkap dan dipelihara dirumah Nur dan menjadi teman Nur di rumah.
selesai

Keterangan:
1 Baju basahan motong = baju kerja untuk menyadap karet
2 piso potong = alat untuk menyadap karet
3 sudu = potongan kaleng susu yang dibuat melengkung yang berfungsi untuk mengarahkan aliran getah ke dalam batok kelapa
4 plan = garis-garis yang terbentuk setelah menyadap karet
5 emplean = tempat atau wadah untuk mencetak getah
6 bekuan = getah yang membeku di dalam batok kelapa
7 popol = proses pengambilan getah dari dalam batok kelapa
8 trip = 2 pekan/ 2 minggu
9 tauke = Bandar/pembeli
10 kluban = sayuran yang hanya direbus saja
11 Mau ndak, kakak ndue Buah temponek ki = Mau tidak, kakak punya buah temponek
12 Akeh buah temponek e dipanganin karo beruk, kakak cuma ngambil sisa nang ndak dimakan beruk = banyak buah temponek yang dimakan monyet, kakak Cuma ambil sisa yang tidak dimakan monyet
13 Kak buah nang lain lagi buah gak? buah berang-berang, ridan, centik manis = kak buah yang lain ada yang lagi buah juga gak? Buah beran-berang, ridan, centik manis
14 ndak ngerti, tapi kalo Buah ridan sedeluk meneh wes kembang wingi kakak tilii = gak tahu, tapi kalo uah ridan sebentar lagi masak kakak kemarin lihat
15 Mandilah nang umah wae lah, lagi banjir kali ne, Nur biso tenggelem, Nur kan gak bisa berenang, ndak enek jugo cah wedok mandi kali = mandi saja dirumah, sungai sedang banjir, Nur nanti tenggelam, Nur kan gak bisa berenang, gak ada juga anak perempuan ikut-ikut mandi di sungai
16 Nah, Mamak manggil kon mandi, cepet-cepet…. Berenang = nah, ibu memanggil menyuruh mandi, ayo cepet… berenang
17 baju basahan digetakke nang ngendi = baju kerjanya diletakkan di mana
18 nang samping gubuk wingi = di samping gubuk kemaren
19 Baju basahane kayak e digowo simpe Pak, gak ono neng sampiran = baju kerjanya sepertinya dibawa simpe(sejenis monyet berbulu kuning keemasan dan berekor panjang)pak, tidak ada di jemuran
20 Wah payah simpe ki, nggak iso weruh baju nganggur titik = wah susah ini simpenya, gak bisa lihat baju yang tidak dipakai
21 Kae lho Pak bajune temangsang neng wit kui = itu lho bajunya tersangkut di pohon itu
22 Mak, Pak ono beruk = mak, pak ada beruk
23 ono opo Nduk = ada apa nak (panggilan untuk anak perempuan)
24 ono beruk Mak, ono beruk Mak = ada beruk (monyet) mak
25 Ndi jeruk e Nduk = Mana jeruknya nak
26 Kui Mak = itu Mak
27 Nduk, kok maemnya bareng beruk = Nak kok makannya bareng monyet
28 Beruk nang ambil pisang gorengnya mak, tadi beruk manjat terus ngambil dewe = Monyet yang ambil pisang gorengnya, monyetnya manjat terus mengambil sendiri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s