Arsip Bulanan: Januari 2015

Lelah, Kata itu yang kini terlintas. Mungkin memang tak ada yang harus aku pungkiri bahwa kehidupan di lingkup yang lebih luas memerlukan kekuatan yang kuat pula, saat semua jalan yang ada tak hanya bercabang tapi telah beranting. Ingin marah dan lari saja, karena ini seperti bukan kehidupanku, tapi aku sadari inilah kehidupanku yang sebenarnya. Mungkin aku saat beberapa tahun yang lalu hanya diberikan tugas berupa pilihan ganda, yang berarti aku hanya butuh memilih yang benar diantara yang salah. Sekarang tugas yang aku dapati berupa persoalan-persoalan esay yang aku harus pikirkan teori, aplikasinya, dan tentunya kebermaknaannya. Saat untuk” emang gue pikirin” ingin aku jadikan solusinya. Namun, jika iya, aku telah sangat egois, meskipun pada kenyataannya aku tak bisa. Ini menyangkut udara disekitarku, air yang aku minum dan tanah yang aku pijak. Kurang akal jika pikiranku tak memikirkannya.

Ketika lilin harus sekuat baja dan ketika permen harus jadi obat. Mau apa lagi???. Hal yang harus dilakukan adalah melapangkan kesabaran, meluaskan keikhlasan, dan mematikan egoitas diri. Ini bukan hal menjadi sukarelawan atau mengorbankan diri hanya saja ini adalah masalah eksistensi tujuan diciptakannya manusia oleh Sang Pencipta. Karena sebuah keyakinan “bahwasannya semua makhluk yang diciptakan bukan tanpa sebab”. Aku hanya mencari bagian-bagian itu. Itulah mengapa ada Hablumminannas (hubungan manusia dengan manusia) selain Hablumminallah (hubungan manusia dengan Allah). Hal yang mungkin bisa jadi contoh ketika Allah menciptakan Hawa untuk Adam. Hawa memiliki tujuan diciptakan untuk Adam.

Lihatlah. Betapa banyak orang tua menangis dalam diamnya melihat anaknya tumbuh menjadi remaja. Kau tahu air mata apa itu? iya air mata kekhawatiran. Betapa banyak orang tua yang tergolong cerewet. Aku katakan Nyaris 100%. Siapa yang membuat mereka menjadi cerewet sedemikian rupa hingga karakter saat mudanya yang kalem, lemah lembut, tenang itu nyaris tak terlihat. Iya itu adalah karena perasaan khawatirnya yang besar terhadap anaknya. Tapi entahlah! Lihatlah. Betapa banyak anak-anak yang meminta uang mengaku untuk beli buku padahal sabu-sabu, mengaku beli tas padahal beli ektasi, mengaku beli rujak malah asyik ngelinting ganja. Mungkin ada kesalahan di syaraf otak mereka. Banyak neuron-neuron yang tak terhubung satu dan lainnya atau mungkin cabang dendrit yang ada tak banyak sehingga kurang peka dengan impuls yang datang.

Lihatlah yang paling aku khawatirkan dan aku takutkan jika Allah memasukkan aku diantara mereka yang hilang kesadarannya. Yang ketika berkata kepada orang tua hanya melukai perasaan keduanya, betapa tidak berperikemanusiaan seorang anak jika sedemikian rupa. Meskipun tak disematkan pula orang tua selalu dalam pihak yang benar. Karena semua tentu punya kekurangan.

Aku haus saat ini, semua persoalan kini makin jelas dan makin banyak. diserahi amanah ilmu yang telah lama aku gali dan kini harus aku curahkan air kebermanfaatannya untuk sekitarku. Bukan hal yang mudah kawan. Di saat kewajibanmu hanya berfokus untuk dirimu saja maka semua resiko paling banyak hanya kau yang rasakan. Namun, apabila kewajibanmu adalah menyangkut kemaslahatan dan  kehidupan yang damai sentosa aku rasa sang kancil yang bijaklah yang harus jadi contohnya. Ilmu sebanyak apapun yang terkumpul jika proses aplikasinya tak bernilai hanya sebuah isapan jempol namanya. Sekarang aku baru tahu bahwasannya saat ini aku “SYOKKKK” karena cerita bawang putih dan bawang merah, ande-ande lumut dan timun Mas itu tak pernah hanya setebal 3 halaman HVS.

Ya Allah, Jika NARKOBA itu sedang naik daun maka ciptakanlah ulat bulu yang banyak untuk memakan daunnya agar NARKOBA itu jatuh dan hilang dari muka bumi ini. Jika para pengedar narkoba dan bandar narkoba itu sedang menghitung uang berkarung-karung hasil jual NARKOBA maka aku mohon rubahlah uang tersebut jadi daun kering yang tak bernilai. Ya Allah, Jika saat ini para anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda-pemudi  yang sedang di panti rehabilitasi sedang sakaw berat, Kirimkanlah sejuta kunang-kunang yang berkelip-keip untuk meredakan rasa sakitnya. Ya Allah jika saat ini mereka yang sedang dirundung duka akibat kehilangan orang terkasihnya karena Narkoba, Kirimkanlah sejuta bunga untuk mengusir rasa dukanya. Ya Allah jika saat ini para polisi sedang introgasi  para bandar Narkoba dan Pengedar. Kirimkanlah malaikat penjaga neraka untuk menemaninya agar  para residivis itu jujur-sejujurnya. Ya Allah jika ada pembaca blog yang mampir di bloggu dan membaca kekesalanku ini terhadap NARKOBA, Aku mohon mudahkanlah mereka ucapkan amin untuk doa pendekku ini.

Ya Allah terimakasih atas perlindunganMu selama ini, KAsihMu, cintaMu, SayangMU satu-satunya yang paling nyata dalam hidupku. Ajarkan aku untuk menjadi hamba yang tak lupa merengek padaMu. Tetapkan hatiku untuk selalu untukMu. Ijinkan aku berkata ” Aku Cinta Engkau Tuhanku”. Maklumilah jika aku terlalu manusiawi.

Menyapa Hati

Ini  adalah percakapan antara siapa dan siapa. Tak mempunyai maksud khusus hanya menulis kejujuran. Agar semua bisa terasa lebih mikir dan tidak dianggap gila, ambisius, atau lebih-lebih tak tahu diri. Ini hanya sebuah percakapan dan hanya itu.

Siapa : Semua semakin banyak yang habis tapi hanya sesuatu yang kosong yang tak tahu nilainya, tak tahu benar atau salah.

Siapa : Berbicara apa? Tak pernahkah pikiran itu terlintas, “HAl diam yang ternyata lebih disukai dari pada ribet-ribet dengan urusan yang belum tentu menjadi  sesuatu yang akan disyukuri kelak.

Siapa : Apa? Kenapa berargumen demikian di saat semua itu belum ada atau bahkan tidak akan pernah terjadi. Hati ini punya iman, hati ini tahu terimakasih.

Siapa : Jika memang demikian kenapa keluhan banyak terbersit, ungkapan tak puas akan diri bergulir seiring waktu. Seakan apa yang telah di dapat tak bernilai, seakan anugrah  yang telah tersemat bukan apa-apa. Tidak kah ocehan itu menyatakan bahwa mendengar, melihat, merasa itu kemerdekaan Tapi buktinya hati itu tetap mampu terjajah  saat hal indah milik yang lainnya tak pernah terasa atau semua hal indah hanya tersimpan rapat di dalam black box  yang tak pernah terurai misterinya atau bahkan tak ada daya untuk mewujudkannya.

Siapa : Apa yang terpikir saat kata manusia terlintas dipikiranmu. Seonggok daging yang Karna dengan Kasih Allah mampu dikatakan makhluk hidup.  Dan syukurnya CintaNya  juga menganugrahkan otak yang orang ilmuan beri nama cerebrum, cerebellum, diansepalon, sampai medula oblongata. Tapi tak semua daging itu tahu menggunakannya. Tangisan itu bukan sebuah sakit hati dari kondisi indah yang hanya bisa didengar atau dilihat. Tapi lebih dari ketidakmampuan akan mengaktifkan semua perangkat itu. Dan lebih sakitnya saat hanya menurut saja saat hipothalamus menyuruh lelah dan kemudian menghilangkan bahkan me- reset ulang semua itu. Hati ini cukup kering berteriak-teriak tapi respon tak kunjung datang. Hati dengan lebih bijak menyimpan harap itu, agar kelak jika Allah berkenan harapan itu dikabulkan dan menjadi hadiah untuk seonggok daging yang disebut manusia. Seperti otot yang tak tahu bahwasannya dia dapat bergerak karena si rangka yang melakukannya.

Siapa : Keajaiban ! Mengapa ada kata itu di kosa kata bahasa. Jika semua manusia hanmpir tak pernah meyakininya.  Bukankah si Molusca  dari gastropoda hingga yang nampak di banyangan pikiran kita “seekor bekicot yang bertaruh untuk hidupnya dengan mengandalkan gerakkan otot perutnya dan catatlah si bekicot tak berangka. tapi apakah dia menangisi kondisinya. Meski dalam beberapa kisah si bekicot selalu kalah waktu dalam mendapatkan makanan. Itulah hidup saat semua interaksi yang terjadi tidak selalu menguntungkan bukankah para ilmuan menamai itu sebagai tiga simbiosis : mutualisme, komensalisme, parasitisme yang dalam artian yang lebih sederhana “untung-untung, untung -tidak rugi, untung-dirugikan”.

Siapa : Akhirnya meskipun kata Keajaiban itu ada , yang bisa dilakukan hanyalah merengek dengan upaya, atau merengek dengan upaya dan syukur, atau merengek dengan upaya dan syukur dan tahu diri. Semua itu pilihan.

Siapa : Sudah mulai kering, Berharap hujan itu membawa angin yang sama dengan arah yang akan dituju. Lagi-Lagi keajaibanlah yang dinanti-nantikan.

“Sebuah penerimaan akan terasa lebih melegakan saat semua aral dan rintang terlampaui sehingga tak pernah ada terbesit rasa menyesal di dalamnya”.

 

Di belahan dunia manapun, kapanpun,  bagaimanapun. Sebuah kisah akan terus bergulir menggantikaan kisah-kisah yang telah termakan masa. Sebuah ayat menyampaikan bahwasannya ” Demi masa, manusia itu dalam kerugian”. Nah itulah yang terjadi pada manusia-manusia seperti kita yang sudah menjadi wadahnya khilaf dan salah. ^_^. Aku bersyukur  masih dipertemukan dengan hari ini, masih menorehkan sepotong kisah bagian dari skenarioku di dunia fana. Aku bertemu dengan kenyataan yang mengajarkanku melek melihatnya,  bersorai akhirnya aku dapatkan kesempatan langka dimana semua kejujuran, kepolosan, kemerdekaan itu tersaji dalam kisahku sore ini.  Aku hanya pembelajar yang sedang girang saat melihat hal baru ada di hadapanku. Dan aku tak perlu menyesali atau menyalahkan diriku atas kisahku yang menurut paradigma yang bukan paradigmaku menganggap keliru. Sebagai orang merdeka aku katakan bahwa tadi adalah belajar yang sesungguhnya. Tindakanku mungkin bisa jadi merugikan tapi jika mereka tidak merasa rugi lalu apakah aku dianggap tak berguna. Aku hadir di tengah kondisi dimana kenyataan, kejujuran,kepolosan dibalut ketidaksadaran. Maka hal yang harus aku lakukan pertama kali tentu membuat kesadaran itu pulih. Dan sore ini aku mencoba menyapa hati.  aku mengajak mereka berbicara banyak hal tentang hati. Dan aku harap malam ini mereka hati-hati yang luar biasa yang telah aku sapa menemukan jawaban atas pertanyaan kehidupan yang tak ada hentinya. Ya aku berharap hal itu memang terjadi. Aku menginginkan hati yang bangun dari tidur  nyenyak yang melenakan.  Belum banyak buku yang aku baca tapi aku yakin buku Allah sangat luas yang akan mengajarkan mereka  yang sadar hatinya. Sekali lagi syukurku atas pembelajaran yang aku peroleh sore ini. Sungguh anugrah yang indah dan patut aku syukuri.

Ya Allah engkau penulis skenario yang paling handal, aku hanya sebagai aktor yang memerankan kisah-kisahku selama aku hidup. Ya Allah kisah-kisah ini hanya engkau sampaikan karena  sebab dari kasih sayangMu yang tak terperi untuk hamba-hambamu. Ya Allah sebagai aktor aku hanya pemeran yang diarahkan, tapi Ya Allah dengan Kasihmu yang luas buatlah kisahku sore ini berakhir bahagia. Ya Allah aku mohon sapalah hati-hati polos nan jujur itu, berilah kemudahan hati-hati itu menemukan serpihan-serpihan yang kelak akan menjadikan hati-hati itu makin tangguh dan hebat. Kesuksesan dunia dan akhirat. Ya Allah aku sungguh jatuh cinta pada hati-hati itu cintaku mungkin tak seindah cintaMu pada mereka. Tapi izinkanlah cintaku menjadi doa untuk mereka agar mereka menemukan diri mereka yang sebenarnya, hidup dengan passion mereka. dan pantang menyerah melanjutkan kisah-kisah hidup mereka hingga mereka Engkau ambil dari skenario dunia ini. Sayangi, Lindungi dan Kasihi mereka Ya Allah…. Aku mohon kabulkan . Amin

Sedekah Makanan

Tulisan ini dilatar belakangi dari kejadian yang penulis temui saat acara temu kangen dengan teman-teman kuliah di Ancol Jambi . Gak banyak sih hanya kami bertiga.  Di tengah kami sedang bertanya kabar masing-masing ada seorang nenek mendekati dengan plastik bening di tangan kanannya. Dia mengulurkan plastik tersebut kepada kami, pada awalnya kami bertiga terpaku memandang nenek tersebut, sampai detik berikutnya nenek tersebut mengatakan kata ” aku nak makan” dengan nada sedikit memaksa. Kami memberikan sedikit yang kami punya . Pandangan kami masih mengekor kemana nenek itu beranjak, tiba-tiba nenek tersebut berkata lagi “Heh,, situ sudah, dibawah situ na…”. Ternyata dia berkata dengan seorang nenek yang rupanya sangat mirip dengannya. Dan kami bertiga bisa simpulkan mereka adalah kembar. Tak berbeda jauh dengan nenek yang menghampiri kami nenek tersebut juga meminta derma. Dalam hatiku ada rasa yang tidak senang dengan pemandangan tersebut. Karena diusia mereka yang sudah lanjut seperti mereka, untuk mengganjal rasa lapar mereka, mereka harus mengemis. Kalau sudah seperti ini pikiranku akan sampai ke nenekku di rumah. Dan itu bukan hal yang aku sukai. Setelah itu mereka menghitung uang yang mereka dapatkan. Sembari mengkompromikan sesuatu, aku sendiri tak begitu paham. Kemudian salah satu nenek berteriak kepada abang penjual satu ” Sate satu piring yo” nenek yang lainnya “jagung bakar sikok”. Tingkah nenek tersebut disambut dengan celetukan-celetukan dari abang pengamen dan abang penjual lain dengan tawa yang sepertinya mengejek. Sepertinya kedua nenek tersebut selalu melakukan hal tersebut sejak lama. Sehingga tingkah mereka tidak asing bagi penjual makanan dan pengamen yang ada di daerah tersebut.

Tujuanku menulis ini bukan untuk menilai tindakan nenek tersebut. Tak ada satupun yang berhak menilainya atau memfonis apa yang mereka kerjakan.  Aku dengan ini mengajak para pembaca jika berkenan melakukan tindakan mulia yaitu berbagi makanan. Aku pernah membaca sebuah arikel tentang kopi yang ditunda (suspend coffie) yaitu membayar kopi yang diambilnya tidak  untuk diri sendiri atau diperuntukkan bagi orang yang datang ke kedai kopi tersebut  yang tidak memiliki cukup uang. Mereka hanya akan menanyakan “apakah ada kopi yang ditangguhkan untuknya?”. Nah budaya itu telah membantu para fakir miskin untuk dapat meminum kopi yang sama dengan orang lain kebanyakan. Budaya inilah yang akan penulis ajak ke para pembaca. Untuk kasus nyata di atas saja  nenek tersebut setiap hari mengemis di daerah ancol jambi,  jika kalian berkenan saat kalian memesan makanan pesanlah sekalian dua porsi dimana porsi yang satu kalian tangguhkan untuk diberikan kepada nenek tersebut. Jika hal ini benar-benar terjadi maka nenek-nenek tersebut tak perlu meminta-minta. Dan penulis yakin banyak pendatang yang merasa lebih nyaman jika suasana berkumpul di ancol Jambi dengan keluarga atau teman tidak ada yang meminta derma.

Penulis pun yakin kondisi mengemis bukanlah keinginan tapi paksaan hidup. Dan setiap orang akan bisa mengalaminya jika terpaksa seperti nenek kembar yang merasa lapar.