Sedekah Makanan

Tulisan ini dilatar belakangi dari kejadian yang penulis temui saat acara temu kangen dengan teman-teman kuliah di Ancol Jambi . Gak banyak sih hanya kami bertiga.  Di tengah kami sedang bertanya kabar masing-masing ada seorang nenek mendekati dengan plastik bening di tangan kanannya. Dia mengulurkan plastik tersebut kepada kami, pada awalnya kami bertiga terpaku memandang nenek tersebut, sampai detik berikutnya nenek tersebut mengatakan kata ” aku nak makan” dengan nada sedikit memaksa. Kami memberikan sedikit yang kami punya . Pandangan kami masih mengekor kemana nenek itu beranjak, tiba-tiba nenek tersebut berkata lagi “Heh,, situ sudah, dibawah situ na…”. Ternyata dia berkata dengan seorang nenek yang rupanya sangat mirip dengannya. Dan kami bertiga bisa simpulkan mereka adalah kembar. Tak berbeda jauh dengan nenek yang menghampiri kami nenek tersebut juga meminta derma. Dalam hatiku ada rasa yang tidak senang dengan pemandangan tersebut. Karena diusia mereka yang sudah lanjut seperti mereka, untuk mengganjal rasa lapar mereka, mereka harus mengemis. Kalau sudah seperti ini pikiranku akan sampai ke nenekku di rumah. Dan itu bukan hal yang aku sukai. Setelah itu mereka menghitung uang yang mereka dapatkan. Sembari mengkompromikan sesuatu, aku sendiri tak begitu paham. Kemudian salah satu nenek berteriak kepada abang penjual satu ” Sate satu piring yo” nenek yang lainnya “jagung bakar sikok”. Tingkah nenek tersebut disambut dengan celetukan-celetukan dari abang pengamen dan abang penjual lain dengan tawa yang sepertinya mengejek. Sepertinya kedua nenek tersebut selalu melakukan hal tersebut sejak lama. Sehingga tingkah mereka tidak asing bagi penjual makanan dan pengamen yang ada di daerah tersebut.

Tujuanku menulis ini bukan untuk menilai tindakan nenek tersebut. Tak ada satupun yang berhak menilainya atau memfonis apa yang mereka kerjakan.  Aku dengan ini mengajak para pembaca jika berkenan melakukan tindakan mulia yaitu berbagi makanan. Aku pernah membaca sebuah arikel tentang kopi yang ditunda (suspend coffie) yaitu membayar kopi yang diambilnya tidak  untuk diri sendiri atau diperuntukkan bagi orang yang datang ke kedai kopi tersebut  yang tidak memiliki cukup uang. Mereka hanya akan menanyakan “apakah ada kopi yang ditangguhkan untuknya?”. Nah budaya itu telah membantu para fakir miskin untuk dapat meminum kopi yang sama dengan orang lain kebanyakan. Budaya inilah yang akan penulis ajak ke para pembaca. Untuk kasus nyata di atas saja  nenek tersebut setiap hari mengemis di daerah ancol jambi,  jika kalian berkenan saat kalian memesan makanan pesanlah sekalian dua porsi dimana porsi yang satu kalian tangguhkan untuk diberikan kepada nenek tersebut. Jika hal ini benar-benar terjadi maka nenek-nenek tersebut tak perlu meminta-minta. Dan penulis yakin banyak pendatang yang merasa lebih nyaman jika suasana berkumpul di ancol Jambi dengan keluarga atau teman tidak ada yang meminta derma.

Penulis pun yakin kondisi mengemis bukanlah keinginan tapi paksaan hidup. Dan setiap orang akan bisa mengalaminya jika terpaksa seperti nenek kembar yang merasa lapar.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s