Menyapa Hati

Ini  adalah percakapan antara siapa dan siapa. Tak mempunyai maksud khusus hanya menulis kejujuran. Agar semua bisa terasa lebih mikir dan tidak dianggap gila, ambisius, atau lebih-lebih tak tahu diri. Ini hanya sebuah percakapan dan hanya itu.

Siapa : Semua semakin banyak yang habis tapi hanya sesuatu yang kosong yang tak tahu nilainya, tak tahu benar atau salah.

Siapa : Berbicara apa? Tak pernahkah pikiran itu terlintas, “HAl diam yang ternyata lebih disukai dari pada ribet-ribet dengan urusan yang belum tentu menjadi  sesuatu yang akan disyukuri kelak.

Siapa : Apa? Kenapa berargumen demikian di saat semua itu belum ada atau bahkan tidak akan pernah terjadi. Hati ini punya iman, hati ini tahu terimakasih.

Siapa : Jika memang demikian kenapa keluhan banyak terbersit, ungkapan tak puas akan diri bergulir seiring waktu. Seakan apa yang telah di dapat tak bernilai, seakan anugrah  yang telah tersemat bukan apa-apa. Tidak kah ocehan itu menyatakan bahwa mendengar, melihat, merasa itu kemerdekaan Tapi buktinya hati itu tetap mampu terjajah  saat hal indah milik yang lainnya tak pernah terasa atau semua hal indah hanya tersimpan rapat di dalam black box  yang tak pernah terurai misterinya atau bahkan tak ada daya untuk mewujudkannya.

Siapa : Apa yang terpikir saat kata manusia terlintas dipikiranmu. Seonggok daging yang Karna dengan Kasih Allah mampu dikatakan makhluk hidup.  Dan syukurnya CintaNya  juga menganugrahkan otak yang orang ilmuan beri nama cerebrum, cerebellum, diansepalon, sampai medula oblongata. Tapi tak semua daging itu tahu menggunakannya. Tangisan itu bukan sebuah sakit hati dari kondisi indah yang hanya bisa didengar atau dilihat. Tapi lebih dari ketidakmampuan akan mengaktifkan semua perangkat itu. Dan lebih sakitnya saat hanya menurut saja saat hipothalamus menyuruh lelah dan kemudian menghilangkan bahkan me- reset ulang semua itu. Hati ini cukup kering berteriak-teriak tapi respon tak kunjung datang. Hati dengan lebih bijak menyimpan harap itu, agar kelak jika Allah berkenan harapan itu dikabulkan dan menjadi hadiah untuk seonggok daging yang disebut manusia. Seperti otot yang tak tahu bahwasannya dia dapat bergerak karena si rangka yang melakukannya.

Siapa : Keajaiban ! Mengapa ada kata itu di kosa kata bahasa. Jika semua manusia hanmpir tak pernah meyakininya.  Bukankah si Molusca  dari gastropoda hingga yang nampak di banyangan pikiran kita “seekor bekicot yang bertaruh untuk hidupnya dengan mengandalkan gerakkan otot perutnya dan catatlah si bekicot tak berangka. tapi apakah dia menangisi kondisinya. Meski dalam beberapa kisah si bekicot selalu kalah waktu dalam mendapatkan makanan. Itulah hidup saat semua interaksi yang terjadi tidak selalu menguntungkan bukankah para ilmuan menamai itu sebagai tiga simbiosis : mutualisme, komensalisme, parasitisme yang dalam artian yang lebih sederhana “untung-untung, untung -tidak rugi, untung-dirugikan”.

Siapa : Akhirnya meskipun kata Keajaiban itu ada , yang bisa dilakukan hanyalah merengek dengan upaya, atau merengek dengan upaya dan syukur, atau merengek dengan upaya dan syukur dan tahu diri. Semua itu pilihan.

Siapa : Sudah mulai kering, Berharap hujan itu membawa angin yang sama dengan arah yang akan dituju. Lagi-Lagi keajaibanlah yang dinanti-nantikan.

“Sebuah penerimaan akan terasa lebih melegakan saat semua aral dan rintang terlampaui sehingga tak pernah ada terbesit rasa menyesal di dalamnya”.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s