Lelah, Kata itu yang kini terlintas. Mungkin memang tak ada yang harus aku pungkiri bahwa kehidupan di lingkup yang lebih luas memerlukan kekuatan yang kuat pula, saat semua jalan yang ada tak hanya bercabang tapi telah beranting. Ingin marah dan lari saja, karena ini seperti bukan kehidupanku, tapi aku sadari inilah kehidupanku yang sebenarnya. Mungkin aku saat beberapa tahun yang lalu hanya diberikan tugas berupa pilihan ganda, yang berarti aku hanya butuh memilih yang benar diantara yang salah. Sekarang tugas yang aku dapati berupa persoalan-persoalan esay yang aku harus pikirkan teori, aplikasinya, dan tentunya kebermaknaannya. Saat untuk” emang gue pikirin” ingin aku jadikan solusinya. Namun, jika iya, aku telah sangat egois, meskipun pada kenyataannya aku tak bisa. Ini menyangkut udara disekitarku, air yang aku minum dan tanah yang aku pijak. Kurang akal jika pikiranku tak memikirkannya.

Ketika lilin harus sekuat baja dan ketika permen harus jadi obat. Mau apa lagi???. Hal yang harus dilakukan adalah melapangkan kesabaran, meluaskan keikhlasan, dan mematikan egoitas diri. Ini bukan hal menjadi sukarelawan atau mengorbankan diri hanya saja ini adalah masalah eksistensi tujuan diciptakannya manusia oleh Sang Pencipta. Karena sebuah keyakinan “bahwasannya semua makhluk yang diciptakan bukan tanpa sebab”. Aku hanya mencari bagian-bagian itu. Itulah mengapa ada Hablumminannas (hubungan manusia dengan manusia) selain Hablumminallah (hubungan manusia dengan Allah). Hal yang mungkin bisa jadi contoh ketika Allah menciptakan Hawa untuk Adam. Hawa memiliki tujuan diciptakan untuk Adam.

Lihatlah. Betapa banyak orang tua menangis dalam diamnya melihat anaknya tumbuh menjadi remaja. Kau tahu air mata apa itu? iya air mata kekhawatiran. Betapa banyak orang tua yang tergolong cerewet. Aku katakan Nyaris 100%. Siapa yang membuat mereka menjadi cerewet sedemikian rupa hingga karakter saat mudanya yang kalem, lemah lembut, tenang itu nyaris tak terlihat. Iya itu adalah karena perasaan khawatirnya yang besar terhadap anaknya. Tapi entahlah! Lihatlah. Betapa banyak anak-anak yang meminta uang mengaku untuk beli buku padahal sabu-sabu, mengaku beli tas padahal beli ektasi, mengaku beli rujak malah asyik ngelinting ganja. Mungkin ada kesalahan di syaraf otak mereka. Banyak neuron-neuron yang tak terhubung satu dan lainnya atau mungkin cabang dendrit yang ada tak banyak sehingga kurang peka dengan impuls yang datang.

Lihatlah yang paling aku khawatirkan dan aku takutkan jika Allah memasukkan aku diantara mereka yang hilang kesadarannya. Yang ketika berkata kepada orang tua hanya melukai perasaan keduanya, betapa tidak berperikemanusiaan seorang anak jika sedemikian rupa. Meskipun tak disematkan pula orang tua selalu dalam pihak yang benar. Karena semua tentu punya kekurangan.

Aku haus saat ini, semua persoalan kini makin jelas dan makin banyak. diserahi amanah ilmu yang telah lama aku gali dan kini harus aku curahkan air kebermanfaatannya untuk sekitarku. Bukan hal yang mudah kawan. Di saat kewajibanmu hanya berfokus untuk dirimu saja maka semua resiko paling banyak hanya kau yang rasakan. Namun, apabila kewajibanmu adalah menyangkut kemaslahatan dan  kehidupan yang damai sentosa aku rasa sang kancil yang bijaklah yang harus jadi contohnya. Ilmu sebanyak apapun yang terkumpul jika proses aplikasinya tak bernilai hanya sebuah isapan jempol namanya. Sekarang aku baru tahu bahwasannya saat ini aku “SYOKKKK” karena cerita bawang putih dan bawang merah, ande-ande lumut dan timun Mas itu tak pernah hanya setebal 3 halaman HVS.

Ya Allah, Jika NARKOBA itu sedang naik daun maka ciptakanlah ulat bulu yang banyak untuk memakan daunnya agar NARKOBA itu jatuh dan hilang dari muka bumi ini. Jika para pengedar narkoba dan bandar narkoba itu sedang menghitung uang berkarung-karung hasil jual NARKOBA maka aku mohon rubahlah uang tersebut jadi daun kering yang tak bernilai. Ya Allah, Jika saat ini para anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda-pemudi  yang sedang di panti rehabilitasi sedang sakaw berat, Kirimkanlah sejuta kunang-kunang yang berkelip-keip untuk meredakan rasa sakitnya. Ya Allah jika saat ini mereka yang sedang dirundung duka akibat kehilangan orang terkasihnya karena Narkoba, Kirimkanlah sejuta bunga untuk mengusir rasa dukanya. Ya Allah jika saat ini para polisi sedang introgasi  para bandar Narkoba dan Pengedar. Kirimkanlah malaikat penjaga neraka untuk menemaninya agar  para residivis itu jujur-sejujurnya. Ya Allah jika ada pembaca blog yang mampir di bloggu dan membaca kekesalanku ini terhadap NARKOBA, Aku mohon mudahkanlah mereka ucapkan amin untuk doa pendekku ini.

Ya Allah terimakasih atas perlindunganMu selama ini, KAsihMu, cintaMu, SayangMU satu-satunya yang paling nyata dalam hidupku. Ajarkan aku untuk menjadi hamba yang tak lupa merengek padaMu. Tetapkan hatiku untuk selalu untukMu. Ijinkan aku berkata ” Aku Cinta Engkau Tuhanku”. Maklumilah jika aku terlalu manusiawi.

Iklan

7 pemikiran pada “Ulat Pemakan Daun

    1. kakak, curang kakak nemplokin blog aku di deretan blog yang kakak sukai di blog kakak, tapi aku gak boleh tau blog kakak, akhirnya kemaren dikasih tau wordpress”” -_-….
      But, Haappy birthday my sister….
      You are my inspiration
      always as a as now, be good people, be good sister, and be good inspiration to all of people. success my little sister… MISS U TOO

    1. haha…. fb ya kak, udah kami nonaktifin. berdasarkan hasil penelitian fb bisa bikin depresi kak. kan bahaya kak… 🙂 kami stay di twitter @mlincar kak.

    1. hehe kami masih di kampung kak, kami sekarang jadi pengajar freelance di bimbel go muara bulian… pingin kayak kk bisa belajar keluar kota… huhu…. :U

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s