Pendapat Dan Jepretan

Abaikan Saja Hanya Sekadar Lintasan Pikiran

Bukan berarti tulisan ini dikhususkan untuk wanita dan bukan berarti juga tulisan ini bermaksud untuk menyadarkan para wanita bahwa sesungguhnya mereka telah kehilangan siapa diri mereka sebenarnya, Meskipun secara psikologi wanita dianggap makhluk yang rawan plin plan karena kebanyakan mereka tidak bisa memastikan apa yang sebenarnya mereka inginkan. Dalam tatanan kehidupan masyarakat wanita selalu di tempatkan dibelakang suami, kakak, ayah mereka. Sehingga mereka sudah terbiasa hidup dengan perasaan aman, Tapi kenyataan terkadang mengatakan bahwa perasaan aman itu tak sekonyong-konyong gratis mereka dapatkan. Hanya mengingatkan saja wanita bukan tepatnya seorang pasangan hidup wanita akan dinilai dari bisakah dia masak? Bisakah dia merawat diri? Bisakah dia menjahit? Bisakah dia menyapu, mengepel, sampai memperbaiki kompor? OH…. Jangan menyangkal sebagian masih menggunakannya sebagai tolak ukur. Makanya sewaktu kecil anak perempuan dibelikan mainan masak-masakkan agar jiwa mereka kenal dengan hal tetek bengek di dapur. Lalu apa yang dimaksud berperan ganda? Tidakkah banyak keluarga yang ibunya harus banting tulang juga mencukupi kebutuhan keluarga? Dan di rumah mereka masih harus berurusan dengan tetek bengeknya. Kata-kata ini sudah pernah tertulis. Berapa banyak wanita yang saat gadisnya lemah lembut saat berkeluarga menjadi sangat cerewet. Jadi sadar atau tidak sadar alam telah memutasi mereka menjadi orang yang berbeda. Lalu sadarkah? pernahkah kalian mendiagnosis bahwa mereka telah terserang penyakit. Ya, Kehidupan yang mereka jalani membuat hati mereka tergerus, kebahagiaan yang mereka inginkan tak gratis mereka dapatkan., posisi mereka hanya membuat mereka harus bertahan dengan harapan pahala dari Khalik.

Beberapa yang hidup sempurna tanpa cap benalu dan tanpa peran ganda mungkin ada. Ya ada Mereka yang tak perlu menghianati hati mereka. Mereka yang tak di dikte kehidupannya, tapi mereka yang jiwanya sadar bahwa kehidupan adalah Melakukan yang terbaik, bahwa jalan yang harus ditempuh harus beriringan bukan tepatnya bersampingan berjalan, bukan berbaris membujur kebelakang yang tak tahu jalannya itu diseret-seretkah atau didorong-dorongkah.

Sekali lagi ini hanya sebuah lintasan pikiran dari jepret kehidupan yang penulis temui. Mungkin masih banyak contoh kehidupan yang berbeda. Ya, hidup sebagai wanita harus pandai agar kehidupan yang dijalani berkah dan bukan sebagai suatu peristiwa yang akhirnya memutasi pribadi wanita menjadi yang berbeda. Wanita makhluk yang mulia surga bahkan ada dikakinya. Tapi sebuah harapan bahwasannya wanita harus sadar bahwa kehidupan yang mereka jalani adalah kehidupan yang memerdekakan hati, fikiran dan jiwa mereka.

Jadi jangan ada lagi jika ada wanita yang sukses dengan prestasinya. Kemudian dengan sekonyong-konyong menjudge bahwa wanita itu sukses karena rajin. Seakan-akan otak mereka tumpul dari sananya dan akan tajam saat selalu diasah. Oh Tuhan siapa orang yang pertama mengatakan ini. Seorang wanita kah atau seorang pria? Bukankah Allah tidak membedakan kecerdasan seseorang dari gendernya.

Satu lagi jepret yang berhasil penulis tangkap. Bahwasannya kedewasaan pria lebih lama dibandingkan wanita. Hal yang satu ini penulis tak yakin apakah ini sudah teruji keilmiahannya atau sekadar pandangan yang diambil dari kesimpulan seseorang. Ya bagaimana tidak? Saat kecil anak perempuan dan laki-laki sudah dibedakan kebiasaannya. Ya contoh kecilnya anak perempuan saat sudah menginjak belasan tahun atau bisa kurang dia sudah diperkenalkan dengan menyapu lantai bahkan saat piket di sekolah murid perempuanlah yang menyapu. Lalu anak laki-laki hanya membuang sampah. Tentu waktu meyapu dan membuang sampah lebih panjang menyapu, saat menyapu otak wanita berpikir bagaimana memulainya, mulai bagian mana dulu yang di sapu hingga bisa membersihkan seluruhnya atau bagian mana tangkai sapu yang harus dipegang agar tenaga lebih kuat untuk mengayuh sapu (atau apalah bahasanya). Sedangkan anak laki-laki lebih mengandalkan otot untuk mengangkut tong sampah. Laki-laki akan malu mengerjakan pekerjaan rumah, nilai ini pun secara tidak sengaja ditanamkan kepada anak laki-laki. Jika mereka melakukan pekerjaan rumah maka terkesan kewanitaan. Lalu apakah sapu akan membuat orang berubah gendernya? Atau apalah hanya sekadar pendapat. Laki-laki banyak dimaklumi kalau nakal tapi kalau wanita yang nakal dianggap aib yang besar. Masalahnya bukan membenarkan wanita yang nakal (misalnya merokok) tapi masalahnya pola pikir yang berkembang dimasyarakat yang memaklumi anak laki-laki yang masih remaja itu nakal “merokok”. Bukannya rokok itu bersifat candu lalu bisa dibayangkan kalau saat remaja sudah merokok otomatis saat dewasapun akan merokok. Sulit bagi mereka untuk berhenti merokok. Dan jika masih ada pemakluman ini maka bisa dikatakan polusi dari asap rokok akan selalu ada. Dan yang kasihan paru-paru yang harus menghirupnya. Bukankah paru-paru itu titipan Allah yang harus kita jaga, agar kita bisa mempertanggung jawabkannya kelak. Semoga ada solusi dari semua ini. Karena pria tanpa rokok itu lingkungan tanpa asap rokok. Untuk kakakku dan adikku dan aku yang selalu menghirup asap rokok kalian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s