Arsip Bulanan: Juni 2015

menampar diri sendiri

Malam di bulan ramadan, hati ini tergerak untuk menuliskan pertanyaan untuk diriku sendiri. Tak ada harapan apapun hanya ingin melihat, bertanya, memahami diri ini yang sudah lama hidup di dunia fana ini.

Pertanyaan pertama : seberapa jauh kah aku mengaku berTuhan Allah?

Selama ini aku berlimpah ruah nikmat karunia dariNya. Tapi selama ini aku tak yakin seberapa besar keimananku padaNya yang bisa aku banggakan dihadapanNya. Ingat seberapa besar kebodohan dengan melakukan kemaksiatan disana sini. Menjaga lisan, hati, dan pikiranku saja aku tak sanggup. Lisan mudah sekali berucap hal yang tak sopan, hati mudah sekali menyimpan sampah dengan memberi penilaian kepada orang lain dan menjadi besar kepalanya karena dibarengi dengan merasa benar adalah diriku. Marah tak bisa jadi lawan seringkali aku jadikan kawan. Tak peduli hanya anggap dunia milik sendiri, sulit berkata Aku SALAH!.

Siapa aku? BERANINYA AKU!

Aku ini bodoh, jelas sangat bodoh. Resiko itu sudah jelas terpapar. Terbaca jelas tapi tak pernah jadi cambuk buatku. Seharusnya dengan mengingat kata malaikat zabaniah, neraka hawiyah, neraka will. Tubuhku gemetar, atau menangis seketika. Tapi apa aku biasa saja. Ya Allah bodohnya aku. Aku berislam sejak aku kecil. Tapi islamku masih cetek, aku kadang merasa ingin merasa apa yang dirasakan para mualaf di luar sana. Mereka berislam dengan keyakinan yang dalam. Keyakinan kepada Allah sangat besar yang mendorong mereka akhirnya memeluk islam. Islamku apa? Islamku seperti rutinitas saja Ya Allah aku rasakan. Kadang sempat mikir apa iya aku ini…

Jika kasih Allah tak besar mungkin aku…..

Ya Allah… ramadhan ini buatku kuat hati untuk menghadapi dunia fana ini dan limpahkanlah ilmu dan kesiapan hati yang penuh islam, ihsan, dan iman agar aku tak malu menghadapMu kelak.

Ya Allah trimakasih atas semuaNya. Ampunin hamba Ya Allah.

Seharum bunga kenanga

Akan Kutunggu Lyric by Sherina Munaf

Merangkum kisah dalam bahasa tulis itu terkadang tak cukup menggambarkan. Tapi usaha boleh dong walau ini bukan hasil kerja sendiri tapi ini pakai usaha juga lho. Oke buat sohib gue yang memaksaku untuk menulis. Ini buat kamu. Happy reading …. so if it does not discribe your self. I said sorry. Terlalu sulit buatku menulis tentangmu. Mungkin aku butuh dirimu belikan aku buku tentang fatimah ra untuk cari inspirasi. ^^V

tikadyasa's journal

Ku perhatikan kau dari jauh
Kau jalani hidup tanpa jenuh
Mencari bahagia tanpa keluh
Saat itu juga kau curi perhatianku

Mereka lihat kau dari dekat
Tapi mereka gagal melihat
Rasa sepi yang lama terpahat
Saat itu juga… Oh kurasakan, Oh kuinginkan

(Reff)
Akan kutunggu s’lalu kutunggu
Sampai kau mampu melihatku sebagai yang mengerti kamu, cintai kamu ‘Kan kutemani perjalananmu selamanya

Ku perhatikan kau dari jauh
Kau jalani hidup tanpa jenuh
Semangatmu buat aku luluh saat itu juga…
Oh kurasakan, Oh kuinginkan

back to Reff

Mungkin tak banyak yang bisa kuberikan, tapi ku ‘kan berikan seluruh cintaku… seluruh cintaku…
Kuperhatikan kau dari jauh, rasa cinta ini terus bertumbuh

Reff 2x

Ku perhatikan kau dari dekat…

-by Sherina Munaf-

Lihat pos aslinya

Aku sayang kamu

Hei kamu….

Kenapa kamu…

Ketuk-ketik pintu

Bawa ini itu

Hei kamu…

Kenapa kamu…

Hobi buat aku jadimalu

Kini aku tersipu

Hei kamu…

Kenapa kamu…

Bicaranya buatku ragu

Janjikan ini itu

Hei kamu…

Kenapa kamu…

Tindak tandukmu seperti bermutu

Tapi taunya cuma benalu

Hei kamu…

Kenapa kamu…

Mengaku ksatria ambil langkah maju

Lalu mundur secepat peluru

Hei kamu…

Kenapa kamu…

Pergilah kau pergi dari hidupku

Biar aku disini jadi saksimu

End*

Oke puisi ini gue persembahkan buat sohib gue yang terlalu baik hatinya buat di sakitin, terlalu lugu untuk berprasangka buruk dan terlalu rapuh hatinya untuk membenci. Dan spesial buat benalu yang hadir di hidup sohib gue. Berkat loe gue terinspirasi buat puisi ini. Ini bukan ajang melakukan perusakan nama baik, cuma ingin mengingatkan lewat majas. Tujuannya cuma untuk buat move on sohib gue.

I think enough, and thanks you ^^V

Aku Akuilah

Aku itu kamu

Kamu tau siapa kamu

Pendendam dan pemarah yang ku tau

Pendengki dan pecundang bermutu

Yang cuma tau menghayal melulu

Itu dulu

Meski kita tak memilih siapa kita

Tapi kita nyata

Jadi sekarang kenyataan itu kita

Bukankah sangat mengerikan kita

Jika monster ada di diri kita

Bersantailah, berdamailah, nikmatilah

Diam saja saat dia bergejolak

Diam saja saat dia dibentak

Sekali lagi kita tak bisa memilih kita

Aku nasehati, hidupmu cuma secuil waktu

Lalu akankah hanya akan jadi buih

Kerasnya karakter tak musti harus sadis

Kerasnya karakter tak memilih sekali lagi

Aku katakan tak perlu menjadi alien

Tak perlu menghilang

Semua hal akan datang dan pergi

Hanya yang hakiki yang jadi kunci

Kamu diamlah,

Kamu merenunglah

Kamu yakinilah bahwa kamu tak bisa memilih

Kamu hanya cukup diam

Jika memang tak sanggup lagi

Menyingkirlah….

Karena yang akan bertahan hanya ksatria sejati

Tunduklah sejenak jangan dongakkan kepalamu

Sekali lagi kamu tak bisa memilih

Hal satu yang harus kau lakukan

Diamlah….

Aku akan tata apa yang terserak

Aku akan kaji apa yang terpatri

Aku akan menyelami sejuta kata untuk aku katakan padamu

Sekali lagi diamlah

Secuil waktuku dan waktumu akan aku titipkan pada Dia

Biar Dia ikat dengan tali

Biar Dia tautkan hati ke hati

Biar Dia yang ajarkan

Biar Dia, aku dan kamu bersama diwaktu secuil ini

Dia ada dalam diam

Dia ada dalam setiap aku dan kamu

Aku cukup kamu cukup

Dulu biar dulu

Nanti aku kamu diam

Dia ikat kita dalam syukur.

manusia super

Sebuah kisah dari kisah yang dikisahkan. Ayahku seorang lelaki yang tak habis-habisnya aku coba mencintainya. Sampai saat ini pun aku belum bisa mencintainya secara sempurna. Ayahku mencintaiku dengan indah. Dia bukan orang yang pandai bicara jadi aku katakan ayahku bukan sosok yang romantis, tapi penuh kejutan. Caranya mencintai keluarga unik. Dia mengajariku dengan sabar. Dia tegas tapi tak keras dan otoriter bahkan cenderung demokratis. Dia tak membedakan anak-anaknya. Anak-anaknya dibiasakan berani mengambil resiko dan memilih pilihannya. Dia siapkan dirinya sepenuhnya untuk mendukung anak-anaknya.

Sebuah kisah, saat itu aku masih sekolah di mts. Saat itu aku mendapat peringkat kelas. Beberapa hari kemudian ayahku dan kakak tetanggaku datang ke rumah dengan membawa lemari yang besar dengan dua pintu lengkap dengan meja rias yang menempel jadi satu set dan itu luar biasa besarnya. Bahkan ayahku itu menyiapkan disain khusus dimana ada bagian yang bisa dibuka dan menjadi tempat untuk menyimpan rahasia. (Salah satunya tempatku menyimpan surat menyuratku). Ayahku itu romantis yindakannya. Sampai-sampai sempat kakak yang membantu membawa lemari dengan susah payah itu menggodaku karena lemari yang dibawanya sangat berat.

Masih ada banyak kisah tentang ayahku yang tak bisa aku kisahkan sekarang, akan aku sambung nanti.

Ayah, diam mu itu ilmu untukku. Tindakanmu itu contoh untukku. Rasa sayangmu itu segalanya untukku.

aku rindu

Berapa lama tak bersua, rasa hati sudah seperti gatal ingin digaruk, gerah ingin disepoisepoi angin, lapar ingin diberi makanan. Otak udah seperti gudang penuh sarang laba-laba, kardus bekas, koran lama dan perkakas dapur yang penyok akibat membanting di lantai tanpa sengaja. Ingin lekas- lekas di bersihkan sebelum semuanya tak terkatalog lagi, nyungsruk di pojokan dan terlupakan. Itulah hakikat ide. Ide itu anugrah anak cucu dari akal pikiran yang bertahap selalu ganti seperti wall facebook. Nah manusia hanya butuh cara masing-masing untuk mengekspresikan. Aku yang lebih berani menulis acak-acak bukan dengan menari atau mendongeng. Makanya aku rindu dengan blog ini. Blog yang dengannya aku tak butuh teman yang mendengar keluh kesanku, tak butuh pacar yang mengomentari semua yang kulakukan,tak butuh dosen pembimbing untuk mengoreksi semua hipotesis. Intinya aku tak merepotkan orang lain hanya untuk mendengarkan unek-unek yang kredibilitasnya gak bisa dipertanggung jawabkan. Karena setiap orang sudah sibuk dengan unek-uneknya masing-masing. Hidup itu sudah sangat banyak skenario yang kadang melelahkan. Meski blog ini dipublikasikan tapi bukan untuk dikunjungi pada dasarnya. Hanya saja bagi yang ingin membaca silahkan. Meskipun apa yang ada bukan sajian istimewa. Dan tulisan malam ini intinya hanya aku sedang rindu.