Waktunya Jatuh Cinta!

Aku di usiaku 15 tahun. Guruku mengatakan bahwasanya memiliki boy/girl friends itu hanya membuat masa depanmu tak jelas. Fakta menakutkan diungkap secara lugas. Mulai dari nilai pelajaran yang jeblok hingga hamil di luar nikah. Seram sekali.

Saat SD peraturan kelas mengatur anak didiknya duduk berpasangan. Murid perempuan dan laki-laki. Kebijakan ini diambil untuk mengkondisikan siswanya agar tidak ribut.

Saat SMA seorang tutor menjelaskan sebuah pemahaman bahwasanya jika kita mencintai selain Allah nanti Allah akan cemburu. Tapi setelah kuliah pemahaman itu gugur. Allah tak butuh siapapun, apapun dari hambaNya. Kehendak Allah itu pasti dan hanya Allah lah yang memiliki hak atas seluruh alam semesta ini. Mengatakan bahwa Allah akan cemburu merupakan sebuah pemikiran yang mendahului Allah. Manusia tak berhak mencampuri urusan  Allah. Manusia hanya berkewajiban menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya (beribadah kepadaNya).

Aku bertanya pada ibuku “Ibu kapan aku boleh jatuh cinta?” Ibuku menjawab ” jatuh cinta tak dapat di atur setting waktunya nak, terkadang kau tak menyadari jika kau sedang jatuh cinta”. Bu apakah setiap orang pernah jatuh cinta? Setiap orang akan jatuh cinta nak, hanya saja kepada siapa dia jatuh cinta kita tak tahu. Tapi bu tidak sedikit orang di luar sana hidup melajang dan memutuskan tidak menikah. Jatuh cinta tak selamanya masalah pria dan wanita nak. Dunia ini menyajikan banyak hal yang membuat orang di dalamnya jatuh cinta.

Bu bolehkah aku jatuh cinta? Anakku pada siapa kau akan jatuh cinta? Aku ingin jatuh cinta pada pemberi hidup, pemberi nafas dan pemberi ibu yang penuh cinta seperti ibu.

Ibu tersenyum. Jatuh cintalah nak pada sang khalik selama hidupmu. Dengan begitu tak akan ada rasa sakit yang dalam, tak ada luka yang parah, dan tak ada waktu yang terbuang di waktu sejenakmu di dunia fana ini. Jatuh cintalah di setiap waktumu. Pupuklah dia dalam shalat dan ibadah lainnya.

Ibu bergeming sesaat lalu mengajakku dalam imajinasinya. Nak pernahkah kau berpikir kenapa seseorang bisa jatuh cinta?. Aku terdiam dan mencari cari jawaban dalam benakku. Aku pikir karena dia merasa senang maka dia jatuh cinta, karena dia merasa nyaman maka dia jatuh cinta, karena dia merasa bangga maka dia jatuh cinta. Cukup anakku.. kata ibu, alasan itu terlalu umum nak, terlalu lumrah dan sangat manusiawi. Ibu tak menyalahkan Jawabanmu. Hanya saja ibu bagi satu alasan untukmu. Karena Allah dia jatuh cinta. Cinta yang terusung dengan Allah dibalikNya akan memapah pemiliknya mencapai ridho Allah. Itu berarti keberkahan selalu menyertai kehidupannya.

Bu aku paham sekarang. Bu aku temukan sebuah puisi menurut ibu. Si pengarang menggambarkan cinta seperti apa? Ini puisinya.

Kita, lucu

Aku dan kamu itu bagai dua dunia

Terpisah oleh jarak dan waktu

Aku dan kamu itu bagai langit dan bumi

Terpisah udara rapat yang seharusnya menyatu

Kamu dan aku adalah kita

Kita yang terlalu banyak cerita

Cerita di tengah gelapnya malam

Kita yang selalu ceria

Senyum dibibirmu adalah kebahagian tersendiri bagiku

Kamu itu berada diantara sejuknya embun pagi dan indahnya langit senja

Seperti indahnya bintang yang bertaburan dan bulan yang bersinar temaram

Tapi sayang

Cinta itu semu

Dan aku takut dia berada diantara kita

Aneh,

Tapi aku menyukai keadaan ini

Aku suka melihat senyum itu mengembang,

Walau diam-diam

Lucu. Selucu negri ini

Tempat kita melihat begitu banyak

Orang bercita-cita menjadi pencuri

Yaa… Aku juga

Cita-cita jadi pencuri hatimu

Sayang,

Kita sekarang benar-benar terpisah

Tidak hanya jarak dan waktu

Tapi juga keadaan

Ibu diam mendengarkanku membaca puisi itu lalu, seperti sajak tadi yang mengatakan cinta itu semu maka ibu hanya akan katakan. Puisi tadi punya maksud menyampaikan perasaan penulisnya dan tak ada yang tau persis tau selain dia dan Yang Maha mengetahui.

Aku diam dan memang harus diam ketika aku sadari cinta sesama makhluk hidup itu semu, semu karena cinta ada di hati, karena hati ada Yang Maha membolak balikkan hati.

Sadar saat janji dan azzam itu teringat. Aku telah simpan hati ini di sisi Allah, biar Allah yang sampaikan hati ini pada siapa yang Dia kehendaki. Dengan harapan Allah selalu pelihara hati hati itu dan mengikatnya dalam istiqomah di jalanNya.

Aku dan ibuku tersenyum lalu berlalu meninggalkan teras untuk berwudhu dan shalat magrib.

Oke, pembaca blogku, tulisan ini aku namakan cerpen meskipun tak memenuhi syarat baku cerpen. Penulis mendapatkan inspirasi dari seorang teman dan mengolahnya melalui proses berfikir dan merasa. Harapannya ini bisa jadi bahan renungan, jika tak bisa cukup jadi bahan bacaan, jika bukan termasuk bacaan anggap saja hanya iklan sekadar intermizo. Oke good night….

*terimakasih untuk puisinya DEP^^V

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s