Hujan Dan Terlupakan

Sumatera dan Kalimantan menjadi dua pulau yg akhir2 ini banyak di sambangi para pencari berita. Ya karena fenomena alam berupa kabut asap sampai faktor dan dampaknya yang masif di masyarakat. Itulah berita yang mereka kejar. Banyak asumsi yang tumbuh dari banyak kalangan. Terakhir yang sedikit membuatku terpekur asumsi yang mengatakan bahwa kabut asap dan kemarau panjang yang membuat krisis air dan oksigen ini sudah masuk wilayah azab bukan lagi cobaan. Mungkin ada benarnya azab yang masih belum seberapa. Jika Allah berkehendak mungkin bisa saja kabut itu membawa gas beracun dan membunuh semua manusianya.

Azab berkaitan dengan perilaku manusia. Manusia yang tamak, lalai, dan tak pandai bersyukur dan perbuatan maksiat lainnya. Jelas secara ilmiah kabut asap ini karena kebakaran hutan, itu ulah manusia sendiri umumnya. Sedangkan kemarau panjang ini bisa jadi karena efek dari global warming. Lalu sumur2 yang kering karena air tanah mulai habis akibat pohon2 yang ditebangi atau perkebunan sawit yang homogen yang menyerap air tanah cukup banyak. Lalu karena supaya hati sedikit lega perlu ada yang di salahkan. Ya pemerintah lah yang disalahkan karena tak mampu mengurus warganya.

Aku heran dan makin heran kenapa saat di atas sosok yang di harapkan mampu mengurus  orang2 kecil itu berubah gaya berubah rasa dan yang ditakutkan berubah tujuannya. Merakyat katanya rakyatnya belum bermobil mewah ini pake mobil mewah, merakyat katanya snacknya saat rapat snack yang rakyat kecil pun tak mampu menyebut namanya. Merakyat katanya tapi asyik masyuk menebalkan tabungan. Tanpa mereka sadari jika nanti semua di perhitungkan maka merekalah yang ada di barisan depan dan semua kesalahan yang ada dia harus bertanggung jawab. Mungkin sampai ada pertanggung jawaban atas matinya bayi karena ketidaktahuan ibunya mengurusnya. Ya bukan hal yang tak mungkin kan, kalo sudah menjadi pemimpin semua masalah dia yang harus pimpin penyelesaiannya.

Seorang pemimpin pada hakekatnya dia yang hatinya tak pernah tenang memikirkan azab apa yang harus dipikulnya kelak. Dalam hati nya ketakutan terhadap Allah menjadi no satu dibandingkan takut disikut, disundul, digusur kekuasaannya.

Tapi inilah. Hujan kemaren sore memberikan keceriaan dan kelegaan sendiri. Meskipun jika benar jika kabut asap itu azab setidaknya hujan kemaren sore telah mengakhiri azab ini. Dan harapannya hujan akan turun lebih banyak dan merata lagi di Sumatera dan Kalimantan. Amin

Terimakasih ya Allah… alhamdulillah….

Aku sisipkan foto2 kulit tubuh serangga setelah molting. Setidaknya secara ilmiah ini jadi bahan belajar secara filosofi banyak yang telah berganti melupakan baju yang dulu menjadi identitasnya. Aku beri judul “terlupakan”.

Jpeg
Jpeg
Jpeg
Jpeg
Jpeg
Jpeg
Jpeg
Jpeg

20150908

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s