Kemuning

Aku hanya asa yang kau paksakan. Lihatlah kau memutuskan menyandera dirimu dalam kesedihan yang kau buat sendiri. Kau menginginkan belas kasihan dari seorang yang kau anggap mulia. Oh sekali jangan… aku bukan malaikat yang tanpa cela dan aku bukan orang suci yang tanpa cacat. Aku hanya aku.

Berpuluh jam kau menggusur badan memohon sesuatu yang aku sendiri tak tahu mempunyainya atau tidak. Prioritasmu terhadapku menyudutkanku sebagai seorang yang salah. Dengan hal yang tak patut aku rasa menyalahkan diriku. Egoiskah aku? Aku tak egois aku hanya bertindak realistis. Kita memang hidup di dunia fana tapi bukan berarti kita bermimpi saat tak tidur. Terlalu sinetron memang, dan jujur ini skenario yang paling menguras emosi. Aku menyakini Allah meminta hambanya untuk berlaku baik kepada sesama. Dan aku takut posisiku salah disisi ini. Dan aku benar benar salah di hadapan Allah kelak. Tapi aku belum tau apa yang harus aku lakukan. Yang bisa aku lakukan hanya diam dan memohon selalu petunjuk Allah.

Kemuning. Alasan atas persepsiku dari semua yang terjadi. Aku yakin semua ini akan berakhir.

Saat aku menatap bayanganku di cermin. Aku sering tak melihat atau lebih tepatnya tak menyadari bahwasanya aku ini fana di dunia yang fana ini. Nanti saat waktu aku harus beranjak untuk hidup abadi aku berharap Allah tetap menetapkan aku di jalannya.

Kau akan sadar kalau aku hanya bayang semu pada akhirnya. Tak perlu berkubang dalam pikiran yang sesat yang hanya membuat tindakan sia-sia. Kesalahan itu ada di waktu yang telah terlewati. Tapi bukankah maaf juga harus mengimbangi kehadirannya. Karena maaf adalah cara berdamai yang paling ampuh untuk menerima semua kondisi yang kita alami. Hal ini yang akan menyadarkan bahwasanya kita hanya manusia. Makhluk yang diberi hidup sementara di dunia ini dengan segala nikmat dan semua itu hanya titipan dan ada pertanggung jawabannya disana.

Kemuning. Jangan anggap aku orang yang tak berhati. Dengan tak adanya tindakan yang menunjukkan rasa empatiku. Karena aku terlalu tak kuasa untuk membuat semua orang berpura pura bahagia. Kenapa aku katakan berpura pura karena hal itu tanpa kau sadari hanya akan berlaku seperti candu yang akan membuatmu ketagihan. Lambat laun candu itu akan melumpuhkan semangat jiwamu.

Aku menilai diriku sebagai orang yang berusaha untuk objektif merasa sebagai manusia yang tak butuh penilaian selain dari Allah. Apapun yang aku rasa dan fikirkan aku coba kendalikan. Tak pelak fikiran untuk merasa paling benar dan ingin lepas tangan dengan yang terjadi antara kita berulang kali terbersit. Tapi aku sadar aku juga cuma manusia yang penuh khilaf dan kurang ilmu. Aku juga tak bisa memaksakan kesempurnaan kondisi yang aku alami. Aku hanya salah satu lakon di dunia fana ini. Aku hanya berharap Allah berkenan membimbingku hingga akhirnya Allah juga berkenan menerimaku disisiNya.

Kemuning. Ini sebuah perjalanan perasaan yang akan berhenti kelak pada saatnya. Hanya perlu mengingat apa tujuan kita diciptakan untuk bisa melewatinya dengan sadar bahwasanya Allah selalu ada disetiap kondisi yang harus dihadapi.

Tak setiap rasa harus kau artikan cinta. Nyaman bukan berarti cinta. Kadang apa yang tampak dihadapan memang membuat hati menjadi nyaman dan kagum. Tapi itu wajar mata memang salah satu indera yang berperan dalam semua proses membentuk persepsi. Masalahnya yang ada banyak yang membuat penyelesaian dari anugerah perasaan itu. Setiap rasa yang hadir musti disyukurin meskipun tak semua rasa itu menyenangkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s