Arsip Bulanan: Desember 2015

Aku tersenyum

Malam ini, aku bersyukur pernah mengenalmu. Semoga akan tetap mengenalmu seumur hidupku. Aku senang dan sekaligus kagum padamu.

Ah… kedalaman bahasamu sungguh membuatku iri dengan ilmu yang kau kandung. Rasanya aku ingin menuntut ilmu kembali mengumpulkan fragmen fragmen sejarah kehidupan tentang alam serta isinya dan mengkoleksi pengalaman yang beragam rasanya. Biar nanti aku jadikan bumbu untuk mendidik anak2ku kelak. Hmm… semoga selalu ada kesempatan untukku menjadi seseorang yang punya kesempatan langka itu.

Akankah rasa iri ini aku bawa berdiam diri saja. Sungguh aku makin kesal rasanya saat aku tahu lubang sempit nan jauh disana ternyata dalam dan indah isinya. Sungguh ini yang aku rasa aku tak rela.

Ya Allah terimakasih atas rasa iri ini. Bimbing aku biar rasa iri ini jadi sumber energi positif untukku untuk jadi seseorang yang haus ilmu… amin…

Iklan

Ini hati bukan hardisk

Kata orang kita harus jaga hati

Sama halnya hardisk musti dijaga

Aku mulai rikuh dan mulai overthingking. Disana sini banyak simbol yang tak tahu maknanya apa.Dan tindakan gilaku aku mulai menafsirkannya sendiri. Aku rikuh untuk menuliskan apa yang aku maknai. Jelas secara hati aku takut mendahului takdir Allah SWT. Tapi ini hati bukan hardisk yang bisa di format kapanpun. Aku sudah katakan biarlah aku tak berhati karena hatiku aku titipkan pada pemberi nafasku. Biar hanya Dia yang bereskan, atur atau leyapkan. Tapi sungguh ini hati bukan hardisk, kondisinya beda saat yang satunya tak tahu apa perangkatnya yang satu perangkatnya jelas. Sungguh meskipun azam itu telah bertahun tahun,,, rasa sakit itu tetap ada. Lebih tepatnya hati sedang tak sehat. Aku tak ingin terlalu menggunakan pikiranku, terlalu subjektif  pandanganku. Biar saja aku tak berhati. Biar saja…

Biarlah semua yang telah terjadi dari buah kebodohanku akan mengalir seperti sungai yang rasa airnya pahit. Sehingga saat aku yang tak berhati ini akan melakukan sesuatu akan berpikir dan mengenang pahitnya. Sungguh ini hati bukan hardisk.

Pahit. Dan cukup aku saja yang kecap. Aku sadar dan sadarku setelah sadar ini hati bukan hardisk. Ya Allah sungguh aku memohon kebaikan dari sisiMu. Kebaikan yang bisa dirasakan semuanya. Ya Allah aku berlindung dari kebodohan dan kebodohan masa laluku. Terimalah aku disisiMu pertemukan aku dengan para kekasihMu.

Aku dalam rikuhku mengetuk pertolonganMu , mohon limpahkanlah keridhoanMu di hidupku.

Ini hati bukan hardisk.

 

 

Libur, rajinnya libur

Pagi ini bertepatan dengan libur sekolah. Tentu saja aku tak perlu bersiap-siap untuk pergi sekolah. Banyak planning yang terangkai di dalam otakku. Planning pertama planning rancangan teman yang mengajak liburan di kerinci, bayangkan kerinci tempatnya indah bak puncaknya Jambi. Ada gunung, kebun teh, kebun kopi, kebun sayuran dan sawah. Pemandangan yang tak ada di sekeliling rumahku. Tapi lagi-lagi hanya planning yang hanya aku bisa imajinasikan. Untuk pergi ke kerinci stok izinku di tiadakan. Ayahku tak memberi restu aku pergi ke sana. Ya… aku hanya bisa manut…

Libur… libur… libur, gak berputus asa. Aku coba mengisi liburku dengan rajin.

Ya rajin… ketika liburN kebanyakan kita digunakan untuk berleha leha… sampai2 kebiasaan bangun pagi saat hari aktif lama2 menghilang. Ya ini keburukan dan kekuranganku… nah dengan bantuan babang (red. Kucing ku) aku bisa bangun pagi. Babang seperti alarm alami yang hadir di hidupku, sama dengan Mui… 

Babang akan menghampiriku dengan menggoncang tubuhku dengan kakinya, atau menggigit tanganku. Babang tidak selalu mau tidur di kamar, kadang dia lebih memilih tidur di dalam bakul di dapur. Tapi entah mengapa saat pagi pagi sekali dia masuk ke kamarku sekedar mengeong, menggoncang atau hanya menggigit tanganku untuk membangunkanku. Suatu ketika aku memang dibangunkan karena dia ingin pup. Tapi melihat kelakuannya sudah berulang kali aku fikir ini sudah menjadi kebiasaannya. Aku bersyukur Allah kirimkan kucing seperti babang, semoga aku bisa merawatnya dengan baik. Eh untuk sedikit info tentang babang umurnya 8 bulan. :{}

Balik ke tema… Ya Rajin. Belajar jadi rajin itu gampang2 susah. Karena butuh motivasi dan tentu ikhlas dan sabar. Sudah tentu dengan kondisi yang belum tentu dengan kita harapkan. Terkadang seperti menjadi kecambah di tempat gersang.

Suatu saat semua yang sekarang aku usahakan rajin tidak lagi dalam istilah rajin tapi suatu kebiasaan yg rutin aku lakukan seperti babang yang senantiasa membangunkanku di pagi hari.

Jadi tak ada istilah rajinnya libur. Oke guys mari buat diri punya kebiasaan baik. Jadi saat tak terkerjakan rasanya ada yang hilang. Kayak gak tahu kabar dari dia yang baik hati di sana #jiah…  sok romantis…:D,,,^^V… gue emang romantis cuma belum jadi kebiasaan… haha:D

Interviewnya malaikat

Pernah dengar kita akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat dari semua yang kita punya. Salah satunya adalah waktu. Lets check this dialog between two person and both of them are friends.

1: cah ,piye jawabannya if malaikat ask koe ” cah nggo opo wektumu neng dunnyo???

2: yo tak answer  wae. Kaya ini ” ngapunten malaikat, kulo maos quran. Lan setiap akhir umur kulo khatam quran nggo dadi hadiah”

1: lah maksud e akhir year and for persent niku pri pun.

2:iki i mean kalo aku guna in waktu untuk read alquran dan di setiap tanggal lahir aku sudah selesai dan khatam quran dan aku jadikan moment itu sebagai hadiah untuk ku

1: cara bagus untuk lolos interview sama malaikat ini… kalo gitu i follow you.  ..

Ide berbagi dan menghibur… 😀 maaf ya jika tak berkenan.

 

Orang Tua Pelukis

Niat hati ingin menulis untuk esay untuk dilombakan bulan ini. Tapi sepertinya inspirasinya masih kurang. Masih butuh pendalaman materi sepertinya. Dan untuk itu perlu juga untuk membenahi isi kepala agar ide yang tertuang fokus ke tujuannya. Kali ini saya akan membagikan ide saya yang menggumpal perlu dikeluarkan. Dengan harapan apa yang saya utarakan tak semuanya sampah otak yang harus dibuang tanpa sedikitpun manfaat.

Oke, setelah sekian waktu menjadi guru TK IT. Melihat, mengalami sekaligus merasakan fragmen kehidupan anak TK di sekolah dengan semua lingkungan yang disiapkan untuk mereka tumbuh. Saya fikir tak ada sekolah yang menawarkan program untuk membuat anak didiknya tidak baik. Semua baik dan akan makin baik jika sebelum anak merasakan dunia sekolah sudah dipersiapkan mental dan jiwanya terutama karakter anak.

Banyak cara membentuk karakter anak, tapi setelah aku lihat langsung dari para orang tua anak didik. Kuncinya adalah dengan hadirnya cinta dan penuh kasih di dalamnya. Bagaimana cinta dan kasih itu terpancar ketika para orang tua mengantar anak-anak mereka. Mereka melepas anaknya dengan ciuman kecil di pipi kanan dan kiri dan disambut salam dan kecup tangan dari anaknya sembari memberi pesan kecil “belajar ya nak, nanti ibu jemput”. Saya yang kerap menanti kedatangan anak sekolah kerapkali takjub. Jika saja perhatian itu terawat hingga mereka dewasa. Saya tak akan pernah takut karena mereka akan salah jalan di masa depannya. Mungkin yang saya ilustrasikan terlalu sederhana untuk alasan saya di atas. Saya hanya punya keyakinan yang dalam untuk itu.

Bicara tentang membentuk karakter anak sejak kecil. Saya akan membuat poin kecil. Semoga meskipun saya belum pernah menjadi orang tua sesungguhnya dengan pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan selama saya mendidik dan membimbing anak TK IT, poin-poin berikut ini bisa bermanfaat:

  1. Karakter anak yang baik terbentuk dari pola asuh orang tua yang shaleh.
  2. Karakter anak yang baik itu antara lain:

a. Jujur

Dari pola asuh orang tua yang pengertian. Anak yang tak punya rasa tertekan akan kemarahan orang tuanya. Sehingga sepahit pahitnya kenyataan yang dialami anak, si anak tetap terbuka. Sehingga pengertian orang tua lah yang membuat nyaman anak bisa bicara jujur apa adanya.

b. Taat aturan

Taat aturan disini antara lain anak terbiasa membuang sampah di tempatnya, mampu mengantri, terbiasa mengucapkan salam. Pola asuh orang yang mendidik dengan contoh. Anak kecil itu pencontoh yang ulung. Tak berlebihan jika anak adalah cerminan orang tua.

c. Mandiri

Pola asuh orang tua yang diplomatis. Orang tua yang tak selalu mendikte anak. Si anak diberi kesempatan untuk memilih dan menerima segala resiko. Dengan catatan penting semua pilihan anak diketahui orang tua. Orang tua tidak begitu melepas begitu kehendak anak.

d. Disiplin

Pola asuh ini menuntut orang tua yang komitmen dan tegas. Dalam artian apa yang dilakukan anak adalah jadwal yang telah ditetapkan bersama dengan semua konsekuensi yang juga telah dipahami anak. Misalnya saja jadwal menonton anak hanya 2 jam maka jika anak tidak sesuai jadwal maka haru berikutnya tidak ada jadwal menonton lagi. Hal ini memang sedikit berat dilakukan orang tua karena untuk melatih anak mampu disiplin orang tua juga acapkali mengikuti jadwal si anak.

e. Religius

Religius saya masukkan sebagai salah satu kriteria anak baik. Karena penanaman jiwa religius harus sejak dini. Pola asuh yang diterapkan dengan pembiasaan beribadah di rumah dan lingkungan. Jadi otomatis memberikan lingkungan yang religius itu salah satu tanggung jawab orang tua.

Tulisan ini tak bermaksud menggurui hanya sekadar share untuk bisa sama sama melihat dunia anak yang zero. Yang menjadi tanggung jawab kita untuk membuatnya 1 hundred 1 milion. Berarti untuk nusa bangsa dan negara serta agamanya.