Memahami arti kehilangan

Sabtu 5 november 2016 selepas subuh di rumah sakit umum bulian mbah (nenek) ku menghembuskan nafas terakhir nya. Duka meliputi keluarga besarku tak terkecuali aku. Aku saat itu mencoba untuk bisa tegar dan pasrah. Aku menghalau hujan menuju rumahku . Aku yang sehari sebelumnya memang tak pulang ke rumah karena selepas geladi acara di kantor bupati aku menemani mbah di rumah sakit. Sesampai di rumah aku hanya memandang banyak orang di rumahku dan aku tak tau harus bagaimana. Aku yang basah kuyup karena hujan mencari baju ganti dan handuk kemudian mandi. Dan menanti mbah pulang. Ambulan berhenti di depan rumahku. Mbahku dimasukkan ke dalam rumah. Dan disiapkan untuk dimandikan. Seorang ibu paruh baya berbicara dengan sedikit tegas ” iku mbah tinggal siji2ne mandine dipangku wae ra mang ngenggo gedebok pisang”. Aku iyakan permintaannya. Itu yang hanya aku bisa lakukan untuk mbahku yang kusayang dan menyayangiku. Selamat jalan mbah, ini hanya sebuah perpisahan semata aku yakin Allah akan menyatukan kita di surgaNYA. amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s