Arsip Bulanan: Desember 2017

Berkata “RASA”

Aku menjadikan menulis menjadi candu. Candu yang bermanfaat insyaallah. Menulis itu seperti membuang semua rasa sesak di dada. Ya semuanya memang terasa tak bermakna dan manfaat untuk orang lain. Hanya tulisan kosong yang malah dikhawatirkan membuat yang membacanya menjadi salah kaprah atau malah malas mikir. Semuanya masih tentang rasa milikku. Ya rasa yang aku sendiri tak menyangka mengapa aku bisa memiliki rasa ini. Ya semuanya adalah urusan dan rahasia allah. Sempat waktu aku merasa ingin menyerah, sempat pula ingin berhenti dari semua rutinitasku, sempat pula merasa benci, sempat pula merasa iri lalu menjadi rendah diri, bahkan kerap kali hidupku banyak rasa mengeluh. Kalau diandaikan masakan pastinya hidupku ini masakan yang rasanya tidak enak. Mungkin terlalu asin atau bahkan terlalu asam. Ya aku masih terlalu sibuk mengolah rasa untuk diriku sendiri. Dikala diluar sana banyak yang membuka topeng-topeng mereka dan menampakkan wajah asli mereka. Dan aku katakan saat orang telah berani jujur dengan jalan hidup dan pikirannya yang keliru ” tak mengenal Allah ” itu sangat mengerikan. Ya aku katakan demikian karena saat ada yang bisa jujur maka yang lain akan berani jujur. Dan fakta mengerikan terungkap ternyata semua telah memakai topeng. Tulisanku tak kumaksudkan untuk menghakimi karena aku bukan hakim bukan pula bentuk setuju dengan apa yang telah diungkapkan. Sepertinya tulisanku merupakan dampak dari rasa prihatin dan aku tak berani untuk berkata aku aware. Malu rasanya jika aku dikatakan aku peduli tanpa mampu melakukan apapun untuk memberi solusi dari masalah ini. Tapi jujur ada rasa takut dimana sejarah kaum sodom itu berulang dimasa aku hidup saat ini. Saat allah mengazab mereka dengan azab yang mengenaskan. Terkadang ada rasa bingung mengapa mereka bisa berpikir dan berkata demikian. Tidakkah mereka mengenal kata tanggung jawab. Ya tanggung jawab. Apapun yang kita katakan, kita perbuat pasti akan dimintai pertanggung jawabannya. Lupakah mereka bahwa ada malaikat roqib dan atid yang senantiasa mencatat semua perlakuan kita. Tidakkah ada rasa bersalah mereka ketika telah mengatakan demikian, melakukan demikian. Tidakkah mereka merasa takut saat mereka sudah Allah biarkan dalam kemaksiatan dan itu berarti tak ada satupun makhluk yang mampu membantunya. Mungkin saat di dunia ini ada yang membantu ya setahuku setan dan sekutunya selalu menjadi teman bagi orang-orang yang jauh dari Allah. Dan semua itu pastinya tak gratis setan dan para sekutunya akan meminta balasannya dengan menjadikan siapapun yang jauh dari Allah untuk menjadi temannya di neraka. Aku khawatir dengan semua kejujuran ini. Kejujuran ini hanya akan membuat hal yang tak patut menjadi patut karena banyaknya jumlah yang berjujur-jujur dalam kebinasaan dan menganggap hal ini bukan hal yang mengganggu privasi orang lain dan mengklaim ini adalah pilihan. Jujur aku rasa fenomena ini terjadi karena mereka sudah tidak tahu dimana posisi mereka di masyarakat. Seperti kapal yang terombang ambing tanpa kepastian di tengah badai. Dan jujur mereka adalah upaya dalam bentuk meminta pengakuan bahwa mereka tidak salah dan mereka tetap tidak bisa keluar dari badai tersebut. Tapi sekali lagi jujur mereka dan semua harapan mereka itu hanya akan membuat mereka itu hidup tanpa rasa sebagai hamba Allah. Aku bukan menyalahkan tindakan jujur mereka dengan membuka topeng-topeng mereka melalui pendapat-pendapat yang memperlihatkan posisi mereka. Tapi jujur semua fenomena ini membuat ada rasa takut dan khawatir akan azab Allah yang semakin dekat. Azab yang turun selayaknya azab yang turun pada kaum nabi luth. Azab yang tak menyisakan satupun nyawa. Ya Allah jujur aku merasa takut, karena aku hidup di zaman ini. Ya Allah selamatkanlah iman islam kami, lindungilah para penuntun, pengingat, pengajar dijalanMu, lindungi kami dari kezholiman diri kami sendiri, orang lain, dan pemerintah kami. Lindungi dan jauhkan kemaksiatan dari orang-orang tersayang kami. Menangkanlah mereka yang ada di garis depan perjuangan kebaikan dimanapun berada. Ridhoi hidup kami. Amin

Iklan

Tunisia

 

Aku mencintai duniaku, ini kusebut sebgai bukti syukurku pada Allah. Tak perlu banyak memikirkan banyak kata orang. Ya aku sendiri adalah orang yang mendapatkan pengaruh dari luar tapi aku memilih dan memilah apa yang sesuai dengan hati nuraniku. Ya aku masih berharap ada ridho Allah disetiap langkah kehidupanku setidaknya aku tidak menjadi rugi nantinya saat Allah minta pertanggungan jawabku. Aku masih belajar untuk menjadi untuk apa dan bagaimana aku. Ya terserah orang mau berkata apa aku adalah aku. Aku masih seperti yang lain tidak lantas berubah menjadi anti mainstream di segala bidang. Aku masih memikirkan banyak hal remeh temeh seperti wanita lainnya. Sekedar mikirin komedo, rambut dll. Hal lumrah yang telah tersemat dalam diri perempuanku. Tapi aku ya aku yang memilih menjadi diriku sendiri. Aku berlarian mencari siapa diriku sendiri, mengoreksi setiap maksud dari setiap apa yang aku lakukan. Aku masih bertanya apakah aku telah menjadi diriku sendiri ataukah aku masih mengoleksi banyak topeng dari semua yang ingin aku dianggap. Jujur tak bisa dipungkiri setiap orang membutuhkan pengakuan dari orang lain. Makna sebuah pengakuan sendiri adalah sebagian dari kebahagian hidup seseorang di muka bumi ini. Banyak yang hidupnya dia maksudkan untuk beribadah Allah tapi di hidupnya yang singkat dia tak punya makna apapun di orang-orang disekitarnya. Aku rasa bukan itu yang Allah mau, tapi bukan berarti aku menggaris sebuah tanda salah. Hanya saja aku yakin Allah telah menciptakan kita manusia sedemikian rupa, bahkan kelebihan dan kekurangan kita Allah tunjukkan. Salah satu yang mungkin saat ini bisa aku ambil dan aku pahami sebelum aku tidur adalah apapun itu minta sama Allah, libatkan Allah sekalipun itu adalah doa agar kita berbuat baik, laa haula wala kuata illa billah tiada daya dan upaya kecuali karena Allah.

Hujan, aku pencinta hujan. Dalam hujan aku bisa mengaktifkan semua kemampuan rasaku, aku lebih mudah untuk mengekspresikan kerinduanku. Ya hujan membawa suasana menjadi sendu dan damai jauh dari hiruk pikuk kebisingan duniawi. Didalamnya aku damai aku bisa bebas mengekspresikan kesedihanku, hujan itu tameng dari bulir air mata yang jatuh di pipi, tameng dari suara isakan tangis. Hujan adalah berkah Allah dimana semua doa mustajab. Aku selalu banyak berdoa dikala hujan, mengucapkan banyak permintaan yang aku tujukan ke Allah. Berbeda dengan kebiasaan orang barat yang memiliki keyakinan mengucapkan permohonan dikala bintang jatuh atau meteor jatuh. Yang pada hakikatnya meteor itu adalah benda yang dilemparkan Allah kepada jin-jin yang ingin mencuri kabar dari langit. Sudah pasti tak ada berkahnya. Berbeda dengan hujan, aku akan mulai melankolis saat hujan. Melankolis aku sebut sebagai proses intropeksi diri. Aku memikirkan banyak hal yang telah terlewati, kesalahan yang sulit untuk aku lupakan, terkadang meratapi mengapa semua terjadi. Ya inilah aku yang akan jujur saat hujan menyapa, yang sangat takut Allah memberi amanah yang tak mampu aku pikul, yang takut Allah meninggalkanku karena dosa-dosaku, yang takut akan semuanya, menyesali sesuatu yang dulu ada dan kini tak ada. Lalu dalam hujan aku menambah semua keyakinanku pada Allah. Semua proses yang termaksud dalam doa yang panjang yang terkadang kata-katanya tak jelas saking terlalu banyaknya permintaan. Tapi aku yakin Allah mendengar dan Allah akan kabulkan karena aku berdoa disaat waktu diijabahnya doa. Inilah mengapa aku katakan hujan adalah disaat proses yakin ke Allah itu bertambah. Ya Allah mungkin tak pantas bagiku merindukan seseorang disaat ini. Saat diri ini masih minim iman. Aku sendiri masih tertatih untuk menjadi hamba yang engkau ridhai, aku tak setangguh ummu umaroh tak pula sehebat khaulah. Tapi sungguh hamba sangat lemah ya Allah. Hamba punya cacat yang hamba serahkan cacat ini untuk Engkau sembuhkan. Hamba banyak kurang. Kurang sabar, kurang pintar, kurang iman, kurang ikhlas, kurang syukur. Hamba adalah hamba yang yakin doa hamba Engkau dengar dan Engkau kabulkan serta semua harapan hamba Engkau tahu. Meski terkadang hamba sendiri tak tau apa mau hamba . Hujan ini membawaku menerawang ke masa lalu dan masa depan. Hujan yang membawa kesedihan sekaligus semangat. Menempatkanku di titik nadir dan ke singgasana semua harapan. Aku yakin saat ini Allah sedang memberi kuliah kepadaku, membahas materi tentangku, hidupku, dan hatiku. Semua indera rasanya hanya terfokus pada hal itu. Dan semua itu berkah hujan. Aku merasakan cinta dalam rinai hujan. Kerapkali aku menangis dikala menembus hujan dan aku bersyukur hujan menutupinya aku tak perlu malu. Aku mengeluh pada Allah karena aku merasakan sakit dihatiku. Ya aku katakan aku lemah. Dan siapapun pasti punya sisi kelemahannya sendiri.