Arsip Bulanan: Maret 2018

Astagfirullah… sungguh sangat memalukan diri ini. Hanya karena rasa lelah, aku berhenti dari berharap padaMu Ya Illahi Robbi…  aku lelah untuk memulai kembali, aku pasrahkan saja apa yang terjadi padaku kepadaMu Ya Illahi Robbi. Tapi disaat bersamaan aku harus kembali menemui pilihan-pilihan yang membuatku mau tidak mau menguras kembali perasaanku. Aku lelah tapi aku juga tak boleh menyerah dan melupakan aku hanya aktor dari skenario Allah yang Maha Cinta. Lalu apa hanya dengan pilihan-pilihan ini aku jadi lupa siapa aku dan siapa yang mengatur semuaNya untukku.

Ya Illahi Robbi  sungguh jujur aku katakan aku sedih, aku harus bagaimana Ya Illahi Robbi?. Aku berharap  selalu padaMu kebaikan dari sisiMu Ya Illahi Robbi. Aku berharap ketetapan hati ini di atas agamamu. Aku berharap kasih sayangMu  dan curahan cintaMu padaku.  Aku hanya hambamu yang lemah dan gampang menangis. Aku takut harus menangis dan menangis lagi. Aku tahu mengeluh terus tak baik. Bukankah semua ini adalah bukti cintaMu Ya Illahi. Dimana semua ini membuatku makin dekat denganMu Ya Illahi Robbi. Dan itu tandanya  kasih sayangMu itu sedang tercurah padaku. Aku  yakin perhatiaMu tak pernah lepas dariku.

Iklan

Mikirin Cinta

Mikirin Cinta

Menjadi dewasa itu tak mudah. Seiring waktu banyak hal yang kamu ketahui dan setelah kamu paham ternyata banyak hal yang akhirnya harus kamu hindari, jauhi, dan semua hal yang harus kamu bisa jaga diri untuk tidak lakukan. Inilah hakikat belajar. Ilmu yang kamu dapatkan tidak serta merta tentang hal-hal yang harus kamu lakukan tapi hal-hal yang salah pun kamu harus pelajari . untuk apa? Ya untuk kamu bisa memahami hidup yang kamu jalani ini sesuai track atau udah keluar track. Pada beberapa kasus ada keluhan dengan kalimat “ kalau gitu lebih baik aku tak tahu saja!.” Lucu ya. Tapi adakah setelah itu semua itu membantu. Tidak karena menuntut ilmu itu wajib bagi muslim maupun muslimah. Mau tidak mau kamu harus menerimanya. Ya karena bodoh atau masa bodoh bukan pilihan ketika ilmu sudah menyapa.

Kesalahan itu manusiawi. Tapi kata manusiawi selalu jadi pembenaran dari hal salah yang sudah dilakukan. Dan dengan pongahnya berkata Allah Maha Pengampun. Ya Allah Maha Pengampun tapi tanpa dikatakan saja Allah memang Maha Pengampun. Pertanyaannya ungkapan itu maksudnya untuk apa? Untuk menenangkan diri bahwa kesalahanmu itu bukan hal yang tak perlu dikhawatirkan karena udah ada pengampunan di sisi Allah. Saat kita bertemu presiden atau atasan semua di ditail minta ampun dengan SOP yang riweh.  Cara jalan, cara berpakaian, cara bersalaman sampai cara pegang tas yang jelas-jelas itu tas kita sendiri itupun di atur. Lalu kenapa kerap kali etika kita kepada yang menciptakan kita, memberikan semuanya di dalam hidup kita, menjaga dan melindungi kita sepanjang waktu tanpa perlu apapun dari kita seringkali tak diindahkan. Kita dekat saat kita perlu dan ini dekat dengan jutaan keluhan. Ya makhluk pengeluh. Mengeluh dengan banyak hal yang kita anggap kita belum dapatkan dalam hidup kita atau mengeluh dengan banyak hal yang kita sudah dapatkan tapi kita tak menyukainya.

Allah meridhoi hamba yang Dia kehendaki.  Ridho yang artinya menerima apapun pemberian. Tapi pernahkah kita berfikir kita juga harus ridho dengan yang Allah beri kepada kita, apapun itu. Jika kita mengatakan bahwa kita cinta kepada pencipta kita tentunya kita juga harus membuktikan cinta kita padaNya. Agar apa yang kita ucapkan cinta pada Allah bukan hanya kata-kata belaka.  Entahlah semua itu kembali pada diri kita masing-masing. Terlalu malu jika aku tulis dengan istilah manusiawi. Yang berarti kita memang sudah diset seperti ini yang punya kelemahan.  Tapi bukan hal itu yang aku ingin katakan. Ini perkara bukti cinta kita sebagai hambaNya.  Saat suami membuktikan cintanya pada istrinya dengan sebuket bunga potong, kalung berlian, makan malam romantis. Kita katakan so sweet…  Nah, jadi hal sweet apa yang bisa kita buktikan kepada Allah yang Maha Cinta. Semua hal sweet yang ada di muka bumi ini adalah karena CintaNya. Mungkin kita harus belajar dari Rabiatul Adawiyah. Yang kisah cintanya pada penciptanya tak lekang dimakan waktu. Apa yang ada di hatinya, fikirannya, sehingga semua prilakunya menunjukkan bukti cintanya pada Sang penciptanya. Aku pun tak tahu…

Cinta Allah yang agung itu cinta yang tanpa pamrih. Bayangkan semua ibadah kita itu tak sedikitpun ada faedahnya untuk Allah. Semua ibadah yang kita lakukan semata-mata kembali ke diri kita sendiri. Allah memang gitu, Allah sangat suka direpotin hambanya, dimintai tolong, direngekin hambanya. “ Jika hambanya berjalan menujuNya Dia akan berlari menuju hambanya.” Cinta Allah bahkan tak hanya diberikan pada beberapa orang saja tapi bahkan semua makhluk yang ada di alam semesta ini.  Aku cukup sadar cintaNya tak ada tandingannya. Dengan rasa syukur yang selalu ditambah dan niat lurus untuk hidup karena Allah, dengan Allah dan untuk Allah. Aku yakin dapat menempa diri untuk menunjukkan bukti cinta kita yang kecil kepada Sang Pencipta kita. Mungkin banyak hal lain yang harus aku pahami lagi yang saat ini belum ada di fikiranku.

Tulisanku ini tertulis setelah aku melakukan kesalahan, aku merasa tidak nyaman dan merenungi semua yang sudah aku lakukan. Ya aku terbukti salah menurutku. Dan aku takut kesalahanku berdampak pada hidupku nanti. Aku takut Allah meninggalkanku dan membiarkanku dengan keslahan-kesalahan lain yang tanpa sadar maupun sadar membuat Allah kecewa dan murka kemudian azab yang sangat pedih itu… naudzubillah… aku takut.

Semoga kita bisa selalu on the track, semoga kita bisa memahami rambu-rambu yang ada agar kita bisa menjadi hamba-hamba Allah yang disayangiNya. Amin

TERTULIS

Aku rindu Allah

Sebagai surat yang tertuju untuk Sang Maha Cinta

Surat yang sarat akan rasa ingin bertemu

Surat yang  berisi kerinduan dan rasa sesal yang dalam

Semua larik pendek berisi  “ aku titip hati ini padaMu”

Larik yang tersamarkan dengan remangnya cahaya

Sesal tumbuh dalam gelap gulita malam

Dan terserak dalam rinai hujan

Aku rindu ingin bertemu

Telah terlalu resah jiwa dengan  banyaknya noda

Ingin rasanya  pulang dan membersihkan semua noda

Tapi sungguh rasa takut  akan murkaMu

Membuatku malu untuk meminta lebih takut jadi tak tau diri

Tapi kemana lagi ?

Aku eja surat ini pelan

Penuh hati-hati

Aku takut aku tak punya etika sebagai hamba

Bersyukur bukan ahliku

Bersabar bukan ahliku

Lelahnya itu aku jagonya

Ngeluhnya itu jagonya

Aku lalu dengan tanpa malu berkirim surat

Mengemis ridhoNya dan Cinta muliaNya

Aku yang payah tak memulai memahami cintaNya

Tak mampu menaksir dan menerima apapun pemberianNya

Yang masih gagal untuk ridho dengan apa yang diterima

Lalu kini minta bertemu

Ya aku tak akan kecewa berharap padaMu Ya Illahi robbi

Apapun rasa telah kurasa itu tester yang harus coba cicipi

Untuk suatu saat nanti aku mampu meramu rasa yang pas

Sebagai pengalaman yang mengajariku berlatih sabar dan syukur

Sebuah ujian cinta yang aku harus bayar dengan keridhoan yang kucoba selalu kupupuk

Aku menata hati yang rapuh ini

Dengan malu kuserahkan padaMu

CintaMu nyata

Aku tak punya apapun, termasuk hatiku

Takut tak mampu menjaganya dan takut membuatnya semakin rusak

Aku titipkan saja padaMu

Engkau yang Maha Baik, bijaksana, perkasa, segala-galanya

Tak ada kekhawatiran karena Engkau Maha Penjamin. Trimakasih Ya Illahi Robbi

 

 

Bias

aku sudah lelah untuk berkata lelah

aku biarkan diriku menertawakan diriku sendiri

lelah untuk kecewa dan menangis

aku coba bangkit dan menyuarakan kebahagiaanku

aku bahagia aku berseru

aku bahagia

hatiku bahagia ku berteriak

meski mungkin hanya puing-puing

yang sudah kebas untuk merasa

sudah puas sakit dan sudah tak terasa lagi

tapi pada akhirnya hanya hujan yang mampu menjadi teman

semua tak pernah bisa aku hentikan

aku roboh dalam ketidakmampuanku…

entah mengapa banyak sekali orang yang membuat hatiku perih

dosaku banyak dan itu yang menjadi penyebabnya

entah berapa banyak tangisan sia-siaku

tangisanku yang membuatku makin menangis lagi

tapi aku bisa apa…

aku ingin hijrah, berpindah dari rasa sakit ini

hidup menjadi seseorang yang lain

aku berdeham pelan, sambil berharap tentang hal-hal yang indah

aku meyakini sesuatu yang indah akan indah jika kita harapkan

Bukankah Sang pemberi memberi berdasarkan bagaimana hambanya berprasangka

Mungkin aku terlalu GE ER sehingga kadang kerap salah tafsir

Nyaris 1 tahun lebih ini aku limbung dan nyaris jatuh berulang-ulang

Mulai aku harus kehilangan nenekku, hingga banyak hal yang aku katakan aku tak menyukainya

Aku tak baik dalam hal bersyukur. aku terlalu mudah berkata lelah dan aku rasakan

aku benar-benar berada di titik aku menyedihkan

aku sempat berpikir aku orang yang jahat

sepertinya aku memang orang jahat

dan pantas karena dosaku ini aku menderita rasa sakit ini

aku belajar sabar sampai memang dosaku terhapus dengan semua rasa sakit ini

Aku meyakini itu, Allah Maha Baik, Dia tak akan menyia-nyiakan hambanya

Dia tidak akan membuat hambanya menderita dan kesusahan.

Allah Maha melihat, tak akan terlewatkan satu tetes tangisanku ini dari perhatianNya

tak akan terlewatkan rasa sakit yang menggores dalam luka hati ini.

aku cukup diam dan tersenyum

meski banyak hal yang sedang berkecamuk di dalam hati dan pikiranku

aku diam tapi Allah tahu apapun tentangku

aku diam tapi aku yakin Allah memperhatikanku.

aku diam dan cukup bersyukur karena itu.

Allah baik dan akan selalu baik.

Kata terakhir cukup Allah saja.