Arsip Kategori: masakan

Gulai Belut Suku Batin Merangin

khazanah kuliner nusantara
khazanah kuliner nusantara “belut yang dibaluri bumbu gulai _Gulai Belut khas Suku Batin Merangin Jambi”

Mari makan belut. Ajakan ini tidaklah berlebihan untuk kalian pecinta masakan nusantara karena sajian belut kali ini sangat lezat. Kaya akan bumbu dan rasa pedas khas dari cabe kampung. Dan tentunya tak diragukan lagi gizi yang terkandung di dalamnya. Bahkan belut diyakini dapat mencerdaskan anak-anak.

Beberapa orang mungkin enggan mengkonsumsi belut karena bentuknya yang menyerupai ular dan kulitnya licin seperti cacing serta bau amis tubuhnya. Tapi Suku Batin Kabupaten Merangin Jambi menjadikan belut menjadi bahan masakan yang paling diminati dan bahkan menjadi salah satu sajian yang ada di acara pernikahan Suku Batin dan acara adat lainnya.

Gulai Belut Suku Batin Merangin memiliki cita rasa gurih dari santan kelapa, pedas dari cabe kampung yang jumlahnya sangat banyak dan makin lezat dengan sensasi sayuran pakis yang lembut. Dan tentunya kandungan protein yang terkandung di dalam belut menjadikan gulai belut menjadi salah satu kuliner nusantara yang bergizi tinggi dan sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia yang menyukai masakan yang kaya akan cita rasa.

Dalam pengolahannya Suku Batin memiliki teknik tersendiri untuk membuat belut menjadi tidak amis. Mereka terbiasa menarik serat putih yang ada diantara tulang punggung belut. Mereka menyebutnya dengan istilah benang karena ukurannya sebesar benang dan berwarna putih. Pertama-tama potong kepala belut lalu tarik benang dari punggung belut yang berjumlah dua helai baru kemudian belut dipotong kecil-kecil. Mereka meyakini menghilangkan serat putih dipunggung belut akan menghilangkan bau amis belut.

Bumbu yang digunakan untuk membuat gulai belut juga sangat banyak. Mari simak sedikit resepnya di bawah ini:

Bahan:

Belut 1 kg

Cabe rawit kampung 2 canting haluskan

Pakis 2 ikat

Santan kental (kelapa usia sedang) 1,5 liter – 2 liter

Bumbu:

Daun salam, daun ruku-ruku, serai, ampas sangrai, asam jawa, bawang merah diiris, kunyit haluskan, lengkuas haluskan, garam.

Cara memasak:

  1. Masukkan santan kental kedalam kuali,
  2. Masukkan cabe rawit, kunyit, lengkuas, daun salam, daun ruku-ruku, serai, ampas sangrai, bawang merah, belut,
  3. Panaskan di atas kompor sambil diaduk-aduk, setelah mendidih masukkan daun pakis, tambahkan garam,
  4. Hidangkan bersama nasi hangat.

Nah, inilah sedikit ulasan mengenai gulai belut khas Suku Batin Merangin. Bagi para penyuka rasa pedas resep gulai belut ini bisa jadi pilihan untuk dicoba. So nyammi… :)!

abcd433e97b754d6f71eef71f31b631e


Iklan

Di Beri Gak Tanggung-Tanggung

Kemarin malam aku telah berjanji pada kucingku Mui akan membeli ikan untuk  menu hari ini. Aku kasihan Mui sepertinya sudah bosan dengan sozzis yang aku berikan padanya  2 hari berturut-turut . Hingga saat melihat sozzis pun Mui tak heran.  Tapi apa mau dikata sebagai anak kost yang tingkat kepraktisannya tinggi, aku masih berteguh hati memberinya sozzis. Hingga akhirnya aku berjanji untuk memasak hari ini.

 

Aku bangun dengan tak tahu planning apa yang aku harus kerjakan hari ini. Kejadian kemarin lusa telah merontokkan banyak semangatku untuk bertaruh nasib. Kabar baiknya aku telah di ACC oleh dosenku dan proposalku siap untuk aku seminarkan. Saat akan mendaftar untuk seminar, kabar pahit kembali menyapa, ya… aku harus bersabar hingga bulan Maret mendatang.  Aku sendiri masih harus memahami proposalku sehingga mungkin  Allah memberiku waktu untuk belajar lagi, hingga aku siap dengan semua kemungkinan pertanyaan yang akan ditanyakan oleh pengujiku. Sebelumnya aku bertaruh untuk skripsiku dengan mengabarkan kepada ibuku bahwa aku akan wisuda bulan April mendatang.  Hal yang sangat tak berperasaan memang, menggadaikan keinginan besar ibuku  untuk melihat putri satu-satunya wisuda. Tapi itulah caraku membangunkan semangat juangku, karena terkadang aku bingung saat ditanya mengapa ingin lekas-lekas wisuda, toh nantinya hanya akan menambah jumlah pengangguran di Indonesia tercinta….  Dan bisa ditebak aku akan lebih mengurusi proyek-proyek yang bersifat komersil dibanding harus berjibaku dengan urusan skripsi.  Cerita skripsiannya ntar ada momentnya…. Kalau nanti terfikirkan. Skripsi is just not about  writting but  an adventure  in different  live.  A k a Complicated….

 

Kembali ke ceritaku, tadi pagi aku baru beranjak keluar kamar ketika temanku datang untuk mengeprint surat-surat penelitian (lagi-lagi tentang skripsi). Aku tinggalkan dia bersama printer dan laptopku di dalam kamar, sedangkan aku pergi mandi, merendam pakaian, dan kemudian belanja ikan, cabe, dan minyak. Saat sedang menyiangi ikan, aksi rebut-rebutan ikan antara aku dan mui tak terelakkan lagi. Aku cepat-cepat menyiangi ikan, lalu sembari itu aku  memberikan jeroan ikan (isi perut ikan) kepada mui. Dan hal ini aku sangat sesali, karena mui tiba-tiba sakit malam ini dan kemungkinan besar karena makan ikan yang belum dimasak.

 

Aku memotong ikan menjadi  masing-masing tiga bagian dari dua ikan yang aku beli, jadi seluruhnya ada 6 potong, 2 potong bagian ekor, 2 potong bagian perut, 2 potong bagian kepala.  Aku sisihkan bagian kepala untuk mui. Selebihnya aku sambal. Cabe rawit banci yang aku beli setengah ons aku tumbuk hanya aku sisihkan beberapa  buah saja dengan anggapan akan bisa aku gunakan nanti jika aku ingin makan mie rebus. Aku masak tanpa aku cicip, aku tau temanku tak suka pedas maka aku putuskan menambahkan lebih banyak gula untuk sambalku kali ini.

 

 Adzan dzuhur berkumandang, aku  mengambil air wudhu dan kemudian shalat. Aku dapati temanku sedang terbaring di lantai berkasur tipis dan berbantal boneka biru milikku, dia sedang menahan rasa sakit diperutnya. Setelah selesai shalat aku bangunkan temanku untuk makan terlebih dahulu sebelum dia pergi ke kampus untuk mengawas ujian.  Aku perhatikan cara dia menikmati masakanku, tidak seperti saat aku memasak sarden beberapa hari yang lalu. Aku tanyakan kepadanya bagaimana rasanya sebelumnya aku member itahunya bahwa aku menambahkan ekstra gula kali ini karena pertimbangan yang aku gunakan cabe rawit. Dan jawabannya “manis”. Cabe rawitnya tidak pedas rupanya, dan  setelah aku cicipi masakanku malam ini. Aku juga bisa simpulkan bahwa kurang garam, tapi aku tidak sepakat kalau sambal ikan yang aku buat rasanya manis.

 

Beralih dari celotehanku tentang masakan ala chef dadakan tadi pagi. Ada hal yang paling urgent yang aku ingin ceritakan.  Aku teringat dengan faedah sedekah, dan aku rasa aku barusan mengalaminya..  Hal ini bukan bertujuan untuk membesar-besarkan, atau ingin memperlihatkan betapa mulianya aku. Tidak !.  Aku memang bukan orang baik, tapi untuk membuat cerita ini alasan untuk menjurus  aku seorang yang mulia juga tidak beralasan.  Aku hanya ingin membagikan apa yang barusan aku alami dan yang aku yakini sebagai pemberian yang gak tanggung-tanggung.  Malam ini saat aku sibuk dengan mengeprint  file-file dan mengumpulkannya. Tiba-tiba ibu kos memanggilku  dan memberiku nasi serta lauk yang sangat banyak untuk ukuran satu orang. Ibu kos ku bilang untuk besok-besok lagi, sambil mengingatkanku agar memanaskannya terlebih dahulu. Aku turuti pesan dari ibu kosku, aku memanaskan gulai ayam, dan sambal tempe diatas kompor, untuk pecal aku makan malam ini meskipun  tidak habis.  Sebab pecal sifatnya mudah basi dan tak bisa disimpan untuk esok hari.

 

Nah benang merah dari semua kejadian yang aku alami hari ini adalah bahwasannya jangan pernah enggan untuk berbagi selagi kita bisa bagi, contohnya tadi sambal yang rasanya gak sehebat masakan bintang 5 dan selagi janji harus benar –benar di tepati meskipun kepada binatang sekalipun. Allah maha melihat dan maha pemurah.  Maka berbagilah selagi kita bisa berbagi. wassalam