cerpen

FATAMORGANA

Ketika aku berlari dia ikut berlari aku berhenti dia berhenti. Aku menoleh tak ada seorangpun berada di belakangku. Aku terdiam sejenak menarik nafas menganggap semua yang telah terjadi hanya sebuah ilusi belakang. Setelah itu aku lanjutkan perjalananku aku berusaha untuk menepis perasaan bahwa ada yang mengikutiku di belakangku. Usahaku ini membuat aku jadi tak yakin lagi setelah sekian lama gerakan , suara langkah , serta angin yang menyampaikan ritme nafas yang sangat bisa aku dengar dengan telingaku. Berulang kali aku berbalik kebelakang tapi aku tak menemukan seseorangpun aku pun tak menemukan  tempat yang bisa kucurigai untuk menemukan seseorang itu. Akhirnya aku putuskan untuk berjalan dengan cara mundur. Ini yang aku pikir bisa menghilangkan kecurigaan dan rasa penasaranku. Aku melangkah, pandanganku tetap waspada kearah depan namun kini langkahku mundur. Dengan harapan aku bisa berhenti berhayal dan sadar bahwa kini aku sendiri.srek…. Srekkkkk…. Aku mulai melangkah aku diam. Aku melangkah kemudian berhenti dan diam.

”Kenapa kau ikuti aku, kenapa kau tak biarkan aku sendiri. Aku tak akan bisa menikmati waktu privasiku jika kau selalu ada di dekatku. Bisakah kau menjauh dariku untuk sekian waktu saja. Pergilah temukan hal-hal yang baru diluar sana carilah apa yang kau sukai. Dan biarkan aku tuk menikmati sekian waktu itu sendiri. Aku ingin juga sendiri tanpa ada yang selalu memperhatikanku, mengikuti bahkan ikut nimbrung semua aktivitasku”.

Hening tak ada suara pun yang dapat didengar. Angin tak ada sepoi menyapa. Gerah pun tak terasa. Dimana ini, semua sama, semua tak memberi stimulus maupun reaksi. Ada masalah otak atau saraf tepi tak dapat berfungsi. Signal elektrik tak menjalari aukson, aukson sepi. Hampa tak ada oksigen tak ada gaya tarik bumi karna aku tak menapaki bumi. Terbang tapi tak dapat berpindah, beku seperti batu es. Oh… dimana sebenarnya ini.

“ Apa kau bertanya ? inilah kamu tanpaku. Kau bahkan tak dapat mengenali dirimu sendiri. Kamu laksana robot tanpa prosesor , dirimu ada tapi tak dapat melakuakan sesuatu pun. Saya adalah apa yang akan kau lakuakan dimasa yang akan datang. Jadi jangan kamu usir saya dari hidupmu. Jika kamu lelah dengan kehadiranku tak usah kamu hiraukan tapi biarlah saya selalu menjadi pemerhatimu yang selalu memanggil dan menegurmu.”

Hidup tak ada yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Dalam menjalani hidup waktu demi waktu terlewati dengan semua pelajaran yang bergulir sesuai apa yang dibutuhkan makhluk hidup. Seekor burung tak akan selalu bersama induknya dalam sarang. Waktu mengantarkannya untuk terbang mencari kehidupan yang dia punya. Waktu dan semua yang ada disampingnya telah menguatkan kepaknya untuk dapat terbang menembus udara, mengejar matahari, atau berlomba dengan angin. Waktu tak kan pernah sama. Waktu ini adalah saat ini dan waktu nanti adalah nanti. Saat ini ketika kita dapat mulai tertatih berjalan dengan bantuan dinding-dinding untuk berpegangan adalah hal kita peroleh saat ini. Jalan tegap bak paskibra berawal dari saat ini, jalan berlenggok bak pragawati juga berawal dari saat ini. Tak ada paskibra yang berjalan tertatih dengan bantuan dinding ketika mereka mengibarkan bendera. Disana saya berperan. Atau nanti ketika jalan yang harus ditempuh tak hanya dengan dua kaki melainkan butuh penompang sebuah tongkat dengan kait berbentuk kepala naga . Inilah peran saya. Saya bukan dinding-dinding tempat berpegangan atau tongkat dengan kait kepala naga. Saya adalah apa yang telah ditinggalkan dan tak terulangi lagi dimasa akan datang. Saya yang memaksa otak untuk dapat mengambil keputusan. Saya penting karena itu saya ada.

***

Senja penuh kehangatan dengan matahari seakan meleleh di ufuk barat dengan jingga yang meranum. Seorang anak manusia yang terduduk disudut rumah dengan mata yang seakan tak memandang namun tak jua terpejam. Dengan setumpuk penghargaan dan piala berjejer disampingnya. Dimatanya seakan berputar lagi kisah-kisah lalunya bersama semua penghargaan dan piala yang ada disisinya. Piala saat itu sangat membuatnya bahagia, saat dia mendapat penghargaan menjadi seorang yang berbakti pada lingkungannya. Kalpataru itulah saat dia masih menjadi seorang pengabdi negerinya tercinta. Pengabdi yang bekerja penuh keikhlasan penuh tanggung jawab. Senyumnya seketika berubah ketika kisah itu berganti ketika dia bertemu para Bandar kayu illegal. Para manusia serakah yang telah menyogoknya menyaupinya dengan harapan dan kekayaan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Harapan dapat membahagiakan keluarga tercinta dia gantungkan seluruhnya pada touke kayu gelondong tersebut.

Dia tak pernah bermaksud menggadaikan seluruh prinsip hidupnya pada touke kayu gelondong. Namun kesepakatan hanya tinggal kesepakatan tak ada yang dapat memegang lidah yang tak bersegel. Semua kini habis dan sampai suatu waktu di penghujung desember hujan deras melanda tempatnya. Banjir bandang memporak-porandakan rumah dan segala isinya temasuk orang-orang yang terkasihnya harus menjadi korban. Korban akibat sifat hedonisme dan apatis dari para manusia rakus .

Mata berkaca-kaca dengan perasaan sesak dalam dada selalu membuatnya lemah dan menyalahkan semua yang terjadi adalah ulahnya. Bayang-bayang masa lalu seakan menjadi batu karang dalam hatinya untuk meraih cahaya. Hatinya gelap tanpa pelita tanpa lentera yang menyinari. Saat semua bayang masa lalunya datang saat itulah dia berbantah hati. Bayang-bayang selalu ada kala ada sinar. Tapi kini bayang-bayang itu telah bersatu dengan raga tak dapat terpisah.

“ bang tak usahlah abang ikut-ikut touke itu, biarlah bang! Tak usah kau menjadi pahlawan mereka itu, mereka hanya memanfaatkan abang. Mereka tak akan bisa membalok kalau abang tak ikut. Karena pasti para kepala adat akan mencambuk atau mendapat petuah dari tempat itu. Cukuplah bang seperti ini, yang penting anak tercukupi. Harta kita bang, apa yang kita makan habis, apa yang kita pakai rusak dan apa yang kita telah sedekahkan ke orang. Tidaklah pula rumah atau  mobil mewah yang dijanjikan touke itu kepada abang, janji bisa jadi hanya manis dibibir saja bang. Elok pula kau perhatikan keluargamu seperti dulu. Anak-anak jadi tak bisa lama lagi bersama denganmu bang. Mereka selalu bertanya kemana abang, abang kalau pergi hingga sebulan baru balik.”

“ abang bukan nak maksud tak hiraukan keluarga. Setiap orang punya harapan dan keinginan abang hanya ingin buat keluarga kita bahagia. Abang juga telah berjanji pada diri abang untuk membuat kehidupan kita meningkat. Usaha itu perlu nanti hasilnya biarlah yang Maha memberi yang atur. Abang juga tak sebegitu bernafsu untuk rumah dan mobil mewah itu. Tapi abang butuh ada disana karena abang bertanggung jawab juga disana. Kepala adat juga memberi amanah itu pada abang. Tapi touke sekarang sering membelot dengan kesepakatan yang telah dibuat didepan kepala adat. Abang jadi khawatir tapi touke selalu bilang kepala adat telah memberi izin.”

Cuplikan perbincangan terakhir dengan istri terngiang menambah perih hati. Menambah deretan bayangan kelam dalam dirinya. Bantah-berbantah dalam hati seperti sebuah rutinitas dalam hidupnya. Diam namun sibuk dalam hati. Diam namun lelah berpersepsi. Diam namun seribu kata terulangi. Diam namun sejuta aktivitas terlewati.

Dialah yang hidup sebatang kara dirumah sederhana tanpa kawan. Merenungi nasib yang tak pernah berakhir. Namun bayang itu membuatnya sadar betapa dia sangat membuat hidupnya sengsara. Malam ini dia bertekad pergi kesuatu tempat dimana ia dapat bangkit. Karena tak ada gunanya diam merenungi nasib diri yang tak akan pernah habis. Bergegas menyongsong matahari pagi esok dengan sejuta harapan baru. Pergi dengan membawa asa dan tekad untuk berubah jadi ornag yang lebih baik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s