Memahami arti kehilangan

Sabtu 5 november 2016 selepas subuh di rumah sakit umum bulian mbah (nenek) ku menghembuskan nafas terakhir nya. Duka meliputi keluarga besarku tak terkecuali aku. Aku saat itu mencoba untuk bisa tegar dan pasrah. Aku menghalau hujan menuju rumahku . Aku yang sehari sebelumnya memang tak pulang ke rumah karena selepas geladi acara di kantor bupati aku menemani mbah di rumah sakit. Sesampai di rumah aku hanya memandang banyak orang di rumahku dan aku tak tau harus bagaimana. Aku yang basah kuyup karena hujan mencari baju ganti dan handuk kemudian mandi. Dan menanti mbah pulang. Ambulan berhenti di depan rumahku. Mbahku dimasukkan ke dalam rumah. Dan disiapkan untuk dimandikan. Seorang ibu paruh baya berbicara dengan sedikit tegas ” iku mbah tinggal siji2ne mandine dipangku wae ra mang ngenggo gedebok pisang”. Aku iyakan permintaannya. Itu yang hanya aku bisa lakukan untuk mbahku yang kusayang dan menyayangiku. Selamat jalan mbah, ini hanya sebuah perpisahan semata aku yakin Allah akan menyatukan kita di surgaNYA. amin.

Iklan

It ‘s about sickness

Nothing someting to do, all of stories had done and I see and I know I have sickness. I just trying to  protect my wound. I won’t to doing something wrong again. It’s so sadness. Maybe, my way to give protect myself so bad. And maybe peoples are angry about it. But please trying to know me. I just won’t my life is so hard. I choice silent and go way to still keep my wound to can be healthy. Whatever I don’t know must be? I don’t know it’s will be anything broken. In my own opinion it’s way who must be choice.

Ya Allah ini caraku, tunjukanlah jalan yang benar, karena sesungguhnya hanya Engkaulah Yang Maha Benar. Ya Allah semua milikMu semua menurut kehendakMu semua atas kuasaMu. Angkat dan hilangkan rasa sakit ini jauhkanlah dari rasa sakit ini dan gantilah dengan rasa yang indah. Engkaulah pengabul doa… kabulkanlah… amin

Kita dimana?

Ini masa yang tak sedikit.Berlarian dalam sebuah neraca dunia yang labil. Saat sebaris telah menjadi kita lalu menjadi kami, lalu kita dimana? Ya lalu kita dimana? Apakah kita orang yang tersesat atau mungkin kita lambat atau sengaja melambat. Ya kita juga tak tahu.

Ini masa yang tak sedikit tapi ini masa yang akan cukup habis dalam waktu 5 menit setelah kita. Sebuah logika membantu, sebuah keyakinan menguatkan dan sebuah harapan masih menyala. Iya. Tak perlu merinci seberapa banyak jumlah sekon yang menyapa. Cukup duduk dan damaikan hati dengan Firman-Nya. Bicaralah, yakinilah, dan biarkan berlalu. Hanya cukup duduk sejenak  dengan tunak. Meski tak setunak orang shalih yang tak nampak dipersinggahan namun kabarnya sudah banyak hadir di tujuan.

Semua cukup berbagi empati saja saat singgah jika suasana hujan biarlah sama-sama berteduh. Tak perlu menunjukkan merek mobil, motor, sepeda. Ya semua sedang dalam perjalanan apapun kondisi di perjalanan tak akan membuat tujuan yang dituju berbeda.

Ini adalah surat tersirat, ini adalah doa yang lekat, ini adalah jawaban membingungkan. Tapi ini tanya yang dalam atas semua rasa.

Ya Allah semua telah tergores, semua telah terbagi rata, semua yang Dari-Mu. Ampunkan semua kecongkaan ini juga apa yang hitam disana. Tanya yang tak diiringi ikhtiar. Tanya yang tak diiringi doa Tanya yang tak gunakan Tata krama yang sepatutnya. Ya Allah sampaikan. Ya Allah engkaulah Maha Pengabul Doa.

 

 

 

 

 

Tekong untuk Nebraska

Hallo, how are you?

Hallo, I am fine thank you

Who do you see?

I see Fajar looking at me.

“Ibu bacanya seperti apa buk? “Tunjuk fajar pada kata who di papan tulis. Fajar mengucapkan dengan pelafalan yang terdengar “wo”. Semua anak kelas sepertinya mempunyai pertanyaan yang sama. Mata mereka terfokus pada kata “who” di papan tulis. Setelah mendengarkan dan mengucapkan bersama-sama, wajah penasaran mereka tak nampak lagi.

 

 

Ternyata aku

Luar biasa aku 2 minggu ini, labil dan bahkan ekstra labil . Awal yang kurang baik untuk aku dan pekerjaan baruku di sd. Mungkin ini salah satu bentuk proses adaptasiku. Aku terlalu keras dengan banyaknya kekurangan disana sini, aku belum sadar ternyata itulah tugasku. Bukan sekedar masuk kelas, mengajar mereka supaya pandai. Lebih dari itu aku harus bisa memposisikan diri dengan kondisi tempat kerjaku dengan orang2 di dalamnya. Dan dengan tetap fokus untuk bisa memberi manfaat atas anugerah yang sudah diberi Allah kepada sesama. Sungguh aku terlalu manusiawi dan terlalu banyak salah terlalu kurang ilmu dan terlalu bukan apa-apa. Aku menulis disini karena aku meyAkini dengan menulis seperti inilah kesehatan jiwaku dan batinku stabil. Akhir-akhir ini aku terlalu frontal untuk mencak2 gak karuan. Seakan akan aku yang benar saja. Sampai pernah punya inisiatif untuk menyerah dan lepaskan semua. Aku lupa aku disana bukan karena aku hebat tapi karena Allah kasih kesempatan besar untukku untuk bisa berbagi dan untukku terus belajar ilmu Allah yang luas.

Wahai diri ini hanya tantangan kecil,kecil sekecil dirimu di dalam semesta alam ini. Wahai hati kendalikan rasa itu hati itu hanya titipan. Gunakan sebaik mungkin untuk kebaikan sebaik Dia yang memberikan. Wahai waktu titih aku untuk bertemu kata menyenangkan disana. Love everything in my live…. love for you  who will sending for me…. i am still waiting you. The best love for You who always keep the best love for me every time. Allah…

Lepaskan dan biar tak berasa

Ini lelahku

Yang tak tahu harus berbuat apa

tapi setidaknya semua memberi ajar, memapah diri, meniti hati untuk memahami arti hidup.

Tak bermaksud untuk berputus asa, atau berkeluh kesah. Meskipun tampaknya nyata. Tapi jangan ambil apapun dari manusia.

Lelah ini biar jadi cara bersabar

Bukan karena aku benar hanya saja ini tak berkata benar atau salah.

Aku lelah dan aku pilih bersabar dengan diamku. Aku yakin semua akan berakhir jika tak sekarang kematian jadi caranya.

Ya Allah aku tak tahu apa yang terbaik untukku. Aku hamba yang lemah, yang hati ini penuh benalu pengisap. Kini hatiku kebas tak berasa. Semua yang aku pikirkan bisa jadi cara yang baik tak bisa baik pada nyatanya. Harapan besarku salah. Semua sudah jelas dan kini aku lepaskan.

Aku pasrahkan semua padamu Ya Allah, ampunan-Mu sebuah harapan terbesarku, bimbing hamba untuk terus bertobat pada-Mu. Hanya pada-Mu aku meminta  dan meminta pertolongan.

Ini lelahku

Aku lepaskan dan biar tak berasa

Biar hati itu terisolir

Tersimpan rapi di sisi-Mu

Itu milik-Mu Ya Allah

 

 

 

Mempeh Umah

Paste a Video URL Suatu tradisi dari dahulu kala yang dilakukan oleh masyarakat Etnis Batin di Dusun Baru Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Jika ada seseorang yang terkena musibah berupa luka pada tubuhnya akibat kecelakaan atau terkena benda tajam maka tradisi ini dilakukan. Tradisi ini diawali oleh persiapan pembuatan makanan yang wajib dihidangkan yaitu bubur putih (bubur tepung beras yang rasanya manis), kemudian mempersiapkan serabut kelapa, beras dan kunyit. Prosesinya sendiri dimulai oleh seorang tua tengganai yang menghampiri rumah pemilik luka, mengetuknya dengan keras sambil menyuruh tuan rumah keluar,kemudian dengan para tamu (tetangga) melempar rumah dengan serabut kelapa, hingga yang punya rumah keluar, dalam hal ini diwakili pula oleh seorang tua tengganai yang keluar dengan membawa tongkat kemudian menanyakan apa maksud kedatangannya lalu mempersilahkan semua tamu masuk rumah. Di dalam rumah orang yang terkena luka duduk dan kemudian setiap tamu mengunyah beras dan kunyit lalu disemburkan pada orang yang terkena luka. Lalu setelah itu para tamu makan bubur putih yang telah disediakan. Tradisi ini dilakukan dengan harapan agar pemilik luka lekas sembuh dan tidak akan lagi terkena musibah. Nah… Khasanah Budaya Indonesia ternyata penuh keunikan tersendiri bukan, perlu diketahui bahwa kata mempeh berarti “melempar” dan rumah berarti “rumah”.